Di Kala Cinta Menyapa

Di Kala Cinta Menyapa
Season 2 : Episode 96


__ADS_3

Keesokkan harinya, “Kakak ipar, kau tega tidak mengatakan padaku bahwa kau saat ini sedang mengandung keponakanku lagi?” tanya Salwa begitu dia tiba di apartemen kakaknya itu.


Salwa segera datang begitu mengetahui bahwa keponakan gantengnya itu sedang ada di rumah Mami Sinta. Dia juga kaget dan marah karena Freya tidak mengatakan padanya bahwa dia sedang hamil saat ini tapi setelah Mami Sinta menjelaskannya dia pun akhirnya bisa menerima.


“Maaf kak!” ucap Freya sedih.


Salwa pun segera memeluk Freya, “Aku tahu bagaimana perasaanmu. Aku yakin saat ini kau pasti sedang merindukan keponakan gantengku itu.” Ucap Salwa berusaha membujuk Freya agar tidak sedih.


“Hahah,, apa sekarang kakak sudah tidak marah padaku?” tanya Freya tertawa karena dia tahu Salwa datang untuk marah padanya karena tidak memberitahukan kehamilannya kini malah membujuknya untuk tidak sedih.


“I-itu sebenarnya aku marah hanya saja aku tahu saat ini kau sedang sedih karena berpisah dengan putramu. Jadi aku tidak marah padamu, aku kesini justru ingin membantumu mengobati rindumu itu. Sebentar yaa!!” ucap Salwa lalu mengambil ponselnya dan segera menelpon Mami Sinta.


“Assalamu’alaikum nak, ada apa?” tanya Mami Sinta dari seberang begitu sambungan video call tersambung.


“Wa’akailumsalam aunty, ini aku sedang bersama kakak ipar. Dia ingin melihat putranya.” Ucap Salwa lalu segera memberikan ponselnya kepada Freya.


“Mi,,” panggil Freya.


“Lihat sayang, bundamu menelpon.” Ucap Mami Sinta sambil mengarahkan kamera ponselnya pada Anand.


Anak itu hanya tersenyum seolah-olah mengerti, Freya pun merasa terharu dengan putranya itu. Lama mereka melakukan video call. Salwa dan Mami Sinta pun setia menemani ibu dan anak itu untuk saling mengobati kerinduan padahal mereka baru berpisah belum 24 jam dan itu pun mereka masih ada di kota yang sama dan tadi pagi juga setelah bangun tidur Freya sudah melakukan video call kepada putranya itu tapi dia tetap merindukan putranya.


Freya juga sudah memeras ASI nya dan sudah di antarkan oleh Alvino saat dia ke kantor.


“Terima kasih kak!” ucap Freya begitu sambungan video call terputus.


Salwa pun hanya memeluk Freya lalu tersenyum, “Ohiya, apa kakak belum hamil?” tanya Freya melepas pelukannya dan memandang Salwa.


“Hmm,, aku gak tahu kakak ipar. Aku memang belum mengalami menstruasi sejak aku menikah, terakhir kali yaa seminggu sebelum aku menikah.” Jawab Salwa.


“Apa belum melakukan tes?” tanya Freya.

__ADS_1


Salwa menggeleng, “Aku tidak ingin berharap. Aku takut jika aku memikirkannya dan itu tidak sesuai dengan harapanku. Aku takut jika aku tidak hamil karena memang sebelum menikah siklus menstruasiku tidak lancar.” Jawab Salwa.


“Ah,, kakak. Kita harus melakukan cek agar kita mengetahuinya untuk hasilnya nanti itu biar jadi kejutan. Siapa tahu aja kau memang hamil. Ayo kita cek!” ucap Freya bersemangat.


Salwa hanya tersenyum, “Mau yaa kak?” bujuk Freya.


Salwa pun hanya bisa mengangguk, “Baiklah.” Freya pun langsung girang dan segera memeluk Salwa.


“Kalau begitu kita segera ke rumah sakit untuk memeriksanya. Reya juga ingin ke rumah sakit memeriksanya.” Ucap Freya sambil mengusap perut datarnya karena memang usia kandungannya baru 2 bulan.


“Kakak tunggu sebentar yaa. Aku ingin mandi dulu.” Ucap Freya lalu berlalu ke kamar.


