Di Kala Cinta Menyapa

Di Kala Cinta Menyapa
Season 2 : Episode 82


__ADS_3

Dua minggu kemudian, kini usia kandungan Freya sudah berusia 37 minggu. Alvino dan orang tuanya sudah sangat mengawasi Freya. Mereka juga semakin posesif kepada Freya. Dan untuk perjodohan Salwa sementara di tunda karena masih ada beberapa masalah. Akhirnya seminggu yang lalu dia kembali masuk perusahaan karena tidak ingin bekerja dari rumah lagi walau Papi Budiman memintanya untuk tetap di rumah sampai perjodohannya selesai.


“Sayang, kapan taksiran kelahiranmu?” tanya Mama Najwa yang saat ini melihat putrinya.


“Masih lama Ma” jawab Freya.


“Ingat nak kau harus sangat menjaga kandunganmu.” Pesan Mama Najwa.


“Ouh ayolah Ma. Aku sudah bosan mendengar kata seperti ini karena semua orang selalu mengatakannya.” Jawab Freya.


Mama Najwa pun hanya tertawa lalu memeluk putrinya itu karena dia tahu bagaimana posesifnya suami dan mertuanya itu kepada putrinya.


“Ma, doakan Freya lancar dalam persalinannya ya.” Pinta Freya.


“Tanpa kamu minta pun Mama selalu mendoakanmu sayang.” Jawab Mama Najwa.


“Jeng!” panggil Mami Sinta segera masuk dan bergabung di dalam kamar Freya.


“Kamu jangan khawatirkan apapun jeng, kami sangat menjaganya.” Ucap Mami Sinta.


Akhirnya mereka pun membagi pengalaman mereka melahirkan kepada Freya.


***


Tiga hari kemudian.


“Aku pamit yaa sayang.” Izin Alvino lalu mengecup bibir Freya sekilas.


“Hubby!” ucap Freya malu.


“Sangat manis sayang.” Goda Alvino.


“Sudah, kamu sana pergi jangan goda menantu mami.” ucap Mami Sinta lalu segera mengganggeng Freya masuk.


“Ouh God. Dia itu istriku kan? Kenapa mami merampoknya untuk dirinya?” Gumam Alvino yang hanya bisa diam saat istrinya ditarik oleh maminya. Alvino pun segera masuk ke mobilnya dan melaju menuju perusahaan. Sementara Freya di dalam segera di bawa oleh Mami Sinta untuk melihat barang-barang yang sudah dia beli untuk calon cucunya nanti.


Siang harinya saat Freya melakukan sholat zuhur dia mengalami kontraksi dan semakin berulang dalam waktu yang berdekatan. Freya pun hanya bisa istigfar dan menyelesaikan membaca Al-Qur’an dengan cepat karena sudah dari sebelum zuhur dia sudah mengalami kontraksi tapi nanti setelah sholat kontraksi itu semakin berulang.


“Nak, apa kamu ingin segera melihat dunia ini?” ajak Freya kepada bayinya sambil istigfar.


Saat kontraksinya semakin lama semakin cepat dan waktunya juga dekat dia pun segera keluar dari kamarnya dan menuju kamar Bi Wati, “Bi,, bibi!” panggil Freya.


“Ada apa nyonya?” jawab Bi Wati langsung mendekati Freya.


“Nyonya apa anda akan segera melahirkan?” tanya Bi Wati begitu melihat cairan bening di kaki Freya. Freya pun hanya mengangguk sambil menahan sakit.


“Astaga nyonya. Ayo kita segera ke rumah sakit.” Ajak Bi Wati lalu membawa Freya menuju ke depan.


“Ada apa bi?” tanya Mami Sinta yang melihat bi Wati menggandeng Freya. Dia pun segera mendekati Freya, “Sayang, apa kamu akan segera melahirkan?” tanya Mami Sinta panik begitu melihat cairan di kaki Freya.


Mami Sinta pun segera membantu Freya ke depan dan menyuruh supir pribadinya membawakan mobil. Freya pun sudah di dalam mobil bersama Mami Sinta, “Bi biar aku yang akan membawanya ke rumah sakit. Tolong segera telepon Vino dan Papinya dan segera kabar juga besan. Dan jangan lupa juga bawakan barang-barang segera ke rumah sakit. Saya akan segera membawanya. Sakit sayang?” tanya Mami Sinta kepada Freya yang saat ini sedang mengontrol nafasnya sambil beristigfar. Mobil yang membawa Freya pun segera melaju menuju rumah sakit.


