Di Kala Cinta Menyapa

Di Kala Cinta Menyapa
Season 2 : Episode 74


__ADS_3

Kini Devano dan Salwa sudah berada di apartemen-nya Salwa. Dia ikut dengan Salwa mungkin karena rasa rindunya kepada gadis itu.


“Kakak ada kerjaan disini?” tanya Salwa begitu dia menghidangkan jus kepada Devano.


“Hmm,, Iya. Aku mewakili kakakmu untuk bisnis dengan tuan Smith.” Jawab Devano sambil meminum minumannya serta bicara informal kepada Salwa.


“Ouh.” Jawab Salwa sambil mengangguk-ngangguk.


“Kenapa kau mengangguk-ngangguk?” tanya Devano.


“Ee,, gak ada kok.” ucap Salwa.


“Ah, baiklah jika begitu. Saya pergi dulu. Terima kasih atas minumannya.” Ucap Devano berdiri.


“Kak!” panggil Salwa ragu.


Devano yang sudah sampai di pintu keluar apartemen pun menengok kembali sambil tersenyum, “Saya seminggu disini! Kita akan ketemu lagi tapi sekarang sudah malam jadi saya harus ke hotel dan juga tidak baik bagi perempuan dan laki-laki berada dalam satu ruangan. Saya pamit yaa.” Ucap Devano sambil tersenyum kepada Salwa.


Salwa pun terdiam mendengar perkataan Devano karena sejujurnya dia juga ingin menanyakan itu tapi Devano sudah menjawabnya sebelum dia berani bertanya. Saking dia terdiam tidak menyadari bahwa Devano sudah pergi.


***


Keesokan paginya.


Ting nong ting nong


“Siapa sih?” ucap Salwa dari dapur karena dia saat ini sedang memasak untuk sarapan.


“Kak Vano?” ucap Salwa kaget begitu melihat siapa tamu yang ada di pintu apartemen-nya pagi-pagi sekali.


Lagi-lagi Salwa terpesona dengan ketampanan laki-laki itu. Devano memakai setelan jas lengkap dan rambutnya ditata dengan rapi, dia sudah terlihat seperti CEO.


Devano pun segera masuk ke apartemen Salwa begitu Salwa membukanya meninggalkan Salwa berdiri disana.


“Wow, wangi. Apa kamu sedang memasak?” tanya Devano kepada Salwa.


“Eh, iya kak. Aku sedang memasak.” Jawab Salwa berlari menuju dapur apartemennya setelah dia sadar.


Devano yang melihat itu hanya tersenyum karena hal itu membuktikan bahwa dia masih memiliki harapan.


***


Kurang lebih setengah jam akhirnya Salwa selesai membuat sarapan.


“Kak Vano ayo ikut sarapan! Maaf yaa jika nanti masakanku gak lezat. Aku masih belajar. Hehehe.” Ajak Salwa sambil cengesan.


Devano yang sedang duduk di sofa ruang tamu pun segera menuju meja makan, “Wow, ini pasti lezat. Penampilannya saja sudah menarik.” Ucap Devano segera duduk.

__ADS_1


“Kak Vano mau aku ambilkan apa?” tanya Salwa.


“Terserah kau saja.” Jawab Devano.


Salwa pun akhirnya mengambilkan makanan Devano. Setelah itu dia mengambil untuk dirinya sendiri. Devano yang dilayani oleh Salwa pun hanya tersenyum dan membayangkan ternyata seperti ini rasanya jika memiliki istri.


Mereka pun akhirnya menikmati sarapan itu dengan nikmat. Entah kenapa masakan Salwa sesuai dengan selera lidah Devano.


“Ternyata begini rasanya memiliki istri. Masakanmu sangat nikmat.” Puji Devano begitu dia selesai makan.


Salwa yang mendengar pujian itu hanya bisa tersenyum lalu dia pun segera memcuci piring bekas mereka makan.


***


“Kakak masih disini?” tanya Salwa kaget karena dia pikir Devano akan pergi setelah mereka sarapan.


“Aku menunggumu! Bukankah kau juga akan ada urusan dengan tuan Smith?” tanya Devano balik.


“I-itu benar sih. Tapi aku akan pergi sendiri. Kakak duluan saja.” tolak Salwa.


“Saya masih disini bukan untuk menerima penolakanmu. Jadi sana cepat bersiap-siap saya akan menunggu disini. Kita berangkat bersama.” Ucap Devano tegas.


Salwa pun mau tidak mau akhirnya pergi ke kamarnya dan bersiap-siap.


Kurang lebih 30 menit akhirnya Salwa keluar dari kamarnya dengan setelan pakaian kerjanya dan tidak lupa juga dengan hijabnya. Yah, Salwa sudah memutuskan berhijab setelah seminggu dia ada di sini yaitu dengan pakaian yang diberikan oleh Freya waktu itu. Belum ada yang tahu dia sudah memakai hijab bahkan Freya pun gak tahu karena dia tidak pernah melakukan panggilan video jika menghubungi Freya dan Devano adalah orang pertama yang mengetahui dia berhijab. Karena itulah Devano kaget saat pertama kali melihat Salwa.


