
Tiga hari berlalu, kini Salwa mendatangi Freya di rumah aunty-nya.
“Kakak ipar, apa menurutmu aku harus menerima perjodohan itu?” tanya Salwa sambil berguling-guling di ranjang kakak dan kakak iparnya.
“Menurut kata hati kak Salwa seperti apa? Bukankah kak Salwa sudah melakukan sholat istikharah?” tanya Freya balik yang saat ini ikut duduk di samping Salwa.
“Aku belum bisa meyakinkan hatiku kak. Aku pun belum mendapatkan apapun melalui sholat istikharahku.” Jawab Salwa.
“Apa yang harus aku lakukan kakak ipar? Kau kan tahu siapa yang aku cintai. Haruskah aku mengalah mengejar cintaku?” lanjut Salwa putus asa.
Freya hanya tersenyum mendengar Salwa bicara, “Cinta memang butuh perjuangan kak. Reya juga pernah mengalami apa yang kakak alami. Reya harus memilih antara orang yang mencintai Reya atau masalalu Reya yang pernah dicintai. Reya juga tidak mendapatkan apapun saat sholat istikharah. Tapi Reya tetap melakukan itu sampai hati Reya mantap menerima lamaran kak Vino. Aku yakin kakak juga pasti bisa melakukan itu.” Ucap Freya lembut meyakinkan Salwa.
“Aku harap aku bisa kakak ipar.” Jawab Salwa. Freya lagi-lagi hanya tersenyum.
“Kakak ipar bagaimana jika kita belanja? Aku ingin mengajakmu belanja.” Ucap Salwa tersenyum.
“Reya sih mau-mau aja tapi,,” ucap Freya.
“Ah, pasti aunty dan uncle sekaligus suami posesifmu itu pasti tidak mengizinkanmu karena kau sedang hamil. Ouh God, aku harus bagaimana?” ucap Salwa.
“Kak Salwa yakinlah dengan hatimu. Aku yakin kebahagiaan pasti menantimu.” Ucap Freya.
“Baiklah, kakak ipar terima kasih karena kau selalu mendengarkan curahan hatiku ini. Terima kasih juga sudah menerima lamaran kakakku itu karena dengan begitu aku menemukan ketenangan yang selama ini kucari. Terima kasih atas hadiah gamismu. Itu adalah kenangan yang tidak akan aku lupakan. Itu akan menjadi pakaian yang sangat berharga bagiku. Terima kasih telah membantuku menemukan ketenangan dengan hijab ini.” ucap Salwa memeluk Freya.
“Kak Salwa aku bahagia untukmu.” Ucap Freya.
“Kakak ipar bagaimana nanti jika anak kita jodohkan. Aku kan mungkin sebentar lagi menikah. Jadi aku ingin menjodohkannya dengan anakmu. Aku ingin memiliki besan seperti kak.” Ucap Salwa tiba-tiba.
“Hahahh, kak Salwa. Anakku sudah di jodohkan dengan anak Hanna tapi jika dia lahir perempuan.” Ucap Freya tertawa.
“Iya kan, kak Hanna kan hanya menjodohkannya jika anakmu perempuan tapi aku yakin keponakanku ini pasti baby boy jadi akan aku jodohkan nanti dengan putryku. Mau ya kakak ipar?” Ucap Salwa tersenyum.
“Kak Salwa ada-ada aja. Menikah saja belum masa iya sudah dijodohkan.” Ucap Freya.
“Ouh ayolah kakak ipar.” Bujuk Salwa.
“Hmm,, gimana yaa. Baiklah tapi perjodohan itu hanya berlaku untuk anak pertama kita. Jadi jika nanti anak pertama Kak Salwa laki-laki maka perjodohan itu batal. Kak Salwa aku hanya ingin anakku memilih jodohnya sendiri.” Ucap Freya lembut.
“Baiklah, aku setuju.” Ucap Salwa bersemangat.
“Kak Salwa ada-ada aja. Lebih baik sekarang pikirkan bagaimana akan menemui calon suami.” Goda Freya.
“Kakak ipar!” ucap Salwa malu.
Mereka pun melanjutkan obrolan receh mereka itu sampai sore. Salwa memang belum masuk kembali ke perusahaan karena Papi Budiman ingin dia fokus ke perjodohannya. Tapi Salwa tetap mengawasi perusahaan karena bagaimanapun dia adalah CEO-nya.
***
Sementara di perusahaan.
“Tuan!” panggil Devano setelah dia mengantarkan berkas kepada Alvino.
“Iya ada apa? Apa ada yang ketinggalan?” tanya Alvino tetap fokus dengan berkasnya.
__ADS_1
“Aku minta izin cuti satu hari senin ini. Apa boleh tuan?” tanya Devano hati-hati.
“Baiklah.” Jawab Alvino cepat.
“Kau tidak bertanya untuk apa tuan?” tanya Devano heran, karena biasanya sangat sulit bagi Devano mendapatkan cuti. Itu sudah menjadi perjanjian saat dia menggantikan Adelio, harus siap 24 jam.
“Kenapa? Kenapa kau heran? Aku yakin kau punya alasan meminta cuti.” Ucap Alvino enteng.
“Tapi aneh saja tuan.” Jawab Devano sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
Devano pun segera pergi setelah mendapatkan izin dari Alvino. Alvino yang melihat itu hanya tersenyum.