Sementara bi Wati segera menelpon Alvino, “Halo, tuan. Ini Bibi.” Ucap Bi Wati begitu sambungan telepon terhubung.


“Iya bi ada apa? Apa terjadi sesuatu kepada Reya?” tanya Alvino panik.


“Nyonya baik-baik saja tuan. Saat ini nyonya besar sudah membawanya ke rumah sakit. Nyonya akan segera melahirkan tuan.” Ucap Bi Wati.

__ADS_1


“Apa? Baiklah bibi saya akan segera ke rumah sakit. Terima kasih.” Jawab Alvino lalu segera mematikan sambungan teleponnya.


“Tuan, rapat akan segera dimulai.” Ucap Devano begitu masuk.


Sementara Alvino sedang memasang jasnya, “Tunda rapatnya!” ucap Alvino lalu segera keluar dan segera menelpon rumah sakit untuk mempersiapkan persalinan Freya.


Devano pun hanya bisa diam lalu segera menyusul Alvino, “Tuan ada apa?” tanya Devano.


“Tolong kau hendel semuanya. Tunda rapatnya aku harus segera ke rumah sakit, istriku akan segera melahirkan.” Ucap Alvino lalu segera masuk ke mobilnya.


“Baik tuan saya akan segera menyelesaikan ini. Semoga nyonya di beri kelancaran.” Ucap Devano dan hanya mendapat anggukan dari Alvino.


Alvino pun segera melajukan mobilnya menuju rumah sakit sementara Devano segera ke ruang rapat.


***


“Pak, cepetan!” ucap Mami Sinta semakin panik karena dia merasa dari tadi mobil tidak sampai-sampai ke rumah sakit.


Freya pun berusaha tersenyum, “Gak apa-apa mih.” Ucap Freya.


“Gak apa-apa gimana? Kamu kesakitan begitu. Kenapa juga lahiran sekarang? Bukankah masih dua minggu lagi? Aku akan menuntut dokternya.” Ucap Mami Sinta.


“Sepertinya cucu mami ingin segera melihat neneknya makanya dia ingin segera lahir. Mami tenang yaa Reya gak apa-apa kok.” ucap Freya.


“Bagaimana mami bisa tenang?” ucap Mami Sinta.


Akhirnya mereka sampai rumah sakit dan sudah ada dokter dan perawat serta bidan yang menunggu. Freya pun segera di bawa ke ruang persalinan.


Tidak lama kemudian Alvino dan Papi William tiba secara bersamaan. Mereka ketemu di parkiran rumah sakit.


“Mih, bagaimana keadaannya?” tanya Alvino khawatir kepada maminya.


“Tenang nak.” ucap Papi William menenangkan putranya.


Tiba-tiba dokter keluar, “Bagaimana dokter?” tanya Alvino.


“Dia baik-baik saja. Suster Freya sangat pintar mengendalikan rasa sakitnya dan juga mengontrol pembukaannya.” Jawab Rina.


“Sudah pembukaan dok?” tanya Mami Sinta.


“Iya, sudah pembukaan lima. Tapi karena suster Freya ingin melahirkan secara normal maka kita harus menunggu sampai pembukaannya lengkap.” Jawab Rina.


“Apa semuanya baik-baik aja dokter? Mengingat taksiran kelahirannya masih dua minggu lagi?” tanya Alvino.


“Semuanya baik-baik aja tuan. Semuanya normal walau usia kandungan suster Freya baru menginjak 38 minggu tapi semuanya sudah siap untuk dilahirkan dan panggul Suster Freya pun sangat mendukung keinginannya untuk melahirkan normal. Jadi In Syaa Allah semuanya akan baik-baik saja.” Jelas Rina.


“Syukurlah!” ucap Alvino, Mami Sinta dan Papi William bersamaan.


“Apa saya bisa menemuinya dokter?” tanya Alvino.


“Tentu saja tuan. Kalian bisa menemuinya dan jika dia mengalami kontraksi lagi maka segera panggil kami.” Ucap Rina.


