
“Gak ada?” tanya Crish kaget.
“Crish bukan sudah kuminta kau untuk menjaga istriku? Kenapa kau meninggalkannya?” tanya Alvino emosi.
Crish yang mendengar itu hanya bisa diam karena dia sudah merasa bersalah tidak menuruti ucapan Alvino.
Alvino segera masuk mobil untuk mengambil ponselnya dan segera mencari nomor istrinya namun sayang ponsel Freya juga tertinggal mungkin karena dia terburu-buru.
“Dek, kenapa kau meninggalkan ponselmu?” teriak Alvino frustasi karena hari sudah semakin sore.
“Crish cepat temukan istriku. Jika tidak aku akan menuntut kalian.” Ancam Alvino.
Setelah itu Alvino segera berlari mencari istrinya tidak lupa tetap membawa bunga tulip di tangannya. Sementara Crish sudah dari tadi meminta kepada teman-temannya untuk membantunya mencari Freya karena dia merasa bertanggung jawab atas hilangnya istrinya dari tuannya itu.
Alvino lari kesana kemari seperti orang gila, tidak lama tiba-tiba dia melihat seorang gadis berhijab sedang jongkok sambil memeluk kedua lututnya. Alvino yang melihat itu segera menghampiri gadis itu karena dia langsung mengenali bahwa itu istrinya karena selain ciri khas hijabnya yang selalu menggunakan warna kesukaannya yaitu pink dan dia juga gadis berhijab di tengah ribuan orang yang ada disana.
“Kakak, kau kemana? Apa kau meninggalkanku sendiri disini karena aku tidak mencintaimu. Kakak kemana kau pergi. Aku mohon kembalilah, aku mencintaimu kak. Sungguh aku gak bohong, aku sangat mencintaimu. Aku takut kehilanganmu. Ayo kembali. Aku akan mengakui semuanya.” ucap Freya memeluk kedua lututnya dan menangis.
Alvino yang sudah berdiri di dekat Freya mendengar semua pengakuan istrinya itu tidak tau harus apa karena di satu sisi dia sangat khawatir akan istrinya tapi di lain sisi dia sangat bahagia mendengar pengakuan istrinya itu.
“Dek! Dek! Ayo bangun!” panggil Alvino.
“Apa sekarang aku sedang berhalusinasi mendengar suaramu kak,,” ucap Freya terhenti begitu melihat siapa orang dihadapannya.
Freya langsung berdiri dan memeluk suaminya itu begitu menyadari bahwa itu adalah suaminya dan dia tidak berhalusinasi.
“Kakak, kau pergi kemana? Kau jahat, kenapa meninggalkanku? Apa kau tahu aku sangat khawatir.” Ucap Freya memeluk erat suaminya itu.
Alvino membalas pelukan istrinya itu dan hanya diam tanpa menjawab istrinya.
“Kak, kenapa kau diam? Apa kau berencana meninggalkanku?” tanya Freya menangis dan tetap tidak melepas pelukannya.
“Kakak pergi membeli ini!” ucap Alvino sambil berusaha melepaskan pelukan mereka.
Freya yang melihat bunga tulip berada di tangan suaminya itu segera tidak memperdulikannya dan tetap kembali memeluk suaminya, “Aku tidak membutuhkan itu. Reya hanya butuh kakak. Untuk apa kakak membelikan itu jika aku harus kehilangan kakak. Aku gak butuh bunga itu.” Ucap Freya menangis sambil memeluk suaminya.
Alvino yang menyadari kekhawatiran istrinya itu jadi merasa bersalah karena membuat istrinya begitu khawatir hanya karena dia yang ingin membeli tulip dengan semua warna sehingga membuatnya harus berkeliling dari toko satu ke toko lainnya apalagi tulip hitam yang sulit untuk didapatkan. Yah, Alvino membeli berbagai jenis warna tulip karena dia tahu istrinya sangat menyukai tulip tapi tidak taunya justru menjadi seperti ini.
“Ayo kita pulang! Ini sudah magrib.” Ajak Alvino, pasalnya matahari sudah terbenam sejak tadi.
