
Kini Alvino dan Freya hanya berdua di ruang rawat tersebut, eehh bertiga dengan baby A. Semua keluarga sudah pulang ke rumah mereka masing-masing untuk menyambut kedatangan anggota keluarga baru mereka.
“Sayang, ini untukmu!” ucap Alvino sambil mengeluarkan sebuah kotak.
Freya pun menatap suaminya lalu menerima kotak tersebut dan membukanya, “Ini untukku?” tanya Freya menatap sebuah kalung berlian yang sangat indah.
“Iya itu untukmu sayang. Aku tahu walau aku memberikan hadiah semahal apapun untukmu tidak akan pernah bisa menyamai hadiah yang kau berikan padaku. Terima kasih telah memberiku putra yang sangat tampan seperti dia.” Ucap Alvino mengecup kening Freya.
“Hubby! Terima kasih hadiahnya. Ini sangat indah, aku sangat menyukainya. Tapi bagaimana aku memakainya? Aku kan berhijab.” Ucap Freya.
“Yaa jadikan saja koleksimu sayang.” Jawab Alvino enteng.
“Ouh My Lord ini itu sangat mahal dan kau menyuruhku menjadikannya koleksiku?” ucap Freya tidak percaya karena setiap Alvino memberikan barang mewah untuknya selalu saja begitu jawaban suaminya.
“Yaa jika begitu terserah padamu Queen. Terserah mau kau apakan itu adalah milikmu.” Jawab Alvino.
“Baiklah. Terima kasih. Sepertinya memang mereka hanya menjadi koleksiku.” Ucap Freya karena bukan hanya Alvino yang membelikannya perhiasan seperti itu tapi Mami Sinta juga. Mama Najwa juga saat dia menikah memberikannya perhiasan yang sangat indah. Dan semua perhiasan itu hanya disimpan Freya.
Alvino pun hanya tersenyum melihat istrinya yang pusing mau di apakan perhiasan itu.
***
Dua hari berlalu dengan sangat cepat, Kini Freya sudah diperbolehkan pulang dan semua orang sudah berkumpul di kediamannya orang tua Alvino untuk menyambut kedatangan anggota baru keluarga mereka.
Begitu Freya dan Alvino turun semuanya menyambut dengan meriah dan ruang tamu rumah itu sudah di hiasi dengan balon-balon warna biru.
“Kakak!” panggil Friska dan Frisya segera berlari memeluk kakak mereka itu.
Freya pun menyambut kedua adiknya itu dengan merentangkan tangannya, “Kakak kami sangat merindukanmu. Kenapa kau gak pernah pulang?” tanya Friska.
“Iya kak. Kami membencimu. Kamu sudah melupakan kami.” Sambung Frisya.
Freya pun hanya tersenyum, “Maaf!” hanya itu kata yang bisa Freya katakan karena memang benar dia sudah lama pulang ke rumah orang tuanya hanya saat dia baru saja hamil dan terakhir kali mereka ketemu saat acara 7 bulanan Freya.
__ADS_1
“Riska, Risya bawa kakak kalian kedalam. Kakak kalian itu baru saja melahirkan.” Ucap Mama Najwa dari dalam karena baby A saja sudah di dalam. Sudah di bawa oleh Mami Sinta ke dalam.
“Sayang, ayo kita kedalam.” Ajak Alvino yang dari tadi setia menunggu istrinya.
Freya pun segera masuk ke dalam begitu kedua adiknya itu melepaskan pelukan mereka. Freya pun segera duduk di tempat yang telah di sediakan karena akan di adakan khatam Qur’an untuk menyambut kedatangan baby A dan juga untuk menyempurnakan satu Al-Qur’an yang selama ini Freya dan Alvino bacakan untuk baby A selama di dalam kandungan. Jadi saat baby A lahir maka segera di adakan khatam Qur’an sesuai dengan permintaan Freya.
Acara khatam Qur’an pun berjalan lancar. Acara itu juga di rangkaikan dengan pemberitahuan nama baby A kepada seluruh keluarga. Baby A banyak menerima hadiah dari seluruh keluarga dan sahabat, bahkan papi William dan Mami Sinta berlomba-lomba memberikan hadiah terbaik untuk cucu mereka itu.
“Nak, jadilah anak yang taat kepada orang tuamu, taat kepada agama dan berguna bagi bangsa. Ohiya ini hadiah dari kakek untukmu.” Ucap Papi William memberikan sebuah dokumen kepada baby A. Freya pun mengambilnya karena saat itu baby A dalam pangkuannya lalu Freya memberikan itu kepada suaminya.