Alvino pun segera masuk, “Sayang!” panggil Alvino segera mendekati Freya yang saat ini masih saja tersenyum menyambutnya lalu menyalami tangan suaminya.


Alvino pun segera mengecup kening, hidung, bibir dan seluruh wajah istrinya, “Kenapa gak bilang tadi pagi jika sudah mengalami kontraksi?” tanya Alvino.


“Apa sakit? Apa kamu kuat?” tanya Alvino.

__ADS_1


Freya pun hanya tersenyum, “Aku gak apa-apa hubby!” jawab Freya.


“Sayang jika kamu merasa sakit lebih baik kita SC saja.” Ucap Alvino.


Freya langsung menggeleng, “Bukankah kita sudah membahas ini?” ucap Freya.


“Aku tidak tega melihatmu kesakitan sayang.” Ucap Alvino mengecup tangan Freya.


“Apa menurut hubby SC gak sakit?” tanya Freya.


“Sakit tapi,,” ucap Alvino.


“Sudahlah hubby, aku ingin melahirkan normal. Aku hanya butuh dukunganmu.” Ucap Freya menggenggam tangan suaminya.


Alvino pun akhirnya hanya bisa pasrah dan menemani istrinya membaca istigfar dengan membaca Al-Qur’an melalui ponselnya.


Mami Sinta dan Papi William pun masuk dan memberi dukungan kepada Freya. Tidak lama Hanna juga datang, Hanna segera ditelpon oleh dokter Rina begitu mendapat telepon dari Alvino. Hanna hari ini tidak memiliki jadwal ke rumah sakit tapi karena sahabatnya akan melahirkan dia segera menuju rumah sakit.


“Han!” panggil Freya.


“Gak apa-apa. Apa kamu merasakan pembukaannya?” tanya Hanna dan Freya hanya mengangguk.


“Menurutmu sudah pembukaan berapa?” tanya Hanna lagi.


“Sepertinya sudah 7.” Jawab Freya.


“Nona Hanna istriku sedang kesakitan tapi kau menanyainya seperti itu?” tanya Alvino.


“Ouh ayolah hubby. Aku gak apa-apa. Hanna maafkan suamiku.” Ucap Freya dan Hanna hanya mengangguk mengerti karena saat dia melahirkan juga Adelio sepanik Alvino.


Tidak lama kemudian Bi Wati segera tiba membawa barang-barang Freya dan juga calon bayinya. Kemudian di susul dengan kedatangan Mama Najwa dan Papa Khabir.


Sekitar 1 jam kemudian akhirnya pembukaan Freya lengkap. Sebelum dia melakukan persalinan dia sudah meminta maaf kepada seluruh keluarganya. Dia melahirkan ditemani oleh Alvino dan kedua ibunya serta dokter yang membantunya tiga orang dengan dokter Rina sebagai dokter utamanya, ditemani oleh Hanna dan beberapa bidan lainnya. Alvino memang menyiapkan yang terbaik untuk kelahiran anaknya dan kenyamanan istrinya.


Alvino menemani Freya melahirkan berada di kepala istrinya sambil membacakan surah-surah kepada istrinya sementara Freya juga yang sedang berkonsentrasi melahirkan anaknya tidak lupa selalu beristigfar.


Tiga puluh menit kemudian akhirnya terdengarlah suara tangisan bayi dengan nyaring, “Oek,, oek,, oek,,” suara tangis bayi itu memenuhi ruangan persalinan hingga terdengar keluar. Semuanya mengucap syukur.


Alvino segera menciumi wajah istrinya sambil menangis terharu dan tidak lupa membisikkan kata terima kasih berkali-kali kepada istrinya dan menghujani wajah istrinya dengan kecupan.


*


*


Selamat datang Alvino junior!!😘


Hmm,, kira-kira anak mereka baby boy or girl yaa?😉


*


*


Happy reading guys !!😊


Jangan lupa like, komen, vote, dan favoritin.🙏🏻😊


Mohon maaf jika ada typo guys.🙏🏻😉

__ADS_1


Mohon mampir dong dinovel author yang berjudul “Takdir Hidup Zia”. Author tunggu kedatangannnya, mohon tinggalkan jejak yaa!!🙏🏻🥺😉


__ADS_2