
Keesokan paginya, setelah sarapan Mami Sinta berusaha membujuk agar Alvino mengizinkannya untuk bertemu dengan Freya.
“Vin!” panggil Mami Sinta.
“Iya, ada apa Mih?” tanya Alvino yang menyempatkan datang menemui Maminya sebelum ke kantor.
“Boleh gak..” ucap Mami Sinta.
“Gak.” Potong Alvino yang sudah tahu keinginan Maminya, sehingga membuat Mami Sinta cemberut.
“Ayolah, Mih. Bukankah mami sudah janji gak akan mengganggunya!” ucap Alvino.
“Vin! Mami hanya ingin bertemu dengannya untuk mengucapkan terimah kasih karena sudah menolong Mami. Lagian Mami juga ingin melihat dengan jelas bagaimana dia, kemarin hanya terlihat samar-samar karena Mami pusing. Boleh yaa Vin?” bujuk Mami Sinta dengan wajah memelas.
“Sudahlah Vin. Izinkan saja! Kamu kan tahu Mamimu seperti apa, dia pasti gak akan berhenti mengganggumu sebelum kau mengizinkannya.” Ucap Papi William membantu istrinya membujuk Alvino karena jujur saja Papi William juga penasaran.
“Boleh ya Vin? Mami janji gak akan membahas apapun mengenai hal lain, mami hanya akan berterimah kasih saja.” Ucap Mami Sinta.
“Baiklah. Tapi Mami harus menepati janji Mami itu.” Ucap Alvino mengizinkan setelah berpikir.
“Yes! Mami janji!” ucap Mami Sinta girang.
Alvino pun hanya tersenyum karena melihat Maminya sesenang itu hanya karena ingin melihat calon menantu yang bahkan masih dalam mimpi yang entah akan jadi kenyataan.
Alvino pun segera pamit kepada kedua orang tuanya menuju kantor.
#####
Saat Alvino tiba diparkiran, dia melihat Freya memarkirkan sepeda motornya, ingin rasanya Alvino menyapa tapi dia tahan.
“Astagfirullah, sepertinya aku terlambat!” ucap Freya sambil melihat jam tangannya.
Dia pun segera masuk dengan berlari.
Alvino yang melihat Freya terburu-buru merasa khawatir dan segera melihat jam tangannya untuk memastikan apa yang membuat Freya berlari.
“Ini baru pukul 07.33. Apa dia takut terlambat? Bukankah dia hanya terlambat tiga menit saja, kenapa mesti terburu-buru seperti itu?” pikir Alvino.
“Ah, sudahlah lebih baik aku segera pergi juga ke perusahaan.” Batin Alvino segera masuk ke mobil dan melajukannya menuju kantor, karena Adelio sudah mengajukan cuti nikah.
Sementara Freya segera menuju ruangannya.
“Assalamu’alaikum! Selamat pagi! Maafkan saya terlambat!” ucap Freya setelah dia masuk ke ruangannya.
“Wa’alaikumsalam. Kamu gak hanya terlambar 4 menit kok! Sudahlah gak apa-apa.” Ucap ketua perawat yang ada di ruangan itu.
“Tapi tetap saja saya terlambat! Maafkan saya!” ucap Freya sambil memandang perawat lain segera keluar untuk melakukan pemantauan pagi.
“Sudahlah jangan pikirkan itu. Lagian ini juga pertama kalinya kamu terlambat! Kamu kemarin terlambat tapi itu untuk menyelamatkan nyawa seseorang, saya bangga padamu!” ucap suster Via selaku ketua ruangan Freya.
“Ouh, terimah kasih suster Via! Ngomong-ngomong bagaimana keadaan ibu itu?” tanya Freya.
__ADS_1
“Ibu itu sudah membaik, tinggal penyembuhan lukanya saja. Mungkin besok sudah bisa pulang! Itu juga berkat pertolongan pertamamu yang sangat tepat sehingga perdarahannya tidak parah.” Ucap Suster Via.
“Alhamdulillah jika begitu. Baik kak saya akan segera melakukan pemantauan pagi. Saya siap-siap dulu!” izin Freya dan dibalas anggukan oleh suster Via.
Drt drt drt
“Selamat pagi, Dokter! Apa ada yang bisa saya bantu!” ucap suster Via.
“...”
“Iya dokter, baru saja tiba.” Ucap suster Via.
“…”
“Ouh, baik dokter. Saya akan segera menyuruhnya kesana!” ucap suster Via.
“…”
“Terimah kasih kembali!” ucap suster Via.
Freya yang sudah selesai menyiapkan perlengkapan untuk dinas paginya segera menuju pintu keluar.
“Freya!” panggil suster Via.
“Iya, suster! Apa ada yang bisa saya bantu?” tanya Freya.
“Tolong yaa,, kamu segera periksa pasien yang ada di ruangan VVIP No.3” Ucap suster Via.
“Iya, kamu tidak salah dengar. Biar saya yang akan melakukan pemantauan pada pasienmu? Tolong kamu segera kesana!” ucap Suster Via.
“Baik, suster. Saya akan segera kesana!” ucap Freya walau dia masih bingung.
Sepanjang jalan menuju ruangan VVIP No.3, masih kurang percaya bahwa dia akan memeriksa pasien VVIP, ada rasa gugup sudah pasti tapi dia tetap berusaha professional. Dengan langkah pasti kini dia sudah tiba di ruangan yang dimaksud.
Tok tok tok
“Assalamu’alaikum!” salam Freya.
“Wa’alaikumsalam!” jawab orang didalam ruangan itu.