“Apa papi memberikan kertas saja untuk cucu kita?” tanya Mami Sinta.
“Kertas tapi bukan sembarang kertas. Emang mami memberikan apa kepada cucu kita?” tanya Papi William balik.
Mami Sinta pun segera mengambil hadiahnya untuk cucunya itu dan memberikannya kepada Alvino dan segera memandang papi William sinis.
Alvino yang melihat orang tuanya itu hanya tersenyum, “Vino segera buka hadiah dari kami dan segera beritahu hadiah siapa yang terbaik.” Ucap Mami Sinta.
“Iya segera buka.” Timpal Papi William.
Papi William tersenyum dan mengangguk, “Dia adalah cucu pertamaku, dia adalah masa depan kita.” Ucap Papi William sambil menatap cucunya.
“Emang apa yang papimu berikan?” tanya Mami Sinta segera mengambil dokumen itu dari tangan Alvino, “Ternyata hadiah papi sangat besar, aku menyetujuinya. Papi memang the best.” Puji Mami Sinta setelah membaca dokumen itu yang ternyata adalah pengalihan saham miliknya di Aryawiguna Group kepada cucunya itu. Freya pun ikut membaca dokumen itu.
“Apa papi yakin? Karena tanpa memberi saham itupun suatu saat nanti perusahaan itu akan jadi miliknya. Apa papi lupa berapa sahamku disana?” tanya Alvino.
“Papi tahu sahammu disana pun sangat besar tapi ini hanyalah hadiah papi untuk cucu papi. Apa gak boleh?” tanya Papi William.
“Sudahlah nak. Terimalah itu!” ucap Mami Sinta.
“Baiklah terima kasih pih.” Ucap Alvino. Papi William pun hanya tersenyum.
Setelah itu pun semua keluarga bergantian memberi doa dan hadiah mereka. Salwa pun tidak ketinggalan dengan hadiah mewahnya begitu juga dengan papi Budiman dan mami Santi. Mama Najwa dan Papa Khabir juga tidak lupa memberikan hadiah terbaiknya untuk cucu pertama mereka. Semua orang memberikan hadiahnya, akhirnya satu kamar pun penuh dengan hadiah.
__ADS_1
***
Malam harinya, “Sayang, apa masih sakit lukanya?” tanya Alvino.
“Masih perih hubby tapi udah gak apa-apa kok.” jawab Freya.
“Terima kasih!” ucap Alvino mengecup kening istrinya itu.
“Apa hubby tidak lelah mengucap terima kasih terus. Dari aku melahirkan hubby terus mengatakan itu sampai sekarang.” Ucap Freya tertawa.
“Aku tidak akan pernah lelah mengatakannya Queen.” Jawab Alvino.
“Ah terserahlah!” jawab Freya.
“Ohiya sayang, kamu ingin kapan aqiqahnya putra kita?” tanya Alvino sambil melihat putranya yang sedang tertidur pulas di box bayinya.
“Ya seharusnya kan hari ketujuh tapi bukankah perjodohkan kak Salwa akan segera di adakan juga.” Jawab Freya.
“Ah iya aku melupakan perjodohan Salwa. Tenang saja aku akan mengatur ini semua. Pokoknya kita adakan aqiqahnya hari ketujuh. Kamu jangan pikirkan apapun biar hubby yang melakukannya.” Ucap Alvino.
Freya pun hanya mengangguk karena percuma dia menolak karena Alvino tetap tidak akan mengizinkannya. Alvino itu sangat posesif kepada Freya dan sekarang hal itu dia terapkan kepada putranya.
Tiga hari kemudian, kini acara aqiqahnya baby A di adakan dengan sederhana hanya dihadiri oleh keluarga mereka karena Freya tidak ingin putranya terekspos. Alvino pun hanya menurutinya karena menurutnya itu juga yang terbaik untuk anak mereka. Seluruh keluarga tentu saja menyetujui hal itu. Acara aqiqah itu pun berjalan lancar tanpa kendala.
*
*
*
Happy reading guys !!😊
Jangan lupa like, komen, vote, dan favoritin.😊🙏🏻
__ADS_1
Mohon maaf jika ada typo guys.🙏🏻😉
Mohon mampir dong dinovel author yang berjudul “Takdir Hidup Zia”. Author tunggu kedatangannnya, mohon tinggalkan jejak yaa!!🙏🏻🥺😉