Freya pun hanya mengangguk dan tetap menggandeng suaminya itu dengan erat. Alvino yang melihat itu pun membiarkannya karena dia tau istrinya itu pasti masih takut.
Crish dan teman-temannya yang memang sudah sekitar 10 menit yang lalu sudah tiba disana dan melihat Alvino dan Freya sudah bertemu hanya bisa melihat pasangan itu. Crish dan teman-temannya pun hanya mengikuti Alvino dan Freya yang sudah mau ke mobil.
Saat sampai di mobil Freya kaget melihat begitu banyak orang yang berpakaian jas hitam di sekitar mereka.
“Ini,,” ucap Freya.
“Masuklah dek! Kakak akan bicara dengan mereka.” Ucap Alvino.
Freya pun segera masuk sambil membawa bunga tulip ditangannya karena Alvino menyerahkannya kepadanya.
“Crish dan para tuan-tuan sekalian, maafkan saya sudah merepotkan kalian.” Ucap Alvino.
“Ah gak apa-apa tuan.” Jawab Crish dan teman-temannya hanya mengangguk.
Teman-teman Crish pun segera pergi darisana sementara Crish segera mengantar Alvino dan Freya ke hotel.
__ADS_1
***
Saat sampai di hotel, Alvino segera menyuruh Freya masuk lebih dulu.
“Tuan Crish terimah kasih.” Ucap Freya sebelum masuk.
“Crish maafkan aku karena sudah menyalahkanmu. Sekarang aku mengerti pasti istriku yang sudah memintamu untuk menyusulku. Aku janji akan segera meminta tuan Steven menaikkan jabatanmu. Dan untuk teman-temanku sampaikan juga ucapan terima kasihku. Aku janji akan memberikan ulasan yang baik untuk pekerjaan kalian. Sekali lagi maafkan aku dan terima kasih sudah membantuku.” Ucap Alvino merasa bersalah.
“Ah gak apa-apa tuan. Saya juga merasa bersalah karena tidak mendengarkan perkataan tuan untuk menjaga nyonya. Saya juga mengucapkan terimah kasih untuk ulasan yang akan tuan berikan.” Ucap Crish tersenyum.
Alvino pun hanya tersenyum dan mengangguk. Dia pun segera pergi menyusul Freya.
***
Kini mereka sudah selesai sholat Isya dan Freya hanya diam saja dari tadi, bahkan saat mereka makan pun Freya hanya diam saja.
“Dek, apa kau masih marah?” tanya Alvino yang tidak tahan Freya mendiamkannya.
Freya hanya diam tidak menjawab pertanyaan suaminya itu.
“Dek, ayolah. Maafkan kakak! Kakak janji gak akan melakukannya lagi.” Bujuk Alvino.
Freya hanya menangis karena dia masih takut jika sesuatu terjadi pada suaminya itu. Alvino yang melihat Freya menangis segera menariknya ke pelukannya, “Maafkan kakak!” ucap Alvino.
“Kakak jahat! Apa kakak gak tahu bagaimana khawatirnya aku saat kakak belum kembali? Apa kakak gak tahu aku sudah seperti orang gila berlari kesana-kemari mencari kakak. Aku pikir kakak kenapa-kenapa. Aku pikik aku akan kehilangan kakak!” Ucap Freya menangis. Dilain sisi Freya juga gak tahu bahwa itu juga yang dirasakan Alvino saat Freya sudah tidak ada di mobil.
“Maafkan kakak!” ucap Alvino memeluk istrinya.
Sekitar 15 menit mereka dalam posisi itu sampai Freya selesai menangis.
Cup
Freya membelalakkan matanya sambil memegang bibirnya pasalnya itu adalah ciuman pertamanya.
“Jangan ngomong gitu, kakak tahu kau sangat menyukai bunga itu. Kau gak boleh membencinya hanya karena ini karena kau sudah lama menyukai bunga itu dan selalu memimpikan untuk bertemu dengannya. Ini murni kesalahan kakak tapi satu yang kakak syukuri karena dengan kejadian ini kakak bisa mengetahui perasaanmu.” Ucap Alvino bersikap seolah-olah dia tidak mencium Freya.
“Perasaanku? Maksud kakak?” tanya Freya.
“Kakak mendengar semua pengakuanmu tadi.” Jawab Alvino.
