Di Kala Cinta Menyapa

Di Kala Cinta Menyapa
Episode 42


__ADS_3

“Nak, tapi putri kami baru saja lulus!” ucap Papa Khabir setelah membaca dokumen keluarga Alvino.


“Saya tahu, saya janji tidak akan melarangnya meraih cita-citanya.” Ucap Alvino.


“Apa tidak masalah putri kami hanya seorang perawat bahkan dia belum selesai wisuda nersnya menjadi menantu dari pemilik perusahaan terbesar?” tanya Papa Khabir.


“Kami bukanlah keluarga yang gila harta. Kami hanya ingin putra kami bahagia. Jika dia bahagia dengan putri kalian maka kami pasti akan merestuinya.” Ucap Papi William tersenyum.


“Kami sangat menyukai putri kalian. Kami sudah pernah bertemu dengannya di rumah sakit. Kami justru akan marah jika putra kami tidak segera melamarnya. Kami takut jika putri kalian akan ada yang melamarnya sebelum kami karena putri kalian selain cantik dia juga sangat penyayang.” Timpal Mami Sinta.


“Terimah kasih atas pujian untuk putri kami.” Ucap Mama Najwa.


“Tapi sebenarnya dia pemarah!” ucap Papa Khabir.


Hal itu membuat mereka tertawa. Mereka pun melanjutkan perbincangan. Nenek Ayesha, Friska dan Friska juga ikut bergabung. Topik pembicaraan mereka adalah Freya tentunya.


Sementara disisi lain, Freya dan Hanna sedang makan setelah kembali dari rumah sakit.


“Aww,,” teriak Freya saat bibirnya tergigit.


“Pelan-pelan dong, Re!” ucap Hanna.


“Sudah pelan-pelan Han, tapi entah kenapa kegigit.” Ucap Freya.


“Sudahlah lanjutkan makanmu, itu sudah pukul 16.46 nanti kamu kemalaman lagi pulangnya.” ucap Hanna.


Mereka pun melanjutkan makan, setelah selesai makan mereka segera keluar dan melaju ke rumah Hanna untuk mengantarnya.


Singkat cerita, Freya sudah kembali dari rumah Hanna dan akan segera pulang tiba-tiba ponselnya bordering.


Drt,, drt,, drt,,


“Halo, Assalamu’alaikum Mah!” ucap Freya.


“Wa’alaikumsalam. Kamu lagi dimana Nak?” tanya Mama Najwa.


“Lagi di rumah Hanna tapi ini sudah mau pulang kok.” ucap Freya.


“Baiklah Mama tunggu dirumah ada yang harus dibicarakan. Penting!” ucap Mama Najwa.


“Iya baiklah.” Ucap Freya.


Telepon pun segera berakhir setelah mengucapkan salam.


Alvino dan keluarganya sudah kembali setengah jam yang lalu.


#####


“Assalamu’alaikum” ucap Freya.


“Wa’alaikumsalam” jawab Frisya tersenyum misterius.

__ADS_1


“Kenapa kau tersenyum seperti itu? Apa ada yang aneh diwajah kakak?” tanya Freya.


Lagi-lagi Friska hanya tersenyum misterius.


Freya pun mengabaikannya dan segera mandi dan mengganti pakaiannya lalu menunggu sholat isya di dalam kamarnya sambil membaca Al-Qur’an. Yah, dia sudah sholat magrib di masjid yang dia lewati dijalan.


Setelah selesai sholat isya, diapun segera menuju meja makan. Dia makan hanya sendiri karena melewatkan makan malam tadi saat dia mandi. Setelah selesai makan diapun segera bergabung dengan keluarganya di ruang keluarga.


“Duduk!” ucap Mama Najwa.


“Ada apa sih? Kok mama sampai menelpon mengatakan bahwa ada yang penting yang harus dibicarakan. Emang sepenting apa?” tanya Freya setelah duduk.


“Sangat penting kak!” ucap Friska.


“Iya, sangat penting. Ini menyangkut hidup dan mati kakak!” timpal Frisya.


“Hahahh,, seperti malaikat maut saja.” Ucap Freya tertawa sambil makan camilan yang ada dihadapannya.


“Tapi ini serius, Nak!” ucap Papa Khabir.


“Ah, Papa! Jangan membuatku takut. Gak mampan!” ucap Freya.


“Kami serius Nak!” ucap Mama Najwa.


“Jadi ini benar serius ya? Kok Reya jadi takut? Emang kenapa sih?” tanya Freya sambil makan camilan.


Tidak ada yang menjawab semua terdiam.


“Kenapa sih?” tanya Freya lagi.


“Hahahah,, Candaan nenek gak lucu tahu. Melamar? Hahah,, itu gak mungkin.” Ucap Freya lagi-lagi tertawa.


