
Freya pun hanya tersenyum sambil memandang suaminya karena dia tahu suaminya itu sedang cemburu.
“Kenapa lihat-lihat? Apa ada yang salah?” tanya Alvino.
“Gak, kok. Kakak lucu aja jika begitu.” Ucap Freya tersenyum.
Tiba-tiba.
“Hai kakak, kakak ipar!” ucap Mark yang langsung duduk disamping Freya..
“Hai sayang.” Ucap Freya.
“Bibi ayo makan bersama kami disini, ajak Wina juga.” Ucap Freya.
“Ah, gak usah nyonya. Kami disini saja.” Jawab Bi Wati.
“Bi, ayolah!” ucap Freya.
“Bibi, ayo bergabung. Jangan buat istriku sedih.” Ucap Alvino.
Akhirnya bi Wati dan Wina pun bergabung dengan mereka.
“Kamu!” ucap Mark tiba-tiba.
“Ada apa Mark? Kamu kenal Wina?” tanya Freya.
“Kak dia itu adalah gadis yang aku ceritakan, kamu ingat gak?” tanya Mark.
“Hahahah, jadi Wina gadis yang membuatmu babak belur saat itu?” tanya Freya tertawa sementara Wina sudah takut.
“Kakak, kenapa kau tertawa. Dia itu gadis nakal yang memukulku. Kenapa dia bisa disini?” tanya Mark menatap tajam Wina.
“Mark, gak boleh begitu sama seorang gadis. Dia pasti memukulmu karena punya alasan. Kamu pasti mengganggunya.” Ucap Freya.
“Kak, aku gak mengganggunya. Aku hanya mengajak rambutnya saja” Gumam Mark.
“Pantas saja. Ingat Mark semua gadis itu paling tidak suka jika rambutnya berantakan. Lain kali gak boleh begitu. Ayo minta maaf sama Wina.” Ucap Freya.
“Ah, baiklah. Maaf!” ucap Mark.
Wina pun hanya diam saja.
“Hey, aku minta maaf bodoh!” ucap Mark.
“Mark gak boleh kasar begitu, minta maaf yang benar.” ucap Freya.
“Kak dia itu irit bicara. Aku malas ngomong padanya.” Ucap Mark.
“Wina, apa kamu mau maafin adik kakak?” tanya Freya memandang Wina.
“Tentu nyonya.” Jawab Wina cepat.
Freya pun tersenyum, “Ayo minta maaf dengan benar?” ucap Freya.
“Maaf!” ucap Mark, Wina pun hanya menganggguk.
“Apa kalian sekelas?” tanya Freya.
“Iya kak-nyonya.” Jawab Mark dan Wina bersamaan.
__ADS_1
“Baiklah jika begitu mulai sekarang kalian harus saling menjaga. Mark kamu harus menjaganya. Kamu gak boleh menakalinya, Ingat dia juga adik kakak.” Ucap Freya.
“Baiklah.” Ucap Mark.
“Sayang, apa makan malam ini belum juga dimulai?” tanya Alvino akhirnya.
“Maafkan aku suamiku karena melupakanmu. Baiklah ayo kita makan.” Ucap Freya lalu segera mengambilkan makanan untuk suaminya dan Mark lalu dirinya sendiri.
“Terima kasih kak!” ucap Mark. Freya pun hanya tersenyum.
Acara makan malam itu pun segera berlangsung.
***
Kini Freya masuk ke kamar setelah selesai membersihkan meja dan memastikan Mark sudah mengerjakan tugasnya atau belum. Alvino yang melihat istrinya masuk hanya diam saja karena dia tetap masih cemburu pada istrinya.
Freya pun mengabaikan suaminya dan segera pergi ke kamar mandi, “Ahhh,, dia juga mengabaikanku? Apa dia tidak akan meminta maaf?” gumam Alvino yang melihat istrinya pergi ke kamar mandi.
Kurang lebih lima belas menit akhirnya Freya keluar dari kamar mandi. Alvino pun hanya memandang istrinya sekilas. Freya yang melihatnya hanya tersenyum dan segera mendekati suaminya itu.
“Ada apa? Apa My Lord-ku ini sedang cemburu pada anak kecil?” goda Freya.
Alvino pun hanya diam saja dan tetap mengabaikan istrinya.
Cup
Freya mengecup sekilas bibir suaminya, Alvino yang terdiam karena kecupan sekilas dari istrinya.
“Apa masih marah? Dia itu sepupuku, memang kami bukan mahram tapi semua sepupuku sudah dekat denganku. Lagian juga dia masih kecil. Masa iya suamiku ini cemburu pada anak kecil.” Ucap Freya.
Alvino mengabaikan semua perkataan istrinya dan langsung mengecup bibir istrinya itu dalam. Tidak hanya sekedar kecupan tapi lebih dari itu. Alvino melepaskan ciumannya setelah mereka hampir kehabisan nafas.
“Itu hukuman untukmu karena lebih memilih dia dari pada aku.” Ucap Alvino mengelus bibir istrinya yang bengkak dengan jarinya.
