
Singkat cerita, kini akhir pekan dan seperti rencana sebelumnya. Sore ini Alvino dan Freya akan mengajak semua keluarga barbeque sekaligus mengumumkan kehamilan Freya.
Semua di undang, keluarga Alvino yaitu Mami Sinta dan Papi William, Salwa dan kedua orang tuanya. Perlu diketahui bahwa Alvino sudah tidak lagi memiliki kakek dan nenek baik keluarga ibu maupun ayah begitu juga dengan Salwa. Selain itu juga Papi William dan Papi Budiman Stevano, ayahnya Salwa sama-sama anak tunggal. Jadi tinggal hanya Mami Sinta dan Mami Santi Khaliza Putry yang bersaudara.
Keluarga Freya pun di undang, ada Mama Najwa, Papa Khabir, Friska dan Frisya ada juga nenek Ayesha serta Zein dan Devina kekasihnya. Ada juga Hanna dan Adelio. Tidak lupa juga Devano hadir. Bibi Wati dan Bibi Mia juga datang. Semua sudah berkumpul di sebuah danau di Vila keluarga Alvino di pegunungan.
Acara barbeque ini sudah dimulai sesudah ashar karena seluruh keluarga sudah tiba sebelum zuhur.
“Ini sayang untukmu.” Ucap Alvino sambil menyerahkaan daging ayam yang sudah dibakar oleh Alvino karena dia tahu sang istri gak pemakan daging sapi.
“Terimah kasih hubby.” Ucap Freya.
Mereka pun makan-makan sambil bercanda disana.
“Nona, ini untukmu.” Ucap Devano.
“Emm,, letakkan saja disana.” Ucap Salwa.
Devano pun melakukannya dan dia pun hanya memandang Salwa penuh arti.
Disisi lain ada sepasang mata yang melihatnya.
Entah apa yang terjadi dengan Salwa dan Devano tapi satu hal yang pasti Salwa menepati janjinya untuk tidak datang ke kantor Alvino lagi dan menjauhi Devano.
***
Kini mereka kembali melanjutkan acara bakar-bakar mereka setelah menunaikan sholat magrib.
“Ahmm,, maaf mengganggu waktunya sedikit. Kami berdua ingin mengatakan sesuatu.” Ucap Alvino sambil memeluk Freya disampingnya berdiri didepan seluruh keluarga. sementara Hanna hanya tesenyum karena sudah bisa menebak apa yang akan dilakukan Freya dan Alvino.
Seluruh keluarga pun memandang mereka, “Devano nyalakan!” pinta Alvino.
Devano pun hanya menuruti perintah tuannya itu tanpa tahu apa sebenarnya yang ingin disampaikan tuannya karena dia hanya diberitahu untuk menyalahkan laptop dan LCD yang tersedia.
Tiba-tiba terputarlah sebuah video, “Halo, kakek-nenek, aunty-uncle.” Itulah yang terlihat di video pertama kali.
“Apa maksudnya sih sayang?” tanya Mami Sinta.
“Lihat aja mih.” Sela Papi William.
Video pun berlanjut dan terlihatlah foto tespeck dengan garis dua lalu selanjutnya foto USG.
“Sayang , apa kamu,,” tanya Mama Najwa. Freya hanya tesenyum dan mengangguk.
“Baiklah, mala mini kami berdua secara resmi ingin mengucapkan kepada semuanya selamat kalian telah resmi menjadi calon kakek-nenek dan calon aunty-uncle karena Istriku sedang mengandung usia 8 minggu.” Ucap Alvino.
“Sungguh sayang?” tanya Mami Sinta segera mendekati Alvino dan Freya. Freya hanya mengangguk.
Mami Sinta pun segera memeluk Freya sambil mengucapkan terimah kasih dan sambil mengusap perut rata Freya. Setelah itu Mama Najwa pun segera memeluk putrinya itu. Semua keluarga berbahagia dengan kabar itu pasalnya itu adalah cucu pertama di kedua keluarga dan menjadi cicit pertama untuk Nenek Ayesha.
“Selamat kakak ipar.” Ucap Salwa memeluk Freya.
“Terimah kasih kak.” Ucap Freya.
“Wow, selamat kakak tampanku, akhirnya kau akan jadi ayah.” Ucap Salwa memeluk Alvino.
“Makanya kau cepat cari suami, masa iya anakku akan tetap menjadi kakak dari anakmu.” Ucap Alvino membalas pelukan Salwa.
“Hahhah, suami aja aku belum punya kak masa iya sudah mau punya anak aja.” Ucap Salwa.
“Makanya dicari dong dek. Nanti kamu jadi perawan tua.” Goda Alvino sementara Freya hanya menatap Salwa dengan dalam.
“Selamat tuan, nona.” Ucap Devano.
“Terimah kasih.” Ucap Alvino dan Freya bersamaan sementara Salwa segera pergi.
“Selamat Rereku sayang!” ucap Hanna memeluk Freya.
“Selamat Bro.” ucap Adelio kepada Alvino.
Setelah itu, Friska dan Frisya yang mengucapkan selamat.
