Di Kala Cinta Menyapa

Di Kala Cinta Menyapa
Episode 39


__ADS_3

Sebulan berlalu, kini Freya dan Hanna sudah tidak lagi praktek di rumah sakit F, mereka sudah ditarik tiga hari yang lalu. Kini mereka sedang menyusun laporan akhir profesi. Hanna setelah menikah belum melakukan bulan madu, dia sudah masuk kerja hari kelima setelah menikah. Hal itu sudah menjadi kesepakatan antara Hanna dan Adelio sebelum menikah, Hanna masih tetap harus melanjutkan pendidikannya.


“Re, sudah sampai mana laporanmu?” tanya Hanna saat mereka sedang berada di kantin.


“Sudah masuk isinya.” Jawab Freya.


“Wah, aku ketinggalan dong.” Ujar Hanna dan hanya dibalas senyuman oleh Freya.


“Re, jika kita sudah lulus, apa yang akan kau lakukan?” tanya Hanna.


“Yah, tentu saja melamar pekerjaan Han, tapi sebelum itu aku harus ikut ujian UKOM dulu.” Ucap Freya.


“Ah, iya. Kok aku lupa kita harus mendapatkan itu dulu. Kapan pendaftarannya?” ucap Hanna.


“Dari yang aku dengar, Januari pendaftarannya untuk kepastiannya masih menunggu.” Ucap Freya.


“Berarti sudah tidak sampai dua bulan dong, sekarang sudah November.” Ucap Hanna.


“Yah, makanya kita harus segera menyelesaikan laporan akhir kita agar bisa mendaftar karena jika tidak kita masih harus menunggu.” Ucap Freya.


“Hmm,, sepertinya kita harus segera menyelesaikan laporan ini.” Ucap Hanna.


Akhirnya mereka pun melanjutkan percakapan mereka sambil menyusun laporan.


#####


Sementara disisi lain.


“Lio, kau serius dengan perkataanmu ini?” tanya Alvino.


“Benar tuan, saya ingin mengundurkan diri.” Ucap Adelio.


“Apa yang membuatmu mengundurkan diri, apa kau tidak nyaman bekerja disini atau gajimu kurang? Jika memang gajimu kurang aku akan segera menaikkan gajimu.” Ucap Alvino.


“Bukan seperti itu tuan, bekerja denganmu sangat nyaman dan gaji yang kau berikan tidak pernah kurang untukku, hanya saja aku ingin membangun usahaku sendiri. Kau memang bosku tapi kau selalu memperlakukanku sebagai temanmu. Aku sangat menyayangimu, tapi ini sudah jadi keputusanku.” Ucap Adelio.


“Sepertinya kau memang serius dengan perkataanmu. Apa ini sudah jadi keputusanmu dan istrimu?” tanya Alvino.


“Iya, Hanna mendukung apapun yang aku lakukan. Tapi kau tenang saja aku tetap aka nada disini. Aku tidak akan pergi jauh, jadi jika kau membutuhkanku maka telepon saja aku. Aku pasti akan membantumu!” ucap Adelio.


“Baiklah, aku mengizinkanmu mengundurkan diri karena ini adalah keputusanmu tapi bisakah aku sedikit meminta bantuanmu, anggap saja ini permintaan dari seorang teman.” Ucap Alvino.


“Hey, aku pasti akan membantumu! Katakan apa yang harus aku lakukan?” ucap Adelio.


“Kau kan tahu bahwa selama ini kau adalah asisten yang sangat aku percayai, bisakah kau mencarikanku pengganti yang sama handalnya seperti dirimu? Juga bisakah kau mengajarinya apa yang harus dia lakukan sebelum kau mengundurkan diri?” ucap Alvino.

__ADS_1


“Baiklah, tentu saja aku akan melakukan itu untukmu. Aku akan mencarikanmu asisten yang bahkan lebih handal dariku. Aku juga akan mengajarinya dan juga membereskan pekerjaanmu sebelum aku mengundurkan diri.” Ucap Adelio.


“Terima kasih atas bantuanmu. Semoga usaha yang akan kau jalankan berjalan dengan baik. satu hal lagi kau harus ingat bahwa kau memiliki aku, katakan jika kau memiliki kesulitan aku pasti akan membantumu. Jika perlu aku akan menjadi investor untuk usahamu.” Ucap Alvino.


“Hahahah,, usahaku saja belum berdiri dan kau sudah mau jadi investornya? Baiklah aku pasti akan melakukan itu, aku pasti akan meminta bantuanmu jika aku memang sudah kesulitan.” Ucap Adelio.


Setelah beberapa lama mereka berbincang akhirnya mereka segera melanjutkan pekerjaan mereka kembali.


#####


Seminggu berlalu, Adelio sudah mendapatkan penggantinya dan saat ini sedang dia ajari serta kebiasaan Alvino.