Semua keluarganya hanya memandangnya diam, setelah sadar hanya dia sendiri yang tertawa, “Hmm,, jadi apa benar ada yang melamar Reya?” tanya Freya.


“Iya benar. mereka baru saja pulang saat Mama menelponmu tadi.” Ucap Mama Najwa.


“Pah, serius ada yang melamar Reya?” tanya Freya kepada Papahnya dan Papa Khabir hanya mengangguk.


“Ah, kalian pasti bercanda! Gak mungkin ada yang melamarku.” Ucap Freya yang masih mengganggap hal itu candaan.


“Kakak, kami gak bercanda. Tadi memang ada yang melamarmu. Siapa yah namanya tadi,,” ucap Friska.


“Kak Alvino” ucap Frisya.


“Yah, benar kak Alvino.” Ucap Friska.


Freya pun segera melihat kedua orang tuanya dam mereka hanya mengangguk membenarkan.


“Jadi benar? Tapi Reya gak mengenal orang ini. Siapa namanya? Oh, Alvino. Reya gak mengenalnya. ” ucap Freya mulai serius.


“Dia sudah mengatakan itu, dia mengatakan bahwa kau melupakannya tadi kalian pernah sekali bertemu, kamu menolongnya.” Ucap Papa Khabir.

__ADS_1


Kedua orang tua Freya menjelaskan semuanya bahkan sampai dokumen identitas keluarga Alvino pun diberikan kepada Freya untuk dibaca. Freya pun mendengarkan dan membaca semuanya tapi dia tetap tidak bisa ingat bahwa dia pernah menolong pria yang bernama Alvino.


“Sinta Khalida Putry? Ah, ini ibu itu, yang Reya tolong saat kecelakaan waktu itu.” Ucap Freya setelah ingat.


“Iya, tadi juga mereka mengatakan itu.” Ucap Mama Najwa.


“Tapi Mohammad Alvino Putra Aryawiguna? Dimana aku menolongnya? Ah, Reya gak ingat.” Ucap Freya.


“Sudahlah jangan kamu paksakan jika tidak ingat.” Ucap Papa Khabir.


“Lalu bagaimana keputusanmu soal ini Nak?” tanya Mama Najwa.


“Reya gak tahu Mah. Reya butuh waktu untuk memutuskannya tapi pasti Reya akan segera memberitahu Mama jika sudah ada keputusannya. Reya akan melakukan sholat istikharah dulu.” Ucap Freya.


“Baiklah kami akan menunggu keputusanmu,Nak. Apapun keputusanmu nanti kami pasti akan mendukungmu.” Ucap Papa Khabir yang diangguki oleh Mama Najwa.


“Makasih Mah,Pah. Kalian selalu ada untuk Reya.” Ucap Freya memeluk kedua orang tuanya itu.


Setelah itu Freya segera menuju kamarnya.


#####


Dua hari kemudian, saat ini mereka sedang duduk di ruang keluarga setelah sarapan. Hanya ada Freya dan kedua orang tuanya juga Nenek Ayesha karena kedua adik Freya sedang sekolah. Freya tinggal menunggu jadwal wisudanya dan setelah wisuda dia akan segera bekerja di rumah sakit.


“Mah, apa bisa Reya bicara dengan ibunya tuan Alvino itu?” tanya Freya tiba-tiba.


“Tentu saja Nak! Apa yang ingin kamu bicarakan?” tanya Mama Najwa.


“Reya ingin bertemu dengan mereka sebelum Reya memutuskan karena Reya belum mendapatkan keputusan setelah melakukan sholat istikharah dua hari ini.” Ucap Freya.


“Baiklah, tunggu sebentar Mama telepon dulu.” Ucap Mama Najwa.


Tuut,, tuut,, tuut,,


“Halo, Assalamu’alaikum Jeng?” ucap Mami Sinta dari seberang.


“Wa’alaikumsalam Jeng. Maaf mengganggu waktunya. Ini putry saya ingin bicara. Apa bisa?” tanya Mama Najwa.


“Tentu saja bisa Jeng.” Ucap Mami Sinta.


Mama Najwa pun menyerahkan ponsel kepada Freya.


“Halo, Assalamu’alaikum ibu. Ini Freya!” salam Freya.


“Wa’alaikumsalam Nak. Iya, kamu ingin bicara dengan Mami?” tanya Mami Sinta.


“Iya, benar Ibu!” ucap Freya.


Freya pun mengatakan tujuannya menelpon yaitu ingin menemui Alvino dan kedua orang tuanya karena ada yang harus dia bicarakan. Mami Sinta pun menyetujuinya. Freya pun segera bersiap setelah sambungan telepon terputus.


Kira-kira apa yang akan dibicarakan Freya? Apa Freya akan menerima lamaran Alvino?

__ADS_1


Happy Reading Guys !!


Jangan Lupa Like, Koment, Vote, Gift dan Favoritin yaa,,


__ADS_2