
Alvino jarang di rumahnya dia mempercayakan mengurus anak-anaknya kepada orang tuanya dan juga mertuanya. Bahkan saat acara penyambutan putri kecilnya yang di lakukan secara sedarhana dia hanya hadir beberapa menit.
Anind yang yang selalu bertanya di mana Freya dan Alvino pun kemarin sudah mengetahui keadaan Freya yang sebenarnya bahkan membuat balita itu menangis hingga takut menemui adik kecilnya karena dia merasa bahwa karena dia yang menginginkan adik bunda nya harus terbaring di rumah sakit dengan alat-alat yang terpasang di tubuhnya.
Anind yang antusias akan adiknya kini menjadi takut menemui adiknya itu. Akibatnya Alvino segera menyewa seorang psikiater untuk putrinya itu karena dia tidak ingin mental putrinya itu terganggu.
“Anind ayo kita lihat adik.” Ucap Anand.
Anind menggeleng, “Gak mau kak. A-aku,,” ucapnya gugup.
Anand yang melihat itu langsung memeluk adiknya, “Jangan begitu dek. Bunda pasti akan sedih melihatmu seperti ini.” ucap Anand.
“Tapi,, i-itu semua karena Anind kak.” Ucap Anind.
Mama Najwa yang melihat cucunya itu langsung menggendongnya dan mengajaknya tidur walau harus dengan berbagai bujuk rayuan agar cucunya itu bisa tertidur.
***
__ADS_1
Sebulan berlalu, Freya tetap belum memberikan tanda-tanda dia akan segera sadar dia masih saja setia dengan tidurnya, “Sayang, sampai kapan kau akan tidur seperti ini? Apa kau tidak merindukanku?” ucap Alvino yang selalu mengajak Freya bicara.
“Sayang, aku tahu kau masih ingin tidur tapi tidakkah kau ingin melihat Azwa putri kecil kita itu?” tanya Alvino. Yah, Alvino sudah memberikan nama kepada putri kecilnya itu dengan nama Azwa Nur Zahra Putry Aryawiguna, nama yang sudah di sepakati dengan Freya sebelumnya.
“Ahh, sayang aku sudah bosan lohh melihatmu seperti ini. Apa kau tidak bosan tidur seperti ini terus?” tanya Alvino yang tetap setia mengajak Freya bicara.
Alvino memang selalu mengajak istrinya itu bicara berharap istrinya segera sadar.
***
“Aku yakin Mih. Aku sudah tidak sanggup jika hanya diam saja menunggunya sadar yang entah kapan itu.” Jawab Alvino.
“Nak, tapi kau juga baru saja melakukan operasi.” Ucap Mami Sinta.
“Operasiku ini gak seberapa Mih di banding dengannya dan aku kesini hanya meminta kalian mengizinkannya membawaku untuk berobat.” Ucap Alvino.
“Lalu bagaimana apa semuanya sudah siap?” tanya Papi William.
__ADS_1
“Semuanya sudah siap Pih, aku juga sudah membicarakan ini dengan para dokter dan di izinkan. Aku harus melakukan ini agar nanti aku tidak akan pernah menyesalinya menjadi laki-laki yang tidak bisa menyelamatkan istrinya.” Ucap Alvino.
“Baiklah jika memang kau sudah memutuskan kami hanya bisa mendukungmu. Kami harap ini yang terbaik.” Ucap Papi William.
“Pah, Mah?” panggil Alvino menatap mertuanya.
“Kami akan menyetujui apapun keputusanmu nak. Jika memang itu yang terbaik kami pasti mendukungmu.” Ucap Papa Khabir.
“Kau jangan khawatirkan anak-anak, kami pasti akan menjaga mereka.” Timpal Mama Najwa.
“Baiklah terima kasih kalian sudah menyetujui ini. Alvino akan berusaha yang terbaik untuk menyembuhkannya.” Ucap Alvino.
“Tapi nak ingatlah kau juga harus menjaga kesehatanmu. Kau juga baru saja di operasi.” Ucap Mami Sinta.
“Mami jangan khawatir aku tahu tubuhku.” Ucap Alvino lalu segera bersiap-siap kembali ke rumah sakit.
Yah, Alvino seminggu yang lalu baru saja menjalani vasektomi karena dia tidak ingin hanya sang istri yang kehilangan rahimnya dan tidak bisa memiliki anak lagi. Jika sebelumnya mereka tidak melakukan KB maka saat ini pun mereka akan melakukan KB secara bersama-sama.
__ADS_1