“Iya deh My Lord. Maaf yaa karena tadi Reya mengabaikan Hubby.” Ucap Freya memeluk istrinya erat.
Akhirnya mereka pun segera tidur setelah Alvino membacakan surah untuk calon buah hatinya.
***
Seminggu berlalu, kini Freya mengunjungi suaminya di kantornya untuk membawakan makan siang. Yah, karena ini hari ini jumat maka dia hanya harus mengirimkan laporan saja dan tidak ke rumah sakit jadi dia mengunjungi suaminya. Memang setiap minggu setiap jumat dan sabtu dia akan mengunjungi suaminya dikantor.
Dia selalu membawakan makan siang untuk suaminya bahkan kadang-kadang dia membawakan kue yang dibuatnya untuk dibagikan kepada karyawan Alvino.
“Assalamu’alaikum!” ucap Freya.
“Wa’alaikumsalam.” Jawab Alvino dari dalam.
“Sayang, aku merindukanmu.” Ucap Alvino segera menyambut kedatangan istrinya dengan pelukan bahkan mengabaikan Devano yang ada dalam ruangannya.
“Hubby, ada orang.” Ucap Freya.
“Biarkan saja. Lagian Devano gak melihatnya.” Ucap Alvino cuek.
“Ah, apa aku tidak dianggap. Apa aku lebih baik buta saja.” Gumam Devano. Yah dia selalu melihat kemesraan antara tuan dan nyonyanya itu.
“Makanya segera kau menikah agar kau tidak harus menutup matamu.” Balas Alvino yang ternyata mendengar gumaman Devano.
“Maaf tuan!” ucap Devano.
__ADS_1
“Sayang, ayo duduk. Apa kamu lelah?” tanya Alvino.
“Gak kok, aku baik-baik aja.” Ucap Freya.
Freya pun segera duduk di sofa yang ada di dalam ruangan suaminya itu.
“Tuan, jika begitu saya pergi dulu ke ruangan saya. Saya tidak ingin menjadi nyamuk antara tuan dan nyonya.” Ucap Devano.
“Maka menikahlah kak.” Ucap Freya.
“Ah, nyonya bisa aja.” Ucap Devano.
Devano pun segera berdiri, “Tunggu kak!” ucap Freya tiba-tiba mengenali jas yang dipakai oleh asisten suaminya itu.
“Ada apa sayang?” tanya Alvino.
“Ada apa nyonya?” tanya Devano.
“Gak, jas yang kau gunakan bagus kak.” Ucap Freya.
Tiba-tiba aura dalam ruangan itu seketika menjadi panas, “Vano segera keluar dari sini dan jangan pernah gunakan jas itu lagi. Jika tidak gajimu bulan ini akan aku potong 50%” Ucap Alvino.
Devano yang mendengarnya langsung pergi karena tidak ingin gajinya dipotong, “Baik tuan.” Ucap Devano.
“Gak, kak Vano harus memakainya. Gaji kak Vano gak akan dipotong sepeserpun.” Ucap Freya.
“Nyonya aku mohon.” Batin Devano.
“Ingat kak, jangan pernah kecewakan orang yang memberimu karena dia pasti memberinya dengan ketulusan.” Ucap Freya. Sementara Alvino sudah cemberut karena istrinya memuji pria lain.
Cup
Freya segera mengecup pipi suaminya karena dia tahu suaminya itu saat ini sedang cemburu pada Devano. Alvino pun segera luluh karena istrinya menciumnya di depan asistennya.
“Nyonya saya pergi dulu.” Ucap Devano yang tidak tahan melihat kemesraan mereka dan untuk mencerna perkataan nyonyanya, “Apa nyonya tahu Salwa yang memberikan ini? Ahh,, entah kenapa juga aku memakainya hari ini? Apa karena aku merindukannya? Gak, aku gak boleh merindukannya.” Batin Devano begitu keluar dari ruangan tuannya.
Sementara di dalam.
“Kenapa kau,,” ucap Alvino.
“Stt,, aku tahu hubby gak suka aku memuji pria lain tapi hubby ini aku lakukan untuk seseorang yang mencintainya.” Potong Freya
“Seseorang yang mencintainya? Siapa?” tanya Alvino.
“Kak Salwa.” Jawab Freya.
Freya pun akhirnya menceritakan semuanya kepada suaminya. Semua itu bukan lagi dugaan Freya semata tapi memang sudah diakui oleh Salwa sendiri. Yah, Freya dan Salwa saling menghubungi selama ini.
*
*
*
Happy reading guys !!😊
Jangan lupa like, komen, vote, dan favoritin,,🙏🏻
Mohon maaf jika ada typo guys,,🙏🏻
__ADS_1
Jangan lupa mampir di novel author “Takdir Hidup Zia” mohon tinggalkan jejak yah !!🙏🏻😊
Maaf baru sempat lanjutin novel ini lagi karena author sangat sibuk di dunia nyata. Tapi akan author usahakan untuk tetap up kok.🙏🏻