
Seperti dugaan Hanna, akhirnya kini dia sudah melahirkan seorang putra yang sangat mirip dengan wajah Adelio.
“Han, selamat yaa! Akhirnya kamu sudah resmi menjadi ibu.” ucap Freya memeluk Hanna.
“Terima kasih Re. kamu ingat kan janji kita?” tanya Hanna.
“Janji apa’an?” tanya Alvino dan Adelio bersamaan menatap istri mereka masing-masing.
Hanna dan Freya yang ditatap oleh suami mereka hanya bisa menyengir, “Itu loh hubby, kami berencana menjodohkan anak kami jika nanti aku melahirkan anak perempuan.” Ucap Freya.
“Iya kak. Anak kita kan laki-laki jadi aku ingin menjodohkannya dengan anak Reya nanti.” Ucap Hanna.
“Kalian ingin menjodohkan anak kecil? Bahkan anak nona dan tuan saja belum lahir dan kalian sudah berencana menjodohkan mereka? Belum tentu juga anak yang dikandung nyonya perempuan.” Ucap Adelio.
“Hmm,, aku sih setuju-setuju aja jika memang anak kami nanti perempuan.” Ucap Alvino.
“Ah, kamu ada-ada aja tuan. Kamu juga menyetujui rencana gila mereka?” tanya Adelio.
“Hey, apa kamu tidak menyetujuinya? Apa kamu tidak menyukai putriku?” tanya Alvino tajam kepada mantan asistennya itu.
“Bukan begitu tuan tapi ini,,” ucap Adelio.
“Sudahlah kenapa kalian malah ribut? Belum tentu juga anakku perempuan karena aku merasa bahwa anak yang aku kandung ini seorang baby boy.” Ucap Freya.
“Yah, jika tidak perempuan maka akan aku jodohkan dengan anak gadismu manapun. Gak apa-apa kan walau beda beberapa tahun.” Ucap Hanna.
“No, tidak untuk anak keduaku ataupun anakku yang lain. Aku hanya menyetujui perjodohan ini hanya untuk anak pertamaku tidak yang lain. ” ucap Freya menolak.
“Re!” panggil Hanna.
“Gak, aku gak setuju karena aku ingin putriku nanti akan memilih kehidupannya sendiri.” Ucap Freya.
Kini Alvino dan Adelio yang heran menatap istri mereka yang menjadi berdebat.
***
“Sayang, emang kamu ingin memiliki anak berapa?” tanya Alvino saat mereka sudah berbaring di ranjang dengan Freya tidur berbantalkan lengan Alvino sambil membaca sebuah buku teknologi.
“Kenapa nanyanya gitu?” tanya Freya.
“Ya gak. Tadi kan kamu mengatakan kamu tidak ingin menjodohkan anak keduamu atau pun anakmu yang lain. Itu berarti,,” ucap Alvino tersenyum tidak melanjutkan perkataannya.
“Reya tidak membuat target berapa anak yang harus dimiliki. Sedikasinya Allah saja tapi Reya tidak ingin hanya memiliki anak satu saja karena kasihan dia tidak akan memiliki teman nanti. Reya juga ingin anak pertama Reya laki-laki agar dia nanti yang akan melindungi adik-adiknya.” Jawab Freya.
“Adik-adiknya? Itu berarti banyak dong adik-adiknya sayang. Emang kamu gak masalah punya banyak anak?” tanya Alvino.
“Gak dong, Reya sangat suka anak-anak. Hubby gak suka yaa banyak anak?” tanya Freya.
“Kata siapa gak suka? Suka kok, suka banget malah. Karena hubby tahu bagaimana rasanya hanya sendiri. Hubby gak ingin itu terjadi kepada anak hubby tapi hubby juga gak boleh egois karena yang melahirkan itu kamu sayang. Kamu yang kesusahan, kamu yang repot. Jadi hubby terserah padamu karena kau yang mengandung mereka dan melahirkan mereka. Hubby sih oke-oke aja.” Ucap Alvino.
__ADS_1
Freya hanya tersenyum dan mengecup pipi suaminya sekilas, “Yang satunya iri sayang.” Ucap Alvino.
Freya pun ingin memberikan ciuman untuk pipi Alvino yang satunya tapi Alvino justru mencium bibir Freya, “Hubby!” ucap Freya begitu Alvino melepaskan ciumannya.
“Maaf sayang. Kamu sangat cantik sayang.” Ucap Alvino segera menghujani wajah Freya dengan ciuman.
“Hubby, terima kasih yaa sudah mencintaiku sedalam itu.” Ucap Freya.
“Hubby yang harus berterimah kasih sayng karena kau mau menerima lamaran dariku, mau membuka hatimu untuk mencintaiku dan sekarang kau sedang hamil anak kita.” Ucap Alvino kembali mengecup kening istrinya.
“I Love you My Lord!” ucap Freya.
“I Love you more My Queen” balas Alvino.
***
“Vano, aku ingin membicarakan suatu hal padamu.” Ucap Alvino.
“Iya tuan.” Ucap Devano.
