
Dua bulan berlalu dengan cepat, rumah tangga Alvino dan Freya pun semakin hari semakin tambah awet begitu pun dengan sahabat-sahabat mereka.
Freya yang memang sudah tidak lagi bekerja di rumah sakit dan kini tinggal mengawasi klinik yang dia bangun dua tahun lalu hanya bisa menjaga anak-anaknya di rumah karena Alvino tidak ingin istrinya itu kelelahan.
Alvino memang ingin menambah asisten rumah tangga untuk istrinya itu tapi di tolak oleh Freya jadi untuk itulah lebih baik Alvino meminta Freya tidak bekerja saja.
“Huh, kenapa harus ketemu dosen itu lagi. ” ucap Friska menghela nafasnya.
Freya yang melihat sang adik langsung saja lemas begitu tiba pun bertanya, “Ada apa dek? Kok mukamu kusut kaya belum di setrika aja.” Freya segera duduk di samping adiknya itu.
“Bagaimana tidak kusut coba jika Riska sedang kesal.” Ucap Friska.
“Emang apa yang membuat adikku ini kesal?” tanya Freya.
“Tau gak guru menyebalkan yang aku ceritakan ke kakak waktu aku SMA?” tanya Friska.
Freya pun mengingat lalu mengangguk, “Emang ada apa dengannya?” tanya Freya santai.
“Tau gak kak, aku ketemu dia lagi dan dia semakin menyebalkan sangat pelit dengan nilai. Pokoknya sangat menyebalkan ah aku membencinya.” Ucap Friska emosi.
__ADS_1
Freya yang melihat itu pun tersenyum, “Yang penting ganteng kan?” goda Freya.
“Ganteng sih iya tapi percuma jika menyebalkan.” Ucap Friska malas.
“Emang kamu di apa-in sama dia?” tanya Freya.
“Dia kan memberi tugas proposal gitu lalu harus di masukkan tiga hari kemudian. Terus adikmu ini sudah memberikannya sangat tepat waktu tapi dia justru mengoreksi proposal itu habis-habisan dan lebih menyebalkannya lagi sampai sekarang belum juga di acc sedangkan punya yang lain sudah kak padahal Riska sudah menyusunnya dengan sangat baik mana bahasa inggris pula.” Jelas Friska kesal.
“I-itu berarti masih ada yang salah dengan proposalmu dek.” Ucap Freya.
“Iya tapi dia tidak mengatakan apa yang harus di perbaiki kak sedang kalau yang lain dia jelaskan panjang kali lebar. Emang pilih kasih memang ah kenapa juga aku harus ketemu dia.” Ucap Friska.
“Iya kak.” Jawab Friska lemas.
“Sudahlah dari pada kau pusing mikirin tugasmu itu lebih baik sana kamu makan ada makanan kesukaanmu serta ada milk chocolate juga di dalam kulkas.” Ucap Freya mengalihkan pembicaraan.
Friska yang langsung mendengar itu pun berbinar, “Ah kakak memang terbaik. Kakak tahu aja moodku lagi buruk karena dosen menyebalkan itu.” Ucap Friska memeluk kakaknya lalu langsung menuju ruang makan.
***
__ADS_1
Malam harinya, saat mereka bersantai di ruang keluarga yang ada di lantai dua.
“Bunda!!” panggil Anind.
“Iya sayang?” jawab Freya.
“Kapan aku punya adik lagi tapi cewe ya bun? Azlan dan Azlen gak mau bun di ajak main boneka.” Keluh Anind sambil memainkan hijab Freya.
“Emang kakak mau punya adik lagi?” tanya Freya menatap putrinya itu.
Anind pun mengangguk lalu tersenyum, “Mau bun tapi cewe yaa.” Requesnya.
Freya pun hanya tertawa karena gemas dengan putrinya itu lalu memeluk putrinya itu dengan erat.
“By, ada yang ingin aku bicarakan?” ucap Freya saat kini dia hanya berdua dengan suaminya di kamar.
Alvino pun segera mendekati sang istri, “Ada apa?” tanya Alvino lembut lalu langsung berbaring dengan menjadikan paha istrinya itu sebagai bantal.
“Bagaimana jika aku hamil lagi?” tanya Freya menatap suaminya.
__ADS_1
“Kamu hamil lagi?” tanya Alvino kaget.