Salwa pun hanya tersenyum melihat kakak iparnya itu yang terlihat seperti anak kecil jika bersikap seperti itu padahal dia akan segera memiliki anak kedua, “Aku harap kau memang sudah tumbuh disini. Lihatlah tantemu itu sangat bahagia, jangan kecewakan dia yaa. Mami juga sangat mengharapkanmu.” Ucap Salwa bicara pada perutnya sambil mengusapnya berharap bahwa dia juga sedang mengandung.


***


Singkat cerita kini mereka sudah ada di rumah sakit dan segera menuju ruangan dokter Rina. Mereka segera mendaftar dan mengambil nomor antrian. Freya memang selalu mendaftar dan mengambil antrian jika bertemu dengan dokter Rina karena baginya melakukan hal itu adalah satu hal yang indah. Untuk itulah dia tidak pernah melakukan perjanjian temu sebelumnya agar cepat dilayani. Hal itu dia lakukan dari dia mengandung Anand.


“Yana, kau juga di sini?” tanya Freya begitu mengenal siapa yang memanggilnya.


“Iya kak. Ee,, nona Salwa.” Sapa Deyana.


“Apa kau kesini ingin,,” tanya Freya sambil menatap perut istri dari pamannya itu.


Deyana pun tersenyum, “Iya kak aku ingin melakukan pemeriksaan.” Jawab Deyana.


“Apa ini pemeriksaan keduamu?” tanya Freya.


Deyana menggeleng, “Gak kak, ini pemeriksaan pertamaku. Aku sudah melakukan testpeck sebelumnya dan garis dua makanya aku dan kak Zein datang kesini setelah mendapat rekomendasi dokter dari kak Najwa.” Jawab Deyana.


“Ouh, selamat!! Apa anakku akan lahir bersama paman kecilnya nanti.” Ucap Freya tersenyum.

__ADS_1


“Sepertinya begitu.” Ucap Zein tiba-tiba setelah selesai mengambil antrian dan pendaftaran.


“Kau disini?” tanya Freya.


“Tentu saja aku harus menemani istriku melakukan cek kandungan.” Jawab Zein enteng.


“Eee,, kau juga kenapa tidak mengatakan sedang hamil? Untung saja kak Najwa sudah menceritakannya jika tidak aku akan marah padamu.” Lanjut Zein.


“Aaa dasar paman kecil.” Ucap Freya tersenyum.


“Ee,, apa nona Salwa juga akan melakukan cek kandungan?” tanya Zein beralih menatap Salwa yang dari tadi hanya mendengarkan percakapan paman dan keponakannya itu.


Salwa pun hanya mengangguk, “Tapi saya datang kesini karena di ajak olehnya.” Jawab Salwa.


“Apa nona Salwa belum hamil?” tanya Deyana penasaran.


“Bukan belum Yana hanya saja kakakku ini belum melakukan testpeck. Aku yakin dia juga mengandung, akan lucu nanti jika kita melahirkan bersamaan.” Ucap Freya ceria.


“Yaa aku setuju kak.” Ucap Deyana membenarkan. Memang Deyana memanggil Freya dengan kakak karena walaupun suaminya adalah paman Freya tapi Freya lebih tua setahun dari Zein. Fyi,, Zein dan Deyana sudah menikah yaa dan pernikahan mereka hanya beda sebulan dengan pernikahan Salwa dan Devano. Zein dan Deyana yang menikah lebih dulu dari Devano dan Salwa.


Mereka pun bicara bersama di sana sambil menunggu antrian pemeriksaan mereka.


Tidak lama Freya dipanggil karena berhubung mereka bertiga adalah pasien terakhir yang akan dilakukan pemeriksaan dan mereka keluarga. Mereka pun memutuskan masuk bersama.


“Rere!” panggil Hanna begitu melihat Freya masuk. Yah,, Hanna memang bekerja dengan dokter Rina.


“Han!” ucap Freya lalu memeluk sahabatnya itu yang akhir-akhir ini jarang ketemu karena kesibukkan masing-masing.


“Siapa nih yang ingin konsultasi?” tanya dokter Rina karena melihat ada tiga wanita yang masuk.


“Kami bertiga dokter.” Jawab Freya melepas pelukannya pada Hanna.

__ADS_1


“Kalian bertiga? Apa kalian hamil bersama? Bukankah hanya kau Re?” tanya Hanna kaget. Pasalnya dia hanya tahu Freya yang hamil, itu pun dia ketahui saat sedang mengatur data-data karena Freya tidak memberitahukan padanya.


__ADS_2