“Selamat kakak dan kakak ipar.” Ucap Friska dan Frisya bersamaan.
Freya pun segera memeluk kedua adiknya itu karena mereka terakhir kali bertemu hanya saat unduh mantu Freya dan Alvino. Alvino hanya tersenyum melihat itu karena dia mengerti pasti Freya merindukan adik-adiknya.
“Kakak, dia akan jadi keponakan pertama kita yaa..” ucap Friska mengusap perut Freya.
“Iya, ah senangnya aku akan jadi aunty muda.” Ucap Frisya ikut mengusap perut kakaknya itu.
Semua keluarga mengucapkan selamat.
__ADS_1
***
Setelah acara pengumuman itu selesai, kini Alvino dan Freya bercerita dengan Hanna dan Adelio.
“Tuan Vino, aku mau mengatakan satu rahasia Reya.” Ucap Hanna.
“Han, rahasia apaan? Sepertinya gak ada deh.” Ucap Freya.
“Asal tuan Vino tau saja Hanna pernah bertanya saat kami semester tujuh mungkin itu pertama kali tuan dan Reya bertemu karena saat itu dia hampir terlambat untuk konsultasi judul proposalnya. Hanna pun menanyakan alasannya dia pun menceritakan semuanya tapi saat Hanna bertanya apa pemuda yang ditolongnya itu apa tampan dan tuan Vino tau apa jawabannya,, jawabannya hanya lumayan.” Ucap Hanna.
Adelio pun tertawa karena mantan bosnya itu ternyata seperti itu dimata Freya padahal bagi seluruh gadis Alvino adalah idola karena ketampanannya bahkan di Jerman pun seperti itu.
Freya pun hanya tersenyum mengingat itu, “Beneran sayang begitu jawabanmu?” tanya Alvino.
“Itu,, iya. Saat itu Reya terburu-buru jadi gak terlalu ingat.” Ucap Freya mengelak.
“Hmm,, bohong tuan Vino. Saat itu dia mengatakan bahwa dia tidak salah mengingat.” Ucap Hanna.
“Tapi Han saat itu juga aku mengatakan bahwa lumayan itu sudah masuk standart kan.” Ucap Freya.
“Tuh, tuan dengar sendiri kan.” Ucap Hanna.
“Terus apa sekarang tetap lumayan?” tanya Alvino sambil memeluk Freya dari samping.
“Hmm,, itu gak tau.” Ucap Freya.
Mereka semua pun tertawa namun disisi lain Salwa hanya termenung diam begitupun Devano yang tidak pernah lepas melihat ke arah Salwa. Tiba-tiba Salwa berdiri dan menuju tempat microphone ada.
“Hmm,, maaf mengganggu semuanya. Salwa disini ingin mengatakan kepada Papi dan Mami dan semua yang ada disini bahwa Salwa menerima perjodohan yang Papi dan Mami rencanakan.” Ucap Salwa, hingga membuat semua orang kaget terutama seseorang yang dari tadi menatap Salwa penuh arti.
“Tapi nanti setelah Salwa kembali dari Singapore. Salwa akan berangkat besok karena ada urusan pekerjaan yang harus Slawa selesaikan disana.” Lanjut Salwa tersenyum sambil menatap pada seorang pria. Freya yang menyadari tatapan Salwa pun mengikuti tatapan adik iparnya itu.
“Ini beneran kau akan ke Singapore? Kok kakak gak tahu?” tanya Alvino.
“Beneran kakak tampanku, sebenarnya kepergianku sudah tertunda seminggu karena masih ada sesuatu yang harus aku tunggu tapi sekarang sepertinya aku memang harus pergi karena yang kutunggu tidak mungkin datang. Jangan sedih dong kakakku, dengan begini aku tidak akan menganggumu diperusahaan dengan kedatanganku tiap minggu. Aku pasti akan pulang sebelum kakak ipar melahirkan, aku akan membelikan keponakanku oleh-oleh yang banyak.” Ucap Salwa tersenyum.
“Kau akan pergi berapa lama?” tanya Alvino.
“Aku gak tahu kak, tapi aku pasti akan kembali nanti setelah semuanya baik-baik saja.” Ucap Salwa.
Freya pun hanya mendengar sambil meresapi semua perkataan Salwa yang mengandung makna tersirat.
“Dan untuk perjodohan itu gak benar kan? Masa iya adik kakak yang cantik ini gak bisa menemukan jodohnya sendiri.” Ucap Alvino.
“Paman, Bibi ini gak benar kan bahwa Salwa akan dijodohkan? Laki-laki yang akan menjadi suami adikku harus lolos seleksiku dulu paman bibi. Seperti Salwa yang menyeleksi calon istriku maka aku pun akan menyeleksi calon suaminya.” Ucap Alvino.
“Vino paman memang berniat menjodohkannya karena umurnya sudah tidak muda lagi, istrimu saja lebih muda 2 tahun darinya. Jadi paman ingin menjodohkannya.” Ucap Papi Budiman.
“Bibi juga ingin segera memiliki cucu seperti mamimu Vin.” Timpal Mami Santi.
