
Sudah berkali-kali Devano membunyikan bel apartemen Salwa tapi tak kunjung ada jawaban dari dalam.
“Tuan, apa anda mencari nona Salwa?” tanya penjaga apartemen.
“Iya benar tuan, apa anda melihatnya?” tanya Devano.
“Tadi nona Salwa keluar dijemput oleh temannya.” Jawab penjaga apartemen.
“Temannya?” tanya Devano bingung. “Apa tuan tahu kemana mereka pergi?” tanya Devano.
“Saya kurang tahu tuan, tapi sepertinya nona Salwa sangat akrab dengan laki-laki itu.” Ucap penjaga apartemen.
“Laki-laki? Apa temannya itu laki-laki?” tanya Devano kaget.
Penjaga apartemen itu hanya mengangguk, Devano pun segera pergi begitu mengucapkan terima kasih kepada penjaga apartemen untuk mencari Salwa.
Di dalam mobil dia terus menghubungi Salwa namun sayang hanya suara operator yang menjawabnya.
“Salwa kau kemana?” teriak Devano memukul stir mobil.
“Halo, apa kau sudah menemukan letaknya?” tanya Devano kepada seseorang.
“Yah, dia saat ini sedang ada di hotel A.” jawabnya.
Devano pun segera melaju menuju hotel A dengan kecepatan diatas rata-rata.
***
“Hahahhaa,, kau sangat lucu Ken.” Ucap Salwa sambil tertawa.
“Ah, kau bisa aja Wa.” Jawab Keenan.
“Terus bagaimana dengan gadis itu?” tanya Salwa.
“Tentu saja aku meninggalkannya. Dia itu sangat terobsesi denganku.” Jawab Keenan.
“Ternyata kau sangat kejam yaa. Tapi Ken menurutku dia gadis baik.” ucap Salwa.
“Sebenarnya benar sih dia sangat baik hanya saja aku tidak suka dengan sikapnya yang selalu mengekangku.” Jawab Keenan.
“Dia hanya tidak ingin kehilanganmu Ken setidaknya kau harus memberinya kesempatan.” Ucap Salwa.
“Kau seperti sudah berpengalaman saja Wa. Kau menasehatiku tapi sampai saat ini kau belum juga menikah.” Ledek Keenan.
“Aku akan menikah. Tunggu saja undangan dariku.” Ucap Salwa.
“Are you serious?” tanya Keenan dan Salwa hanya mengangguk.
“Siapa dia? Laki-laki macam apa yang mendapatkan bunga kampus kita ini?” tanya Keenan tapi Salwa hanya mengangkat bahu.
“Apa aku gak tahu siapa yang akan menikah denganmu?” tanya Keenan dan Salwa lagi-lagi hanya mengangguk.
“Jangan katakan kau dijodohkan? Apa kata dunia nanti bunga kampus kita ini menikah karena dijodohkan?” tanya Keenan meledek.
__ADS_1
“Kau bisa terus meledekku karena aku memang dijodohkan. Puas kau?” tanya Salwa menyeruput minumannya.
“Jadi kau beneran dijodohkan? Ah, ini sepertinya akan menjadi berita menarik bahwa gadis yang digilai oleh seluruh mahasiswa bisnis di Jerman menikah karena dijodohkan? Wow, kau sangat menarik.” Ucap Keenan menyentuh pipi Salwa.
Bugh
Tapi tiba-tiba satu pukulan melayang di pipi Keenan bahkan dia jatuh dari kursinya, “Berani kau menyentuhnya?” tanya Devano sambil memegang kerah baju Keenan.
Salwa yang melihat itu kaget karena Devano tiba-tiba memukul Keenan. Devano yang sangat emosi melihat Keenan menyentuh Salwa pun ingin memberikan pukulan kepada pria itu lagi tapi ditahan oleh Salwa, “Lepaskan dia kak!” ucap Salwa.
“Dia? Kau menyuruhku melepaskannya? Dia itu sudah kurang ajar padamu” ucap Devano kembali memukul Keenan.
“Kak, lepaskan dia.” Ucap Salwa menarik Keenan.
“Apa yang sakit Ken?” tanya Salwa melihat wajah tampan temannya yang kini sudah babak belur sementara Keenan hanya meringis saat Salwa menyentuh wajahnya. Devano yang melihat itu ingin rasanya dia menghabisi pria itu.
“Ayo kita ke rumah sakit.” Ajak Salwa segera membawa Keenan dari restoran hotel itu. Devano yang melihat itu hanya bisa menghela nafas lalu dia pun mengikuti Salwa dari belakang sambil membawakan tasnya Salwa.
Salwa pun segera membawa Keenan ke rumah sakit dan Devano mengikutinya dari belakang.
***
“Bagaimana keadaannya dokter?” tanya Salwa.
“Dia baik-baik saja, kami sudah memberikan obat untuknya.”
“Terima kasih dokter.” Ucap Salwa dan segera menemani Keenan dan mengabaikan Devano yang juga ada di ruangan itu.
