
Kini Freya sudah tiba di sebuah rumah yang sangat megah berada di kawasan elit.
Ting ting
“Cari siapa Nona?” tanya satpam rumah.
“Apa benar ini kediaman keluarga bapak William Aryawiguna?” tanya Freya balik.
“Benar Nona? Tunggu,, apa Nona ini Nona Freya?” tanya satpam.
“Benar saya Freya.” Jawab Freya.
“Kalau seperti itu silahkan masuk Nona! Tuan dan Nyonya sudah menunggu.” Ucap Satpam itu mempersilahkan Freya masuk.
“Terimah kasih, Pak!” ucap Freya segera masuk.
“Silahkan masuk, Nak!” ucap Mami Sinta setelah melihat Freya.
“Assalamu’alaikum Tuan, Nyonya!” salam Freya sambil menunduk hormat.
“Wa’alaikumsalam Nak, gak usah terlalu formal seperti itu. Panggil saja kami Papi dan Mami.” Jawab Papi William.
“Ohiya, silahkan duduk!” sambung Papi William.
Freya pun duduk.
“Silahkan diminum, Nak!” ucap Mami Sinta setelah Bi Mia menyuguhkan minuman.
“Ah, iya. Terimah kasih!” ucap Freya.
Cukup lama mereka terdiam akhirnya Freya pun memulai percakapan.
“Maafkan saya sudah mengganggu waktu bapak dan ibu.” Ucap Freya.
“Gak usah merasa sungkan, Nak. Kami senang calon menantu kami mengunjungi kami.” Timpal Mami Sinta.
Freya pun hanya mengangguk sambil melihat sekitar, “Ohiya, Alvino sementara dijalan menuju kesini.” Ucap Papi William yang mengerti pandangan Freya.
Tiba-tiba,
“Maaf, saya terlambat. Assalamu’alaikum!” ucap Alvino.
“Wa’alaikumsalam!” jawab Freya dan kedua orang tua Alvino bersamaan.
“Duduk, Nak! Freya sudah menunggumu!” ucap Mami Sinta.
__ADS_1
Alvino pun segera duduk di samping papinya dihadapan Freya dan maminya.
Freya hanya tersenyum melihat kedatangan Alvino karena dia melihat kegugupan di wajah pemuda yang telah melamarnya itu. Tapi lagi-lagi Freya tetap tidak bisa mengingat kapan dia bertemu dengan pemuda yang kini ada dihadapannya.
“Silahkan diminum tuan! Saya akan bicara setelah tuan tidak gugup lagi.” Ucap Freya setelah melihat Alvino hanya memandangnya dan tidak menyadari Bi Mia telah menyuguhkan minuman.
“Ah, iya!” kaget Alvino segera meraih minuman dihadapannya.
Lagi-lagi Alvino tidak fokus jadinya tidak menyadari bahwa minuman itu panas.
Uhuk uhuk uhuk
“Hati-hati, Nak! ” ucap Mami Sinta.
Sedangkan Freya berusaha menyembunyikan senyumannya, Papi William yang melihat hal itu justru ikut tersenyum karena menyadari kegugupan putranya. Dia tidak menyangka bahwa putranya yang selama ini bisa merebut tender yang bernilai miliaran menjadi orang yang ceroboh hanya karena seorang gadis.
Setelah drama itu selesai, akhirnya Freya memulai pembicaraannya.
“Maafkan saya karena sudah mengganggu waktu kerja Tuan Alvino yang sangat berharga, saya akan mempercepat apa yang akan saya bicarakan.” Ucap Freya.
“Kedatangan saya kesini tidak lain ingin meminta waktu 3 hari kepada bapak,ibu dan tuan Alvino sebelum menjawab bahwa saya menerima atau tidak lamaran dari tuan Alvino.” Ucap Freya to the point.
“Apa saya bisa mendapatkannya?” tanya Freya sambil menatap Alvino.
“Tentu saja! Tapi jika saya boleh tahu kenapa Nona Freya meminta waktu 3 hari?” tanya Alvino mulai bisa mengendalikan kegugupannya.
“Janji? Janji apa itu, Nak?” tanya Mami Sinta, sementara Alvino sudah was-was.
Freya tersenyum sebelum menjawab, “Saya tidak akan bohong kepada kalian, saya memiliki janji dengan seseorang bahwa dia akan melamar saya setelah saya lulus profesi. Jadi waktu tiga hari yang saya minta untuk memberinya kesempatan dan untuk menepati janji yang telah saya buat untuknya.” Freya menatap Alvino yang kini menunjukkan ekspresi sedih.
“La-lalu ba-bagaimana jika dia melamar Anda dalam waktu tiga hari itu? Apakah Anda akan menerimanya?” tanya Alvino berusaha tersenyum.