“Pokoknya calon suaminya harus lolos seleksiku paman, bibi.” Ucap Alvino.
“Kami pasti akan menyerahkan itu padamu.” Ucap Papi Budiman dan diangguki oleh Mami Sinta.
Sementara Salwa merasa bersalah kepada kakak iparnya, “Maaf kakak ipar.” Ucap Salwa.
Freya pun hanya tersenyum, “Terima kasih kak Salwa telah menyetujuiku menjadi istri kakakmu.” Ucap Freya memeluk Salwa.
“Hahhahah, kau sangat baik kakak ipar. Selain itu kau juga sangat cantik. Bagaimana mungkin aku tidak merestuimu menjadi kakak iparku.” Ucap Salwa membalas pelukan kakak iparnya.
“Aku pasti akan membantumu meraih cintamu kak.” Batin Freya memandang Salwa.
“Kak, aku punya sesuatu untukmu. Sebentar aku ambil!” ucap Freya segera masuk Vila.
Tidak lama Freya keluar sambil membawa sesuatu ditangannya, “Ini terimalah kak. Aku tahu kau tertarik tapi hatimu masih ragu.” Ucap Freya.
Salwa pun segera menerimanya dan melihatnya yang ternyata isinya gamis dan hijab, “Terima kasih kakak ipar, aku akan meyakinkan hatiku.” Ucap Salwa memeluk Freya.
“Aku mendukungmu kak.” Ucap Freya memeluk kakak iparnya itu.
Semua acara pun segera selesai, mereka pun segera masuk Vila dan istirahat. Semua keluarga istirahat di vila dan akan kembali esok nanti.
***
Salwa pun segera pergi istirahat tiba-tiba ada yang menariknya, “Apa kau akan pergi?” tanya orang yang menariknya.
“Apa pedulimu aku pergi atau tidak? Bukankah ini yang kau suka, aku menjauh darimu. Aku menuruti keinginanmu. Lalu kenapa sekarang kau melakukan ini? Jangan membuatku kembali bimbang kak.” Ucap Salwa.
“Aku,,” ucap Devano, yah pria yang menariknya itu Devano.
“Aku tahu kau gak mencintaiku, aku pun gak akan memaksamu. Mohon lepaskan tanganku kak.” Ucap Salwa.
__ADS_1
Devano justru langsung menarik Salwa ke pelukannya sementara Salwa berusaha menahan tangisnya karena dia tidak mengerti dengan semua sikap Devano.
“Maafkan aku melakukan ini setidaknya untuk pertama dan terakhir kalinya.” Batin Devano memeluk Salwa erat.
“Lepaskan aku kak, nanti akan ada yang melihatnya. Jangan membuatku merasa bahwa kau memiliki perasaan padaku juga kak.” Ucap Salwa segera melepas pelukannya dan berlari masuk Vila yang disediakan untuk keluarganya.
Sementara Devano hanya melihat kepergian Salwa dengan tatapan sedih.
“Ini mungkin yang terbaik untuk kita.” Batin Devano. Devano pun segera masuk Vila untuknya.
Tanpa mereka sadari ada sepasang mata yang melihat kegiatan mereka barusan.
“Sayang apa yang kau lihat?” tanya Alvino memeluk Freya dari belakang.
“Gak ada kok, aku hanya melihat bintang.” Ucap Freya segera menghadap suaminya dan memeluk suaminya itu.
“Tutup jendelanya sayang, angin malam gak baik untukmu dan anak kita.” Ucap Alvino segera menutup jendela.
Setelah itu Alvino segera menggendong Freya ke ranjang mereka dan istirahat. Alvino dan Freya pun tidur saling berpelukan.
...Cinta itu rumit tapi cinta juga mudah
...
...Cinta itu membahagiakan tapi juga menyedihkan
...
...Cinta itu dapat membuat seseorang berubah jadi baik mapun menjadi jahat
...
...Cinta itu kadang membuat orang gila
...
...Kadang juga Cinta dengan susah payah di raih namun saat sudah didapat justru dilepaskan
...
...Tapi
...
...Cinta itu murni hanya orang-orang yang membuat cinta itu menjadi sesuatu yang salah.
...
...Pada hakikatnya semua makhluk membutuhkan cinta
...
...Butuh perjuangan untuk memiliki cinta sejati
...
...END
...
...Sampai Jumpa di Season 2
...
*
*
Season 2 akan author up entah lapak baru atau tetap disini, intinya nantikan saja. Author akan up nanti setelah author tidak lagi sibuk di dunia nyata tapi secepatnya pasti jadi jangan dulu di unfavorit😊
*
*
Season 2 akan membahas tentang kelahiran anak Alvino dan Freya. Selain itu akan menjawab rahasia apa yang terjadi antara Salwa dan Devano?😊
Pokoknya nantikan season 2-nya.🙏🏻🙏🏻
*
*
__ADS_1
Jangan lupa like, komen, vote, beri gift dan favoritin agar author semangat melanjut season 2.🙏🏻😊
Mohon maaf jika banyak typo guys.🙏🏻