“Ibu! Bu-bukankah..” ucap Freya kaget karena pasien di ruangan itu adalah orang sama yang ditolongnya kemarin.
“Iya, ini saya. Kamu tidak salah ruangan! Syukurlah kamu masih ingat saya!” ucap Mami Sinta yang melihat Freya kebingungan.
“Ah, i-itu saya! Ah, sudahlah saya kesini! Ouh,, bagaimana keadaan ibu? Apa lukanya sudah sembuh!” tanya Freya.
“Seperti yang kamu lihat saya baik-baik saja, lukanya juga sudah lumayan mongering, semua ini karena pertolonganmu Nak! Terimah kasih!” ucap Mami Sinta.
“Ah, itu sudah kewajiban saya! Ohiya, saya belum memperkenalkan diri dengan baik, saya Freya Nur Nabila panggil saja Freya atau Reya atau senyaman ibu saja. Saya mahasiswa profesi yang sedang melakukan praktik di sini.” Ucap Freya.
“Sudahlah, jangan terlalu formal. Ohiya, soal cara saya memanggilmu, saya akan memanggilmu calon menantu saja!” ucap Mami Sinta tersenyum membuat Freya ikut tersenyum.
__ADS_1
“Ohiya, Saya Sinta panggil saja Mami Sinta atau Mami juga boleh. Siapa tahu kamu akan jadi menantu saya nanti. Bukankah begitu pih?” ucap Mami Sinta melirik Papi William.
“Sudahlah istri saya hanya bercanda, kamu jangan pikirkan hal itu. Ohiya perkenalkan saya Papi William, kamu juga bisa memanggil saya Papi!” ucap Papi William ikutan menggoda Freya.
“Ah, bapak sama ibu bisa saja!” ucap Freya tersenyum.
“Kita gak tahu apa yang akan terjadi di masa depan, Nak! Siapa tahu saja apa yang saya katakan akan menjadi kenyataan, kamu akan menjadi menantu kami.” Ucap Mami Sinta.
Lagi-lagi Freya hanya tersenyum menanggapinya karena bagi Freya saat ini yang paling penting yaitu lulus profesi dan bagaimana untuk pekerjaannya nanti.
“Baik, ibu Sinta, saya akan melihat dulu apa luka ibu!” ucap Freya mengalihkan pembicaraan.
Freya pun segera mengganti perban luka Mami Sinta dengan telaten, sementara Mami Sinta dan Papi William melihat dengan seksama sambil membuat penilaian dan mereka dibuat terkagum-kagum oleh Freya karena walaupun dia masih mahasiswa profesi tapi dia sangat terampil seperti perawat professional saja.
Kurang lebih 20 menit Freya mengganti perban luka Mami Sinta.
“Alhamdulillah,Bu! Lukanya sudah mongering, tinggal rajin mengganti perbannya saja nanti akan segera sembuh dan jangan lupa juga ibu untuk mengonsumsi obat yang dianjurkan dokter untuk membantu penyembuhannya.” Jelas Freya.
“Baik, terimah kasih Nak!” ucap Mami Sinta.
“Ini sudah tugas saya, Bu! Baiklah saya permisi, jika bapak dan ibu sudah tidak ada yang ingin ditanyakan! Jika ada apa-apa bapak bisa menghubungi nurse station.” Ucap Freya segera berlalu.
“Eehh,, tunggu sebentar Nak!” ucap Mami Sinta.
“Iya, apa ibu merasa sakit?” tanya Freya.
“Ah, itu bukan soal luka. Saya ingin memberikan ini padamu!” ucap Mami Sinta sambil mengambil gelang yang ada ditasnya.
“I-ini untuk apa,Bu?” tanya Freya.
“Anggap saja ucapan terimah kasih dari saya!” ucap Mami Sinta.
“Terimalah, Nak!” sambung Papi William.
“Maaf! Saya mohon maafkan saya! Tapi saya tidak bisa menerimanya! Saya juga sudah menerima ucapan terimah kasih dari bapak dan juga ibu.” Ucap Freya lembut.
“Apa karena kau takut ini akan menjadi bahan pembicaraan orang-orang atau ini melanggar etika keperawatan? Kamu jangan pikirkan hal itu, kami tulus memberikan ini padamu!” ucap Mami Sinta meraih tangan Freya.
“Maaf, Bu! Saya menghargai niat bapak juga ibu, tapi saya memang tidak bisa menerimanya, selain alasan apa yang ibu katakan tadi, saya juga ingin menjadi perawat yang professional. Mohon maafkan saya!” ucap Freya.
“Sudahlah, Mih. Maafkan kami Nak! Kami tahu kamu anak baik, kami berdoa semoga cita-citamu intu akan jadi kenyataan. Saya juga yakin kau pasti akan jadi perawat professional nanti.” Ucap Papi William tersenyum.
“Baik, Nak! Kami tidak akan memaksamu! Tapi bisakah kamu yang memeriksa luka saya sebelum saya pulang ?” ucap Mami Sinta.
“Baik, tentu saja Bu! Saya pasti akan melakukannya! Terimah kasih atas pengertiannya. Jika begitu saya undur diri!” Pamit Freya.
Freya pun segera keluar.
Sementara Papi William dan Mami Sinta membicarakan Freya, mereka membenarkan apa yang dikatakan Alvino setelah bertemu Freya. Mereka sudah bertekad akan menjadikan Freya menantu. Mereka akan membantu Alvino mendapatkan Freya karena mereka sudah jatuh hati pada Freya.
Happy reading guys!😊
__ADS_1
Jangan lupa like, koment, vote, hadiah dan juga favoritin yaa..🙏