
Kurang lebih setengah jam mereka tiba di rumah sakit. Di sana sudah menunggu dokter Rina dan Hanna serta bidan lainnya.
Salwa pun langsung di bawah ke ruang bersalin karena sudah pembukaan 4. Devano pun masuk menemani sang istri bahkan dia masuk masih dengan setelan jasnya. Mami Santi dan Ibu Azana pun ikut masuk tapi sebelumnya mereka menelpon suami masing-masing dan tidak lupa mengabari Mami Sinta.
Kurang lebih tiga jam akhirnya pembukaan Salwa lengkap, seluruh keluarga pun sudah tiba. Freya dan Alvino juga ada di sana dengan Alvino yang sangat menjaga Freya karena tanggal perkiraan kelahiran anak kedua mereka pun tinggal dekat. Sebenarnya Alvino tidak ingin mengajak sang istri tapi karena Freya yang memohon untuk ikut dia menjadi tidak tega akhirnya mengajak Freya ikut.
“Nak, kau duduklah!” ucap Mami Sinta yang melihat Freya berdiri.
“Mami Reya gak apa-apa kok.” jawab Freya.
“Sayang duduklah! Kamu juga sedang hamil sayang.” ucap Alvino. Akhirnya mau tidak mau Freya pun duduk padahal dia ingin melihat Salwa melahirkan hanya tidak di izinkan oleh Alvino dan Mami Sinta.
Tidak lama kemudian akhirnya terdengarlah suara tangisan bayi di dalam ruangan bersalin itu. Proses kelahiran Salwa berjalan lancar. Dia segera di pindahkan ke ruang perawatan begitu semuanya selesai.
Singkat cerita, kini Salwa dan putranya sudah ada di ruangan perawatan dengan seluruh keluarga yang bahagia menyambut anggota baru keluarga mereka.
“Dia sangat tampan kak.” Puji Freya.
Salwa pun hanya tersenyum, “Iya, putraku memang sangat tampan hanya saja perjodohan kita jadi batal kakak ipar.” Ucap Salwa sendu.
__ADS_1
“Hahah,, kamu masih mengingatnya kak? Sudahlah jangan pikirkan hal itu sepertinya kita memang tidak di takdirkan untuk menjadi besan.” Ucap Freya tertawa.
Hanna yang ada di sana pun hanya ikut tersenyum karena dia juga sudah mengalami hal yang sama, “Bukan begitu Han?” tanya Freya menatap sahabatnya yang juga mengalaminya.
“Kamu benar Re.” ucap Hanna.
“Sudahlah Jesy sayang, lagian anak kita juga baru lahir. Jadi biarkan dia dulu tumbuh jangan dulu memikirkan jodohnya.” Ucap Devano membujuk sang istri.
“Aku setuju denganmu kak Vano.” Timpal Freya yang tetap menatap putra Salwa dan Devano itu.
“Ohiya, siapa nama keponakan tampanku ini?” tanya Alvino.
Devano pun menatap istrinya, “Aku memberinya nama Nafta Saldeva Putra Fahrian.” Ucap Devano.
“Saldeva?” tanya Freya.
Salwa pun mengangguk, “Bagus namanya sangat bagus!” puji Freya.
“Apa dia akan di panggil dengan Dewa?” tanya Alvino.
__ADS_1
“Hmm,, kak Saldeva bukan Saldewa. Saldeva itu singkatan nama kak Salwa dan kak Vano.” Ucap Freya jengkel terhadap suaminya.
Alvino pun tersenyum mendengar istrinya. Dia bukan tidak tahu apa artinya hanya saja dia ingin menggoda sang istri.
“Kak, aku yakin dia pasti akan di panggil dengan Nata. Iya kan?” tanya Freya menatap Salwa.
“Hahah,, sepertinya kau memang peramal kak. Yah, dia akan di panggil dengan itu.” Ucap Salwa sambil tertawa.
Salwa memang menyebut Freya peramal karena Freya bisa sangat yakin bahwa dia mengandung baby boy saat dia sedang hamil, begitupun dengan saat Hanna hamil. Untuk itulah semua perjodohan yang di buat batal.
“Aku bukan peramal kak.” Ucap Freya.
“Hahha,, kau hebat kakak ipar.” Ucap Salwa tetap masih tertawa.
“Emang kalau kau peramal, menurutmu anak kita baby boy atau girl?” tanya Alvino mengelus perut istrinya.
Freya pun menatap suaminya, “Aku yakin dia baby girl” jawab Freya.
“Are you serious?”
__ADS_1