“Aku ingin kau mewakiliku ke Singapore menemui tuan Smith. Aku tidak bisa pergi karena istriku sedang hamil. Aku tidak ingin meninggalkan istriku. Jadi aku ingin kau yang mewakiliku kesana.” Ucap Alvino.
“Singapore tuan?” tanya Devano.
“Iya Singapore. Aku harap kau bisa mendapatkan kontrak dengan tuan Smith, aku percaya padamu. Ohiya kau berangkat seminggu lagi. Jadi kamu bisa mempersiapkan segalanya. Kamu seminggu berada disana. Kamu gak bisa menolak.” Ucap Alvino.
“Baik tuan.” Ucap Devano lalu segera berlalu dari ruangan Alvino.
Sementara Devano entah kenapa dia sangat senang dengan tugas ini sehingga dia pun gak menolak sedikitpun perintah dari tuannya itu karena jika dia ingin menolak dia bisa melakukannya tapi tidak dia lakukan.
Entah kenapa wajah Salwa segera terbayang begitu dia mendengar Singapore. Mungkin dia memang merindukannya. Yah, Devano akui dia memang merindukan gadis itu, gadis yang selalu datang hanya untuk melihatnya lalu pergi. karena kerinduan-nyalah yang membuatnya memakai setelan jas pemberian Salwa.
Devano berpikir mungkin ini bisa dia lakukan hanya untuk sekedar meredakan kerinduannya kepada sosok gadis itu sebelum gadis itu dijodohkan karena dia sudah mendengar bahwa orang tua Salwa sudah menemukan keluarga yang hendak dia jodohkan dengan putri mereka. Jadi tidak ada salahnya menemui Salwa untuk terakhir kalinya, begitu pikir Devano.
***
“Hubby, sudah melakukannya kan?” tanya Freya.
“Hmm,, sudah sayang.” Ucap Alvino
“Semoga saja kak Vano tidak membuat kesalahan.” Ucap Freya.
“Kamu gak ingin memberikan hadiah begitu untuk suamimu ini sayang karena sudah melakukan tugas berat itu?” tanya Alvino.
“Tugas berat? Hubby itu dinamakan tugas berat? Bilang aja modus.” Ucap Freya.
“Sayang! Setidak kecupan. Itu cukup kok.” ucap Alvino.
“Sudah ah, Reya mau sikat gigi dulu.” Ucap Freya.
__ADS_1
“Sayang, ayolah!” pinta Alvino.
“Suami siapa sih manja begini? Sepertinya Reya gak memiliki suami manja kaya gini deh.” Ledek Freya.
Seketika Alvino segera mencium bibir istrinya itu yang selalu saja menjadi candu untuknya, “Itu hukuman untukmu karena meledek suamimu.” Ucap Alvino mengusap bibir istrinya itu.
“Sudah kan bayarannya? Ya sudah Reya mau sikat gigi dulu.” Ucap Freya segera menuju kamar mandi yang kemudian disusul oleh Alvino.
***
“Halo, sayang!” ucap Mami Sinta.
“Halo Mih. Maaf ya mih Reya gak sempat mengunjungi mami dan papi.” Ucap Freya menyalami mertuanya itu.
“Gak apa-apa sayang. Mami mengerti kok. Ohiya bagaimana calon cucu mami? Baik-baik aja kan?” tanya Mami Sinta mengelus perut menantunya itu.
“Iya mih. Alhamdulilah dia baik-baik aja.” Ucap Freya.
“Alhamdulillah. Ohiya sayang, kapan kalian mau mengadakan syukuran 7 bulanan? Di rumah mami aja ya? Tenang aja biar mami yang urus. Please!” pinta Mami Sinta.
“I-ituu,,” ucap Freya.
“Gak boleh menolak.” potong Mami Sinta.
“Hmm,, baiklah. Terserah mami saja.” Ucap Freya.
“Okay. Jika begitu kita adakan tiga hari lagi. Mami akan menelpon Mamamu juga. Kalian terima beres aja.” Ucap Mami Sinta.
“Terima kasih mih.” Ucap Freya.
“Jangan berterima kasih sayang. Mami sangat menyayangimu. Mami sangat beruntung memiliki menantu sepertimu. Terima kasih sudah menerima putra kami sayang.” Ucap Mami Sinta.
Freya pun hanya tersenyum.
“Ohiya sayang. Setelah acara 7 bulanan, lebih baik kamu tinggal di rumah mami dan papi. Mami ingin kalian tinggal disana. Biar mami yang akan mengatakannya kepada Vino.” ucap Mami Sinta.
Mereka pun membicarakan banyak hal, mereka terlihat seperti putri dan ibunya dan tidak terlihat seperti menantu dan mertua karena Mami Sinta sangat menyayangi menantunya itu. Freya sudah dianggapnya sebagai putrinya bahkan Alvino pun merasa disingkirkan jika Freya sudah ketemu dengan maminya.
*
*
*
Happy reading guys !!😊
Jangan lupa like, komen, vote, dan favoritin.🙏🏻🙏🏻
Mohon maaf jika ada typo guys,,
__ADS_1
🙏🏻😉