Mereka pun akhirnya berangkat untuk menemui tuan Smith karena ternyata kesepakatan kerja ini antara perusahaan Aryawiguna, Stevano dan perusahaan tuan Smith sendiri.


***


“Bibi!” panggil Freya.


“Iya nyonya.” Jawab Bi Wati.


“Bi, aku ingin membuat ini tapi bahannya kurang, bisa gak bibi membantuku membelikannya?” pinta Freya lembut.


“Tentu nyonya. Saya akan membelikannya.” Ucap Bi Wati.


“Baik, terima kasih bi. Ohiya ini uangnya dan ini catatan bahan-bahan yang harus dibeli.” Ucap Freya sambil menyerahkan uang dan catatan kepada asisten rumah tangganya itu. Yah, Freya sudah melakukan cuti walaupun kandungannya baru masuk usia 7 bulan karena Alvino dan mertuanya sudah mewanti-wanti. Bahkan sekarang ini Freya sedang bersiap-siap untuk pindah ke rumah mertuanya karena Mami Sinta selalu menerornya dengan pertanyaan kapan pindah kesana.


Freya pun yang sudah seminggu ini melakukan cuti akhirnya mengisi waktu luangnya dengan berkreasi aneka manisan dan tentu saja manisan yang berbau coklat karena dia sangat menyukai coklat. Dia menciptakan sendiri bahannya untuk menu yang dia buat dan jika dia berhasil maka hal itu akan menjadi hidangan baru di ‘Freya’s Menu’.


***


“Halo, Assalamu’alaikum Hubby. Selamat siang!” salam Freya begitu dia tiba di ruangan suaminya. Dia pun segera masuk begitu mendengar suaminya menjawab salamnya.


“Sayang kau disini?” tanya Alvino segera menghampiri istrinya dan mengecup kening Freya.

__ADS_1


“Apa ini sayang?” tanya Alvino kaget karena melihat beberapa satpam yang membawa beberapa kardus berukuran sedang.


“Letakkan saja itu disana pak. Terima kasih atas bantuannya.” Ucap Freya lembut.


“Sama-sama nyonya.” Balas beberapa satpam itu berlalu pergi.


Alvino yang tidak mendapat jawaban dari istrinya segera mendekati kardus-kardus itu dan terciumlah bau khas masakan.


“Kamu memasak lagi?” tanya Alvino menatap istrinya yang hanya tersenyum.


“Kan hubby sudah melarang jangan kerja yang berat-berat sayang. Kamu itu lagi hamil.” Ucap Alvino.


“Maaf hubby, lagian aku bosan di apartemen jika tidak ada yang aku kerjakan tapi kau jangan khawatir bibi membantuku kok. Beneran aku tidak mengangkat apapun yang berat-berat. Suer!” ucap Freya.


“Ah, kamu memang keras kepala. Terus ini mau kita apakan makanan sebanyak ini?” tanya Alvino.


“Tentu saja untuk dibagikan kepada semua karyawanmu hubby tapi jika kau mengizinkannya karena biasanya kau tidak ingin membagi apapun dengan orang lain jika aku yang memasaknya. Jadi semua terserah padamu, makanan ini milikmu.” Ucap Freya segera duduk di sofa dan mengambil buah yang ada di sana tanpa mempedulikan Alvino yang terbengong mendengar perkataannya.


Alvino pun hanya bisa menghela nafas karena memang benar perkataan istrinya jika dia tidak rela membagi apapun dengan orang lain jika itu yang dibuat istrinya tapi ini sangat banyak bagaimana mungkin dia menghabiskannya sendiri. Maka Alvino pun segera menelpon sekretarisnya agar setiap perwakilan divisi ke ruangannya.


“Sayang itu sangat banyak.” Ucap Alvino ikut bergabung dengan istrinya yang sibuk makan buah setelah dia menyuruh karyawannya untuk membagikan makanan yang dibuat istrinya itu kepada karyawan lain termasuk para office yang membersihkan perusahaan itu pun dapat.


“Memang sengaja dibanyakin.” Jawab Freya cuek.


“Kamu mau ngerjain hubby yaa?” tanya Alvino.


“Gak kok.” jawab Freya sambil menyuapkan buah kepada suaminya.


Cup


“Hubby! Reya sedang makan.” Protes Freya karena Alvino menciumnya.


“Itu hukuman untukmu!” ucap Alvino segera mengambil paket makan siangnya.


Akhirnya mereka pun makan siang bersama. Freya pun ikut makan lagi bersama suaminya karena Alvino tidak ingin makan sendiri.


*


*


Happy reading guys !!😊


Jangan lupa like, komen, vote, dan favoritin.🙏🏻


Mohon maaf jika ada typo,,🥺🙏🏻


Mampir dong di novel author “Takdir Hidup Zia”. Jangan lupa tinggalkan jejak yaa! Author tunggu.🙏🏻😊

__ADS_1


__ADS_2