“Ahhh,, sungguh? Ah Reya malu.” Ucap Freya menutup wajahnya.
Alvino yang melihat Freya menutup wajahnya hanya bisa tersenyum.
“Cie,, cie,, yang takut kehilangan kakak. Ayo dong kau harus tepati janjimu karena kakak ada disini.” Goda Alvino
“Janji? Kapan Reya janji kepada kakak?” tanya Freya pura-pura lupa.
“Gak usah pura-pura lupa deh. Ayo kakak ingin mendengarnya! Please!” pinta Alvino.
“Mendengar apa? Ah kakak ada-ada aja deh.” Ucap Freya segera berdiri dan mengatur mukenahnya.
“I Love You!” bisik Alvino sambil memeluk Freya dari belakang.
Freya langsung blushing dan segera berbalik menghadap melihat wajah suaminya itu.
Cup
__ADS_1
Alvino mengecup kening Freya lalu memeluk kembali Freya dengan erat, “I Love you.” Bisik Alvino lagi.
Freya pun membalas pelukan suaminya itu, “I Love you to!” balas Freya dengan suara yang nyaris tidak terdengar tapi Alvino tetap mendengarnya.
“Ayo katakan sekali lagi!” ucap Alvino melepaskan pelukannya dan memandang Freya.
“Apa? Yang harus dikatakan?” tanya Freya tersenyum.
“Dek! Ayolah!” ucap Alvino.
“I Love You!” ucap Freya sambil memandang suaminya itu dengan tersenyum.
Alvino yang mendengar hal itu segera memeluk Freya kembali, “I love you more! I love you more!” ucap Alvino memeluk Freya erat.
Freya hanya tersenyum karena akhirnya dia menyadari bahwa dia sangat mencintai laki-laki dihadapannya ini yang saat ini sudah menjadi suaminya.
Alvino pun segera melepas pelukannya.
Cup
Alvino mengecup kening Freya dan saat Alvino akan mengecup bibirnya Freya langsung menutup mulutnya dengan tangannya. Alvino hanya tersenyum melihat itu dan segera menggendong Freya menuju ranjang.
“Apa kakak sudah bisa,,” tanya Alvino begitu dia meletakkan Freya di ranjang mereka.
“Itu,,” Freya yang sudah mengerti apa maksud ucapan suaminya itu langsung memotongnya.
“Kakak bercanda kok, kakak masih bisa menunggu sampai kau siap.” Ucap Alvino sambil membaringkan tubuhnya disamping Freya.
Freya yang melihat itu, segera memiringkan tubuhnya dan memandang suaminya itu, “Reya siap kok!” ucap Freya malu.
Alvino yang mendengar itu langsung melihat istrinya, “Kakak bercanda kok, jangan kau paksakan dirimu dek.” Ucap Alvino tersenyum.
“Reya serius! Reya gak terpaksa kok!” ucap Freya memandang suaminya itu dengan intens.
“Kamu yakin?” tanya Alvino dan Freya hanya mengangguk.
Alvino pun langsung memeluk Freya, “Tapi kita wudhu dulu sama sholat.” Ucap Freya dalam pelukan suaminya itu.
Alvino yang menyadari bahwa ini adalah pertama kalinya untuk mereka langsung mengerti maksud istrinya dan segera mengangkat istrinya itu ke kamar mandi untuk wudhu.
Sekitar 30 menit mereka baru selesai sholat. Alvino pun berdoa sesudah sholat dan Freya mengamininya. Setelah itu Freya menyalami tangan suaminya dan Alvino mengecup kening Freya.
Alvino pun melepaskan mukenah istrinya berikut hijab yang dipakai istrinya. Untuk pertama kalinya dia melihat rambut istrinya yang berwarna hitam kecoklatan. Alvino pun segera menggendong istrinya itu menuju ranjang dan terjadilah apa yang memang harus terjadi setelah cukup lama tertunda.
*
Skip, author belum menikah silahkan bayangkan sendiri😊😉
*
*
*
Ayo dong like, komen, vote agar author lebih semangat lagi menulis.😊
Mohon maaf jika banyak typo guys.🙏🏻
__ADS_1