
Singkat cerita, kini mereka sudah di Bandara akan segera kembali.
“Crish, terimah kasih sudah menemani kami menikmati liburan ini.” Ucap Alvino.
“Ah itu sudah tugas saya tuan. Saya senang bisa mengawal tuan dan nyonya.” Ucap Crish.
“Okay, sampaikan juga terimah kasih kami kepada tuan Steven.” Ucap Alvino.
“Tentu tuan.” Jawab Crish.
“Terimah kasih kak Crish.” Ucap Freya tersenyum.
“Ah terimah kasih kembali nyonya.” Jawab Crish canggung karena Freya memanggilnya dengan sebutan kakak.
Sementara Alvino memandang Freya cemburu karena menyebut pria lain dengan sebutan kakak. Freya yang menyadari tatapan suaminya langsung berbisik, “Apa suamiku ini sedang cemburu?” tanya Freya.
Alvino hanya diam dan Freya hanya tesenyum.
Cup
Freya pun segera mencium pipi suaminya sekilas, “Jangan cemburu. Aku hanya mencintaimu Hubby!” bisik Freya.
Alvino yang mendengarnya langsung tersenyum sementara Crish hanya tersenyum juga melihat kemesraan pasangan itu.
“Tuan, Nyonya pesawat sebentar lagi akan lepas landas!” ucap Crish.
“Ouh, baiklah. Jika begitu kami pamit.” Ucap Alvino.
Mereka pun segera masuk untuk chek in.
“Tuan, Nyonya saya harap kalian akan segera memiliki anak.” Ucap Crish.
“Ouh, doakan saja Crish.” Jawab Alvino.
“Tentu tuan!” ucap Crish.
Freya hanya tersenyum menanggapinya dan di dalam hati dia berharap segera hamil.
Mereka pun segera berangkat karena pesawat akan segera lepas landas.
Crish yang mengantar pasangan itu hanya tersenyum karena nanti dengan pasangan itu dia di perlakukan sebagai manusia. Dia selalu menjadi pengawal orang-orang yang akan melakukan bulan madu tapi nanti dengan Alvino dan Freya dia merasa nyaman bekerja. Alvino dan Freya selalu memperhatikannya dan tidak pernah membedakan manusia. Makanya dia sangat menyayangi Alvino dan Freya, selalu mengawal mereka kemanapun mereka ingin pergi. Memang pernah Alvino memarahinya karena Freya hilang tapi itu adalah hal yang bisa dimengerti oleh Crish karena siapapun akan melakukan itu jika orang yang dicintainya hilang.
Sementara Alvino dan Freya beberapa hari ini menghabiskan liburan mereka dengan jalan-jalan mengelilingi Belanda dan tidak lupa juga mereka membeli oleh-oleh untuk dibawa pulang.
***
Kurang lebih 15 jam kini mereka sudah tiba di bandara dan sudah dijemput oleh Devano.
“Kakak ipar!” panggil Salwa begitu melihat Freya.
“Kakak,,! Jangan pelit deh, aku hanya ingin memeluk kakak iparku.” Ucap Salwa karena begitu dia ingin memeluk Freya, Alvino menghalanginya.
“Hey, ini istri kakak jadi terserah kakak dong. Hey kok kamu bisa disini?” tanya Alvino kemudian.
“Ya bisalah, aku ikut dengan asisten kakak. Emang gak boleh aku menjemput kakak iparku sendiri?” tanya Salwa balik.
“Van, kenapa kau mengajak perusuh ini?” tanya Alvino kepada asistennya.
“Itu,,” ucap Devano.
“Hey, kakak jangan memarahinya, aku sendiri yang memaksa ikut.” Potong Salwa.
“Kakak ipar ayo kita masuk mobil, kau pasti lelah.” Ajak Salwa sambil melepaskan pelukan Alvino dari Freya.
__ADS_1
Freya pun hanya tersenyum mengikuti Salwa untuk segera masuk ke mobil.
Alvino pun hanya bisa menghela nafas karena lagi-lagi istrinya itu sepertinya lebih menarik darinya. Alvino dan Devano pun segera memasukkan barang bawaan mereka ke bagasi mobil.
“Wa, kau pindah ke depan.” Ucap Alvino.
“Gak mau, aku ingin bersama kakak ipar.” Ucap Salwa.
Freya hanya tersenyum dan segera meminta suaminya itu untuk duduk di depan bersama Devano. Alvino pun lagi-lagi hanya bisa menghela nafas, “Wa, makanya kau cepat menikah agar tidak mengganggu kakak iparmu.” Ucap Alvino begitu dia duduk di samping kemudi.
“Kakak ipar lihat kakak, dia tidak menyayangiku lagi.” Lapor Salwa.
“Tapi kak Salwa apa yang dikatakan kakak itu benar, karena kak Salwa seharusnya sudah memiliki suami.” Ucap Freya.
Alvino yang mendengar istrinya membelanya langsung tersenyum, “Tuh dengerin kata kakak iparmu!”
“Aku belum nemu yang cocok.” Ucap Salwa.
“Ya makanya cari dong kak.” Goda Freya tersenyum.
