Di Kala Cinta Menyapa

Di Kala Cinta Menyapa
Episode 41


__ADS_3

Tiga hari kemudian, Freya dan Hanna disibukkan dengan melengkapi administrasi untuk surat izin praktik mereka. Yah, mereka lulus UKOM sehingga mendapatkan surat izin praktik. Mereka juga telah ditawari bekerja di rumah sakit F karena nilai mereka yang tinggi saat ikut UKOM. Jadi, baik Freya maupun Hanna disibukkan dengan pengurusan dua hal tersebut. Freya dan Hanna diterima di rumah sakit F bukan karena rekomendasi dari Alvino sebagai pemegang saham tertinggi tapi karena mereka layak mendapatkan pekerjaan.


“Han, jika kau lelah duduklah! Kasihan keponakanku.” Ucap Freya saat mereka menunggu surat izin mereka keluar.


“Aku sudah capek duduk makanya berdiri Re! Kau jangan terlalu khawatirkan aku!” ucap Hanna.


“Baiklah, tapi aku tidak ingin kau lelah karena setelah ini kita harus ke rumah sakit F untuk memasukkan berkas kita.” Ucap Freya.


Hanna pun akhirnya duduk.


Tidak lama kemudian akhirnya mereka dipanggil untuk mendapatkan surat izin praktik mereka. Setelah menerima surat izin praktik, mereka segera melaju menuju rumah sakit karena jam sudah menunjukkan pukul 14.30.


Sementara disisi lain, ada sebuah keluarga yang sedang menuju ke rumah Freya.


“Maaf pak! Saya izin bertanya, apa benar di sini alamat rumah orang tua suster Freya?” tanya Papi William.


“Benar pak! Alamat orang tua suster Freya disini tapi suster Freya sepertinya belum kembali dari kampusnya.” Ucap pak Mahmud.


“Jika boleh tahu dimana rumahnya?” tanya Papi William lagi.


“Ouh,, bapak masuk saja di lorong itu, nanti rumah yang paling ujung itulah rumahnya!” ucap Pak Mahmud, dimana pak Mahmud juga masih termasuk sepupunya Mama Najwa.


“Baik, Terimah kasih pak! Kami pamit lagi.” ucap Papi William.


“Sama-sama.” jawab Pak Mahmud.


“Siapa itu? Ngapain mereka nanya rumah Freya? ” tanya Istrinya pak Mahmud.


“Gak tahu. Tapi sepertinya mereka bukan dari keluarga sembarangan karena bisa dilihat dari pakaian dan juga mobil mereka.” Jawab Pak Mahmud.


Keluarga Papi William pun tiba di rumahnya orang tua Freya, untunglah orang tua Freya sudah kembali.


“Assalamu’alaikum!” ucap Papi William.


“Mah, sepertinya ada yang mengucapkan salam.” Ucap Papi Khabir.


“Iya, benar Pah. Coba sana bapak lihat siapa yang datang karena sepertinya bukan anak-anak.” Ucap Mama Najwa setelah mendengar salam kembali.


Papa Khabir dan Mama Najwa pun segera menuju ruang tamu.


“Wa’alaikumsalam!” jawab Papa Khabir dan Mama Najwa bersamaan.


“Cari siapa ya?” sambung Mama Najwa.


“Apa benar ini rumah orang tuanya suster Freya?” tanya Mami Sinta balik.


“Benar!” ucap Mama Najwa.


“Ah, lebih baik masuk dulu, kita bicara didalam!” ucap Papa Khabir.

__ADS_1


“Ah iya, silahkan masuk dulu!” ucap Mama Najwa.


Keluarga Alvino pun masuk ke dalam rumahnya Freya. Yah, keluarga itu adalah keluarga Alvino dimana yang datang adalah Alvino dan juga kedua orang tuanya.


Mama Najwa segera berlalu ke dapur menyiapkan minuman untuk tamunya.


“Baik, jika saya boleh tahu. Keluarga bapak dan ibu ini ada perlu apa mencari kami?” tanya Papi Khabir setelah tamunya duduk.


“Ah, iya. Perkenalkan saya William dan ini istrinya saya Sinta dan itu anak kami Alvino.” Ucap Papi William.


Papi Khabir pun menyalami keluarga Alvino kecuali Mami Sinta.


“Kalau saya,,” ucap Papi Khabir.


“Kami sudah tahu kok anda Pak Khabir Putra Abraham ayahnya Suster Freya.” Potong Papi William.


“Ah, iya..” ucap Papi Khabir kaget karena tamunya itu sudah mengetahui namanya.


Sementara didapur,


“Siapa itu, Mah?” tanya Friska


“Mama juga belum tahu.” Jawab Mama Najwa.


“Emang mereka menanyakan apa, Mah?” tanya Frisya.


“Mereka hanya menanyakan apa ini rumah orang tua kakak kalian.” Ucap Mama Najwa sambil menyiapkan minuman.


“Mama juga gak tahu. Ayo lebih baik bantu Mama bawa ini ke depan.” Ucap Mama Najwa.