“Van, kau sudah menyelesaikan berkas yang aku minta?” tanya Adelio.


“Sudah tuan, ini!” ucap Devano.


“Hey, sudah ku katakan padamu bahwa jangan memanggilku seperti itu. Kita ini sama-sama bawahan disini.” Ucap Adelio.


“Saya belum terbiasa tuan!” ucap Devano.


“Baiklah terserah kau saja.” Ucap Adelio pasrah.


Tok tok tok


“Assalamu’alaikum kak Lio dan tuan Vano, saya kesini ingin memberitahukan bahwa tuan Vano dipanggil oleh kakak-eee maksudnya Pak Vino ke ruangannya.” Ucap Salwa.


“Baiklah saya akan segera kesana!” sambung Devano.


“Ah, bersama kak Lio juga ternyata.” Ucap Salwa setelah melihat pesan dari kakaknya itu di ponselnya.


“Baiklah, Ayo Van kita kesana.” Ajak Adelio.


Mereka pun segera menuju ruangan Alvino.


Tok tok tok


“Masuk!” ucap Alvino dari dalam.


Mereka pun segera masuk,


“Duduklah!” ucap Alvino mempersilahkan Adelio dan Devano duduk.


“Wa, kau kenapa kesini? Bukankah tugasmu hanya memanggil mereka kesini, lalu kenapa kau juga ikut masuk?” tanya Alvino yang melihat Salwa juga ikut masuk.


“Kakak, aku juga ingin mendengar apa yang ingin kakak bicarakan.” Ucap Salwa enteng.

__ADS_1


“Huh,, daripada kau menggangguku lebih baik kau lakukan pekerjaanmu atau segera terima jabatan yang diberikan paman dan bibi. Aku sudah bosan memberikan alasan kepada mereka hanya untuk menolongmu.” Ucap Alvino.


“Ah, kakak gak asik. Baiklah aku tidak akan mendengar yang kalian bicarakan.” Ucap Salwa segera keluar.


Salwa bukan tidak ingin mewarisi perusahaan orang tuanya hanya saja dia masih ingin mengikuti kakaknya itu.


Setelah Salwa pergi, Alvino segera bergabung dengan Adelio dan Devano duduk di sofa yang ada dalam ruangannya.


“Baiklah, maaf membuat kalian menunggu, biasa ada sedikit drama.” Ucap Alvino.


“Gak apa-apa tuan!” ucap Adelio dan Devano bersamaan.


“Sudahlah jangan memanggilku tuan, kalian adalah temanku.” Ucap Alvino.


Yah,, baik Adelio maupun Devano adalah teman Alvino. Adelio Ramadan adalah teman yang ditugaskan oleh Papi William mengikuti Alvino kuliah di Jerman sedangkan Devano Darendra Fahrian adalah teman SMA-nya.


Akhirnya mereka pun bicara seperti seorang teman, mereka membicarakan perkembangan Devano dan juga pengunduran diri Adelio yang diundur seminggu lagi, karena masih harus menyelesaikan pekerjaannya dan juga mengajari Devano.


Sementara disisi lain,


“Han, sudah bagaimana laporanmu?” tanya Freya.


“Aku sedikit lagi sudah masuk penutup, tapi aku yakin akan segera selesai dan menyusulmu merevisi laporanmu.” Ucap Hanna.


“Iya, aku juga yakin kau pasti bisa.” Ucap Freya.


“Tentu saja. Ohiya Re, apa kau belum mengisi seminar lagi?” tanya Hanna.


“Belum Han. Aku mungkin akan mengisi seminar nanti setelah masalah laporan ini selesai.” Ucap Freya.


“Ouh, kupikir kau tidak akan melakukan seminar lagi. Aku juga sudah merindukan melihatmu mengisi seminar” Ucap Hanna.


“Ah, kau bisa saja! Ohiya bagaimana rumah tanggamu dan kak Lio?” tanya Freya.


“Alhamdulillah baik-baik saja Re. Aku beruntung memiliki suami seperti dia. Aku semakin mencintainya.” Ucap Hanna tersenyum.


Freya pun ikut tersenyum karena senyuman Hanna memang benar-benar menunjukkan bahwa dia sedang bahagia.


“Makanya Re, aku selalu ikut apapun keputusannya, termasuk dia mengundurkan diri dari perusahaan dan ingin mendirikan usaha sendiri.” Sambung Hanna.


“Jadi kak Lio mengundurkan diri dari perusahaan? Aku doakan semoga usahamu dan suamimu berjalan lancar dan kau segera hamil.” Ucap Freya.


“Ahhh,, doakan saja ya Re. aku juga ingin segera hamil.” Ucap Hanna sambil mengusap perutnya.


Mereka pun melanjutkan cerita mereka.

__ADS_1


Happy Reading Guys !!


Jangan lupa like, koment, vote, gift dan favoritin,


__ADS_2