***
Kini keluarga inti Salwa sudah rame-rame di kediaman Stevano, karena hari ini perjodohkan Salwa.
“Sayang, kau belum siap-siap?” tanya Mami Santi begitu masuk dan melihat Salwa hanya memandang gamis yang akan dia pakai.
“Mih, lagian acaranya masih lama.” Jawab Salwa.
“Lama apa’an? Itu sudah mau magrib dan mereka akan datang setelah isya.” Ucap Mami Santi.
“Mih, itu masih lama. Aku cepat kok memakai pakaiannya.” Ucap Salwa.
Tok tok tok
“Bisa Reya masuk?” izin Freya padahal pintu kamar Salwa terbuka lebar.
“Kakak ipar!” panggil Salwa segera menarik Freya masuk ke kamarnya. “Kakak ipar kok bisa disini?” lanjut Salwa, pasalnya Freya tidak diizinkan untuk naik turun tangga.
“Kok orang yang mau ketemu calon suami masa belum mengganti pakaian?” tanya Freya tersenyum.
“Kakak ipar itu masih lama.” Ucap Salwa.
“Tapi kak Salwa harus cantik dong. Masa iya mau ketemu calon suami gak cantik.” Ucap Freya lembut.
“Tuh, dengerin kakak iparmu. Reya mami titip anak mami yang nakal ini yaa. Tolong bujuk dia.” Ucap Mami Santi.
“Baik bi.” Jawab Freya tersenyum.
Mami Santi pun segera meninggalkan Freya dan Salwa.
***
Kini sudah selesai jam 20.30 tapi mereka belum juga tiba.
“Pih, apa mereka akan datang?” tanya Mami Santi.
“Papi masih menghubungi mereka. Tapi teleponnya gak diangkat.” Jawab Papi Budiman.
“Tenanglah, pasti ada sesuatu yang terjadi.” Ucap Papi William.
“Iya itu benar. Hal yang tidak mungkin mereka tidak datang.” Ucap Mami Sinta sambil memeluk Mami Santi.
__ADS_1
“Aku harap begitu.” Ucap Mami Santi.
“Ada apa ini? Apa mereka belum datang?” tanya Salwa yang memegang Freya. Dia keluar karena ingin tahu apa yang terjadi diluar.
“Kenapa kau keluar nak?” Tanya Mami Santi mendekati putrinya.
“Mih, Wa malas menunggu dikamar.” Jawab Salwa.
Tiba-tiba, “Pih, Paman kita harus segera,,” Ucap Alvino terpotong karena melihat Salwa.
“Ada apa?” tanya Papi Budiman mendekati keponakannya itu. Alvino pun segera membisikkannya.
Salwa bingung melihat Alvino dan Papinya, “Kenapa kalian saling berbisik? Apa terjadi sesuatu?” tanya Salwa.
“Wa, kamu disini. Kakak titip kakak iparmu. Mami dan bibi juga kalian disini.” Ucap Alvino mengabaikan pertanyaan Salwa.
“Mami ikut.” Ucap Mami Santi dan Mami Sinta bersamaan.
“Tapi mih.” Ucap Alvino.
“Gak apa-apa hubby. Aku baik-baik aja kok disini di temani oleh kak Salwa. Kau tenang saja. Pergilah!” ucap Freya tersenyum.
“Baiklah jika begitu.” Ucap Alvino segera pergi. Papi William, Mami Sinta, Papi Budiman dan Mami Santi pun segera pergi tapi Alvino kembali lagi.
“Ada apa kak?” tanya Salwa heran melihat kakaknya itu kembali lagi.
Alvino mengabaikan pertanyaan Salwa dan segera mendekati istrinya dan mengecup kening serta mengelus perut Freya, “Maaf, aku melupakan kalian.” Ucap Alvino.
“Ouh God. Aku pikir kau kenapa kak.” Ucap Salwa.
“Aku pamit sayang. Kamu baik-baik disini. Aku akan segera kembali. Wa tolong jaga istri kakak dengan baik.” ucap Alvino mengecup kembali kening Freya.
“Eeh,, tapi katakan dulu kalian mau kemana? Dan apa perjodohanku batal?” tanya Salwa akhirnya karena dia penasaran kenapa semua orang pergi begitu saja bahkan tidak memperdulikan perjodohannya.
“Bukan batal tapi ditunda.” Jawab Alvino segera pergi.
“Ouh God, apa-apa’an itu?” ucap Salwa.
Freya hanya tersenyum, “Kakak ipar aku rugi dong sudah cantik-cantik begini. Awas saja jika aku ketemu mereka aku pasti akan memarahinya karena sudah menunda perjodohan ini dan membuat make up-ku rugi.” Ucap Salwa.
“Apa kau yakin akan memarahinya kak?” tanya Freya tersenyum.
“Aku yakin kakak ipar.” Jawab Salwa yakin.
“Aku akan mengingatnya kak, kau harus menepatinya.” Ucap Freya tertawa.
*
*
Happy reading guys !!😊
Jangan lupa like, komen, vote, dan favoritin,🙏🏻😊
__ADS_1
Mohon maaf jika ada typo guys,🙏🏻😉
Mohon mampir di novel author yang berjudul “Takdir Hidup Zia”. Tinggalkan jejak yaa, author tunggu !!🙏🏻🥺😉