“Risya saja Mah.” Ucap Frisya.


Mama Najwa ke ruang tamu disusul Frisya.


“Apa ada tamu?” tanya Nenek Ayesha. Yah, nenek Ayesha semenjak keluar rumah sakit sudah diajak oleh Freya dan Mama Najwa untuk tinggal bersama mereka didesa.


“Eehh,, nenek buat Riska kaget saja. Iya Nek ada tamu. Mereka nanyain kakak.” Ucap Friska.


“Silahkan di minum dulu!” ucap Mama Najwa setelah menghidangkan minuman.


“Ah, iya perkenalkan ini istri saya Najwa dan ini putri bungsu kami Frisya.” Ucap Papa Khabir.


Frisya pun segera berlalu dari ruang tamu meninggalkan kelima orang tua itu bicara.


“Kami sudah tahu kok.” ucap Mami Sinta tersenyum.


“Ohiya, silahkan diminum! Maaf hanya seadanya.” Ucap Papi Khabir.


“Nggak apa-apa kok pak” timpal Alvino.

__ADS_1


Keluarga Alvino pun segera minum.


“Kami mengucapkan terimah kasih atas sambutan bapak dan ibu serta kami minta maaf karena kami datang tanpa pemberitahuan. Kami yakin kedatang kami ini membuat kalian kaget tapi kami datang kesini ada sesuatu yang penting yang akan kami bicarakan. Semoga bapak dan ibu menerima niat kami ini dengan tangan terbuka.” Ucap Papi William.


“Jika bisa kami tahu apa niat kedatangan keluarga bapak dan ibu?” tanya Papi Khabir.


Papi William segera memberi kode kepada Alvino.


“Maafkan saya, jika saya lancang. Tapi niat kedatangan kami kesini yaitu saya Alvino ingin melamar putri bapak dan ibu yang bernama Freya Nur Nabila Abraham untuk menjadi istri saya. Sekiranya bapak dan ibu menerimanya.” Ucap Alvino tegas.


“Freya?” tanya Mama Najwa kaget, begitupun Papa Khabir dan juga Friska,Frisya dan Nenek Ayesha yang mendengarnya dari ruang keluarga.


“Iya benar bu.” Ucap Alvino.


“Nak, kami menghargai niat baikmu ini, tapi putri kami,,” ucap Papi Khabir.


“Saya mengerti, bapak pasti tidak ingin menikahkan anak bapak kepada orang yang baru dia kenal bahkan bapak juga baru mengenal kami. Tapi saya sudah sangat mengenal putri bapak. Dia mungkin tidak mengenal saya tapi saya sangat mengenalnya. Saya hanya butuh restu dari bapak dan ibu.” Ucap Alvino.


“Nak, kamu mengenal anak kami dimana? Karena anak kami tidak pernah mengatakan dekat dengan siapapun, makanya kami kaget saat kau tiba-tiba ingin melamar putri kami.” Ucap Mama Najwa.


“Kami pernah sekali bertemu dua tahun lalu, dia menolong saya tapi mungkin dia melupakannya tapi tidak dengan saya karena wajahnya selalu terbayang, sejak saat itu saya memutuskan bahwa dia akan menjadi istri saya.” Ucap Alvino.


“Iya benar Jeng. Dia juga pernah menolong saya saat saya mengalami kecelakaan sekitar 6 bulan lalu.” Timpal Mami Sinta.


“Baiklah, apa kau yakin menjadikan putri kami sebagai istrimu?” tanya Papa Khabir.


“Saya yakin!” ucap Alvino tegas.


“Lalu bagaimana dengan bapak dan ibu, apa kalian merestuinya?” tanya Mama Najwa.


“Kami sangat menyukai putri kalian.” Ucap Papi William dan Mami Sinta bersamaan.


“Baiklah, maafkan kami Nak. Kami tidak bisa menerima lamaranmu.” Ucap Papa Khabir.


Alvino pun hanya menunduk.


“Kami akan menerima lamaranmu saat putri kami juga setuju menerima lamaranmu, maka datanglah saat putri kami ada. Saat ini dia masih mengurus surat izin praktiknya. Mungkin sebentar lagi dia akan pulang.” Sambung Papa Khabir.


“Jadi, apa bapak mengizinkan saya melamarnya?” Tanya Alvino.


“Tergantung putri kami. Tapi sebelum itu kami juga harus tahu keluarga kalian. Maaf!” ucap Papa Khabir.


“Nggak apa-apa kok pak. Kami tidak masalah akan hal itu, kami juga mengerti bagaimana perasaan orang tua saat akan melepas putrinya untuk dinikahi apalagi kami adalah orang asing bagi kalian.” Timpal Papi Alvino.


“Terimah kasih atas pengertiannya.” Ucap Papa Khabir.


Alvino pun segera mengambil dokumen yang berisi identitas keluarganya.


Happy Reading Guys !!

__ADS_1


Jangan lupa like, koment, vote, gift, dan favoritin,,


__ADS_2