“Sebenarnya sudah nemu satu tapi sayang dia gak suka.” Ucap Salwa menyindir.
Uhuk uhuk
Devano segera terbatuk mendengar perkataan Salwa.
“Kak Vano kau kenapa?” tanya Freya.
“Ah gak apa-apa nona.” Jawab Devano.
Freya langsung mengerti siapa yang dimaksud oleh Salwa.
Mereka pun melanjutkan perbincangan mereka hingga sampai di apartemen Alvino dan Freya.
***
Freya langsung tersenyum begitu melihat orang tuanya ada disana begitu pun dengan orang tua Alvino.
“Sayang, bagaimana kabarmu?” tanya Mami Sinta memeluk menantunya itu.
“Baik Mih.” Jawab Freya membalas pelukan ibu mertuanya itu.
“Nak!” ucap Mama Najwa.
“Mama, Reya merindukanmu.” Ucap Freya memeluk ibu kandungnya itu.
“Papa, Reya merindukan papa juga.” Ucap Freya memeluk papanya itu.
“Dasar manja!” ucap Papa Khabir memeluk putrinya.
“Papi,,” ucap Freya.
“Nak,,” ucap Papi William menepuk kepala menantunya itu.
Alvino pun menyalami kedua orang tuanya dan orang tua Freya.
Mereka pun menghabiskan banyak cerita disana jika tidak mengingat Freya dan Alvino baru saja tiba mungkin mereka gak akan pulang.
“Kakak ipar, kapan-kapan kita pergi belanja ya,” pinta Salwa saat dia akan pulang.
Freya hanya mengangguk mengiyakan.
“Kak Vano, Reya titip kak Salwa. Tolong diantar dengan selamat.” Ucap Freya.
__ADS_1
“Tentu nona.” Jawab Devano.
“Kami pergi kakak ipar.” Pamit Salwa.
“Hati-hati kak.” Ucap Freya dan Salwa hanya mengangguk.
Mereka pun segera pergi dan Freya segera menutup pintu.
***
Sebulan berlalu, kini Freya kembali disibukkan dengan praktiknya di rumah sakit bersama Hanna. Freya sudah mulai masuk setelah seminggu pulang dari bulan madu. Dia memajukan jadwal masuknya karena merasa bosan di apartemen.
“Han, bagaimana calon keponakanku? Apa dia baik-baik aja?” tany Freya begitu mereka makan dikantin.
“Dia baik-baik aja kok Re, dua minggu lagi aku akan USG.” Jawab Hanna. Yah, kandungan Hanna sudah 6 bulan sudah mau masuk trisemester ketiga.
“Terus kamu udah tahu jenis kelaminnya?” tanya Freya.
Hanna hanya mengangguk karena dia dan Adelio memang sudah mengetahui jenis kelamin anak mereka.
“Laki-laki?” tanya Freya dan lagi-lagi Hanna hanya mengangguk.
“Wow, bagus dong. Jadi aku akan segera memiliki keponakan jagoan.” Ucap Freya.
“Jangan kamu hanya senang dengan anakku Re. Kamu udah ngisi belum?” tanya Hanna.
“Hahhah,, aku belum memikirkannya Han. Takut kecewa.” Ucap Freya.
“Iss, mau periksa?” tanya Hanna.
“Ihh,, aku gak mau. Bagaimana jika belum. Ah biarin.” Ucap Freya.
Hanna pun hanya diam karena dia tidak bisa memaksa Freya jika sudah begitu karena Freya jika sudah memutuskan sesuatu maka sulit untuk diubah. Tapi tiba-tiba Hanna memiliki ide yang bagus.
“Re, kamu mau gak melihat keponakanmu?” tanya Hanna.
“Hmm,, tentu saja.” Jawab Freya antusias.
“Kalau begitu kamu nanti temani aku USG yaa.” Ucap Hanna.
“Okay! Kapan?” tanya Freya.
“Dua minggu lagi.” Jawab Hanna.
“Okay, nanti ingetin aku lagi yaa,, soalnya entah kenapa aku akhir-akhir ini sering melupakan sesuatu.” Ucap Freya.
“Okay, nanti aku ingetin lagi.” Jawab Hanna.
Mereka pun melanjutkan makan mereka karena sebentar lagi jam istirahat selesai dan mereka harus kembali ke tempat tugas mereka. Hanna berada di ruangan dokter kandungan sementara Freya berada di ruangan dokter anak.
Hanna hanya tersenyum melihat Freya yang makan dengan lahap karena biasanya Freya tidak akan melakukan itu. Jadi Hanna semakin yakin bahwa Freya kemungkinan hamil. Jadi untuk memastikannya maka Hanna harus merencanakan dengan baik.
*
*
Semoga rencana Hanna berjalan dengan baik yaa,, kita doa’in juga agar Freya beneran hamil seperti dugaan Hanna agar kita akan segera memiliki ponakan. Hehhehe😁
*
*
*
__ADS_1
Ayo dong like, komen, vote, beri gift, dan favoritin agar author lebih semangat lagi nulisnya.🙏🏻😊
Mohon maaf jika banyak typo guys,,🙏🏻