“Saya tidak bisa memutuskan apa harus menerimanya atau tidak, karena saya melakukan itu hanya untuk menepati janji yang telah saya buat. Untuk itu juga saya akan melakukan sholat istikharah. Mengapa saya belum menjawab lamaran dari Tuan karena tidak baik untuk seorang pria melamar seorang wanita di atas lamaran orang lain. Saya harap tuan Alvino bisa memberikan waktu tiga hari itu untuk saya.” Ucap Freya.
“Nak, apakah tidak ada permintaan lain selain itu? Itu sangat sulit dilakukan.” Ucap Mami Sinta yang ikut sedih melihat putranya.
“Maafkan saya bu, hanya itu permintaan yang ingin saya minta. Apakah bapak dan ibu ingin memiliki menantu yang tidak bisa menepati janjinya?” tanya Freya balik.
Semua terdiam, lalu tiba-tiba Alvino bicara, “Baiklah, saya berikan waktu tiga hari itu untukmu! Saya harap setelah waktu tiga hari itu berlalu kau bisa memberi keputusan yang bijak. Saya akan berusaha menerima keputusanmu apapun itu.” Freya tersenyum mendengarnya.
“Baik, saya pasti akan menepati janji itu, sekarang hari Jumat pukul 14.27 maka saya pasti akan memberi keputusan Senin pukul 14.27.” ucap Freya.
Pembicaraan itu pun selesai, Freya pun izin pamit pulang. Sementara Alvino merasa bodoh kenapa dia tidak menyelidiki pria yang dekat dengan Freya selain Faisal.
“Nak, Mami yakin kau pasti berjodoh dengannya! Waktu tiga hari itu pasti cepat berlalu” ucap Mami Sinta menghibur putranya.
__ADS_1
“Papi yakin putra papi adalah yang terbaik!” ucap Papi William menyemangati putranya.
Alvino pun segera kembali ke kantornya namun diperjalanan hingan sampai perusahaan Alvino tetap memikirkan siapa pria itu, bahkan Devano bicara saja tak dia tanggapi.
“Tuan,, tuan,,” panggil Devano.
“Ah, iya. Ada apa?” tanya Alvino.
“Gak tuan gak ada apa-apa hanya saja saya merasa bahwa tuan punya masalah, bukankah tadi tuan sangat bahagia menemui Nona Freya tapi kenapa sekarang tuan sedih. Apakah nona Freya menolak lamaran Anda?” tanya Devano karena melihat perubahan yang sangat signifikan diwajah tuannya. Tadi sebelum menemui Freya dia sangat bahagia tapi setelah kembali wajahnya seperti pakaian kusut.
“Gak dia gak menolak lamaranku maupun menerimanya tapi dia meminta waktu tiga hari untuknya menepati janji,,” ucap Alvino pusing.
“Janji? Apakah Nona Freya memliki janji dengan pria lain?” tebak Devano. Alvino hanya mengangguk.
Devano pun yang sudah mengerti akhirnya diam saja karena dia yakin bosnya itu sedang dalam suasana hati yang kurang baik.
Tiba-tiba,
“Kakak! Bagaimana? Apa aku sudah memiliki kakak ipar?” tanya Salwa yang langsung masuk dan duduk di sofa.
Alvino hanya diam tidak membalasnya. Salwa yang merasa aneh karena kakaknya hanya diam saja bahkan tidak memarahinya karena tidak mengucapkan salam sebelum masuk.
“Ada apa?” tanya Salwa kepada Devano dengan suara rendah.
Devano pun hanya diam saja tidak menjawab.
“Kak ada apa? Apa dia menolakmu?” tanya Salwa.
“Vano, bawa Salwa keluar!” ucap Alvino.
Devano pun segera meminta Salwa keluar, Salwa walaupun tidak ingin keluar pun tetap keluar karena melihat Alvino yang sepertinya ingin sendiri.
Devano segera masuk kembali setelah mengantarkan Salwa keluar untuk mengambil berkas yang dia tinggalkan.
“Ah, Hanna. Iya Hanna pasti tau hal ini.” Ucap Alvino tiba-tiba hingga mengagetkan Devano.
Alvino pun segera menelpon Adelio untuk meminta izin bertemu Hanna. Setelah mendapat izin dari Adelio, Alvino pun segera bersiap pergi ke rumah mantan asistennya itu.
“Apa perlu saya antar Tuan?” tanya Devano.
“Gak usah, aku akan pergi sendiri. Aku hanya minta tolong kau hendel pekerjaanku.” Ucap Alvino.
“Baik tuan!” ucap Devano.
Alvino pun segera pergi menuju rumah Adelio.
__ADS_1
Happy Reading Guys!!
Jangan lupa like, koment, vote, gift, dan favoritin,,