“Apa sakit?” tanya Salwa.
Salwa pun segera keluar dari ruangan Keenan dengan diikuti oleh Devano, “Kak, kau?” ucap Salwa menunjuk Devano.
“Apa salahku? Dia pantas mendapatkannya.” Ucap Devano cuek.
“Kak kenapa kau memukulnya?” tanya Salwa tajam.
Devano yang melihat itu menelan ludahnya kasar, “Ya karena dia menyentuhmu.” Ucap Devano.
“Ouh God, Kak dia itu temanku, sahabatku di Jerman. Dia memang biasa seperti itu kami sering bercanda.” Ucap Salwa.
Devano kini menyadari kesalahannya karena memukul orang yang tidak bersalah tapi entah kenapa emosi Devano langsung meledak begitu melihat Salwa bersama pria lain.
“Aku minta maaf, aku gak tahu dia sahabatmu. Tapi bagaimana dia bisa disini?” tanya Devano.
“Dia itu seorang dosen sekarang dan saat ini dia melakukan perjalanan kesini. Dan jika kakak merasa bersalah maka minta maaflah padanya karena dia yang kau pukul. Makanya lain kali itu jangan asal memukul orang. Salahkan jadinya?” ucap Salwa.
“Itu juga karena kau,,” ucap Devano terpotong.
“Karena aku? Emang kenapa aku?” tanya Salwa.
“Ka-karena kakakmu menyuruhku untuk menjagamu sebelum kau pulang ke Indonesia. Jadi aku hanya menjalankan tugasku.” Ucap Devano mencari alasan.
“Ouh,, jadi hanya karena itu?” tanya Salwa kecewa karena dia berpikir bahwa Devano melakukan itu karena memang mengkhawatirkannya.
__ADS_1
“Ma-maksudku bukan begitu,,” ucap Devano yang melihat Salwa sedih dan segera masuk kembali ke ruang rawat Keenan.
“Ahh,, aku harus bagaimana Salwa?” teriak Devano frustasi.
Sementara didalam entah kenapa air mata Salwa jatuh, “Kau kenapa Salwa, kenapa kau menangis. Bukankah dia memang hanya menganggapmu seperti itu.” Gumam Salwa sambil menghapus air mata di pipinya.
Keenan yang dari tadi hanya pura-pura tidur mendengar perkataan Salwa. Sekarang dia mengerti kenapa Devano memukulnya karena pria itu cemburu kepadanya hanya saja pria itu tidak menyadari cintanya.
***
“Sayang, kau sedang apa?” tanya Mami Sinta yang melihat Freya sedang ada didapur.
“Mih, Reya hanya membuat ini. Reya sangat ingin memakannya.” Jawab Freya.
“Kan bisa sayang mereka yang membuatkannya. Kenapa kalian membiarkan dia memasak sendiri?” tanya Mami Sinta menatap para asisten rumah tangganya tajam.
“Mih, jangan marahi mereka. Mereka sudah melarangku tapi aku yang memaksa. Mih aku ingin makan makanan buatanku sendiri. Jadi aku memasaknya.” Ucap Freya.
“Ouh God. Sayang kau itu sedang hamil, mami tidak ingin kau kenapa-kenapa. Kau bisa memakan apapun tapi kau tidak boleh memasak. Kau bisa meminta itu kepada mereka.” Ucap Mami Sinta.
“Tapi mih.” Ucap Freya.
“Tidak ada tapi-tapian. Pokoknya kau dilarang ke dapur. Bibi lanjutkan pekerjaannya.” Ucap Mami Sinta segera membawa Freya keluar dari dapur.
Freya pun hanya bisa mengikuti ibu mertuanya itu karena Mami Sinta itu sangat over perotektif terhadap dirinya.
“Ada apa ini mih?” tanya Papi William.
“Tuh pih menantumu ini pergi ke dapur hanya untuk sebuah kue.” Lapor Mami Sinta.
“Mih, Reya sangat menyukai itu. Reya juga sangat senang memasak. Reya bosan hanya dikamar.” Ucap Freya.
“Nak, kami hanya tidak ingin kau kenapa-kenapa. Kau sedang hamil.” Ucap Papi William.
“Tapi Pih Reya hanya,,” ucap Freya.
“Sayang mami sangat menyayangimu. Kamu itu putri kami.” Ucap Mami Sinta lembut.
Freya pun akhirnya luluh, “Baiklah Reya tidak akan masuk dapur lagi.” Ucap Freya.
Mami Sinta dan Papi William pun tersenyum mendengarnya.
*
*
Happy reading guys !!😊
Jangan lupa like, komen, vote, dan favoritin,
🙏🏻😊
Mohon maaf jika ada typo guys.🙏🏻😉
__ADS_1
Mohon mampir di novel author yang berjudul “Takdir Hidup Zia”. Tinggalkan jejak yaa, author tunggu !! 🙏🏻🥺