
Kurang lebih 30 menit akhirnya pembukaan Freya lengkap dan semuanya normal tidak ada masalah. Proses bersalin Freya pun di mulai semua berjalan lancar pada awalnya sampai sang putri lahir tapi setelah sang putri lahir sesuatu yang tidak di harapkan dan tidak terprediksi terjadi yaitu Freya mengalami pendarahan hebat.
“Dokter, apa yang terjadi?” tanya Alvino.
Para dokter mengabaikan Alvino langsung menangani pendarahan Freya yang sangat hebat lalu para bidan segera mengambil stok darah sedangkan Hanna mengontrol tekanan darah Freya yang sudah menurun.
“Hanna, pastikan tekanan darahnya tetap stabil.” Perintah dokter Rina.
Hanna mengangguk walau dia sendiri pun sudah pucat, sedangkan Freya dia sudah mulai pucat dan akhirnya kesadarannya mulai menghilang tapi dia tetap menggenggam tangan Alvino erat.
Sementara Mama Najwa hanya air matanya yang mulai berjatuhan tanpa di perintahkan oleh dokter dia segera keluar. Mami Sinta yang melihat itu segera keluar mengikuti besannya itu, kini tinggallah Alvino di dalam, “Tuan, lebih baik anda keluar dulu.” Ucap dokter.
__ADS_1
“Apa yang terjadi padanya? Istriku akan baik-baik saja kan dokter?” tanya Alvino lemah.
“Tuan, jangan khawatir kami akan mengusahakan yang terbaik.” Jawab dokter.
“Baiklah, tolong pastikan dia baik-baik saja. Apapun yang terjadi kalian harus menyelamatkannya.” Ucap Alvino menatap sang istri yang sudah hilang kesadaran dan sedang di tangani oleh dokter.
Alvino yang sebenarnya takut dia hanya bisa berdoa agar sang istri baik-baik saja. Sebelum dia keluar bidan yang membersihkan sang putri segera meminta Alvino untuk mengazaninya. Alvino pun mengazani putrinya itu sambil meneteskan air mata karena dia bahagia melihat sang putri yang terlihat begitu mirip dengan sang istri tapi di sisi lain dia juga takut dan sedih melihat sang istri yang berjuang.
Setelah Alvino keluar para bidan pun membawa sang putri ke ruang perawatan. Mami Sinta dan Mama Najwa mengikuti bidan itu untuk menjaga cucu mereka yang baru saja lahir. Sedangkan di perjalanan kini Anand dan Anind sedang menuju rumah sakit di antar oleh pelayan dan supir karena Anind ingin segera melihat wajah adiknya dan terpaksa Anand juga ikut karena dia tidak ingin Anind pergi sendiri walau ada pelayan dan supir yang menjaga adiknya itu.
Alvino yang melihat sang putri datang pun segera memeluknya, “Ayah gak apa-apa sayang.” jawab Alvino.
__ADS_1
“Lalu kenapa ayah menangis? Apa adikku belum lahir?” tanya Anind.
Papa Khabir dan Papi William segera mendekati cucu mereka itu, “Sayang, adik Anind sudah lahir. Mau lihat?” tanya Papa Khabir yang langsung di angguki oleh Anind dengan antusias.
“Baiklah jika begitu ayo kita pergi melihatnya.” Ucap Papa Khabir langsung membawa Anind dan Anand menuju ruang perawatan untuk melihat adik mereka.
“Nak, kau tenanglah. Dia pasti akan baik-baik saja.” Ucap Papi William menenangkan sang putra.
“Aku hanya takut pih dia,,” ucap Alvino terpotong begitu melihat dokter dan bidan yang berlarian keluar dari ruang bersalin.
Hanna juga ikut keluar dengan air mata yang di tahannya, “Nona Hanna, apa istriku baik-baik saja?” tahan Alvino.
__ADS_1
Hanna hanya diam saja tidak tahu harus menjawab apa, “Aku harap tuan akan bisa menerimanya apapun yang terjadi.” Ucap Hanna menangis.
“Apa yang terjadi nona Hanna?” tanya Alvino.