
Alvino pun segera kembali ke tempat duduknya.
“Vin, yang tadi itu suster Freya tidak?” tanya Mami Sinta.
“Iya, itu benar dia, tapi dia segera kembali karena neneknya sakit.” Ucap Alvino.
“Yah, padahal mami masih ingin bicara padanya. Mami merindukannya. Kapan sih Vin, kau melamarnya? Mami ingin segera mempunyai menantu.” Ucap Mami Sinta.
“Sudahlah, Mih. Jika dia ditakdirkan jadi menantu kita maka dia pasti akan jadi menantu kita.” Ucap Papi William.
“Gak gitu juga konsepnya Pih, kita juga harus usaha.” Ucap mami Sinta.
“Mih, aku pasti akan menjadikannya jadi menantu Mami, aku janji!” ucap Alvino.
“Itu baru anak Mami.” Ucap Mami Sinta.
Sementara di sisi lain.
“Nak, kau sudah pulang?” tanya Papa Khabir.
“Iya, Pah. Aku sudah minta izin juga kepada Hanna untuk tidak bisa datang untuk acara resepsinya.” Ucap Freya. Papa Khabir hanya mengangguk mengerti karena dia tahu bagaimana anaknya itu. Dia sangat memedulikan keluarganya.
“Kamu harus datang, Nak! Nenek baik-baik saja kok.” ucap Nenek Ayesha yang saat itu sedang disuapi oleh Mama Najwa.
“Nek, aku akan disini menjaga Nenek. Aku sudah minta izin kok sama Hanna.” Ucap Freya.
“Hanna pasti tetap sedih walau kau sudah minta izin karena dia pasti sangat ingin sahabatnya juga datang. Pergilah Nak!” ucap Mama Najwa.
“Iya sayang!” ucap Papa Khabir, yang mendapat anggukan dari Nenek Ayesha dan juga Zein.
“Kau jangan khawatirkan Mama, kami pasti akan menjaganya!” ucap Zein.
“Kenapa sih kalian selalu mengubah keputusanku? Huh, baiklah aku akan pergi!” ucap Freya yang hanya mendapat senyuman dari semuanya.
__ADS_1
#####
Pesta resepsi Hanna dan Adelio diadakan di sebuah gedung mewah.
“Ini sudah jam berapa?” ucap Freya yang baru saja turun dari mobilnya segera melihat jam tangannya karena dia dipaksa oleh Zein untuk make up jadi terlambat datang karena pesta resepsinya sudah dimulai sejam yang lalu.
“Hah, lagi-lagi aku terlambat! Ini semua karena Zein. Kenapa sih aku harus make up segala.” Ucap Freya segera masuk gedung.
Freya pun segera masuk kedalam setelah menunjukkan undangannya, walaupun tanpa undangan pun Freya bisa masuk karena dia termasuk tamu VIP.
Freya pun segera duduk disalah satu tempat yang disediakan, tapi tak Freya sadari ada sepasang mata yang lagi-lagi terpesona dengan kecantikannya siapa lagi kalau bukan Alvino
“Kenapa kau sangat cantik seperti itu? Ingin rasanya aku mengusir mata lelaki lain yang memandangmu seperti itu dan hanya menyimpannya untukku.” Gumam Alvino.
“Dia memang sangat cantik, makanya segera jadikan dia istri sebelum ada yang melamarnya” ucap Mami Sinta menggoda putranya.
“Yah, dia memang sangat cantik.” Ucap Alvino yang tak menyadari ucapan Maminya.
Dan hal itu justru mendapat ledekan dari kedua orang tuanya.
Tidak lama kemudian adalah acara lempar bunga, Hanna yang melihat sahabatnya datang segera mendapat ide dan berbisik kepada suaminya. Setelah mendapat izin Hanna segera meminta mic.
“Maaf semuanya! Saya tahu acara ini adalah yang kalian tunggu-tunggu tapi maaf saya gak bisa melemparnya untuk kalian karena saya ingin memberikannya kepada seseorang! Saya harap kalian tidak kecewa atas keputusan ini.” Ucap Hanna.
“Sahabatku Freya Nur Nabila Abraham, ini untukmu!” ucap Hanna sambil menuju tempat duduk Freya.
Freya yang mendengar namanya disebut dan melihat Hanna menuju kearahnya segera berdiri mendekati Hanna dan menerima bunga yang diberikan Hanna sambil tersenyum dan segera memeluk Hanna.
“Terimah kasih untukmu sahabatku! Saya gak tahu ternyata dia ingin memberikan ini kepada saya. Tapi saya ucapkan terimah kasih walau saya tidak begitu mempercayai hal seperti ini, selain itu juga saya belum berencana ingin menikah tapi karena sepertinya sahabat saya ingin segera melihat saya menikah maka saya terima semua doanya untuk saya dan juga doa dari kalian semua. Terimah kasih sekali lagi.” Ucap Freya sambil menahan air matanya agar tidak jatuh karena sejujurnya dia sangat terharu.
“Nona apa bisa kami bertanya?” tanya salah satu tamu undangan.
“Iya silahkan! Tapi anda ingin bertanya kepada siapa? Saya atau mempelai?” ucap Freya.
__ADS_1
“Saya ingin bertanya kepada Nona dan juga Nona Hanna. Kalian bersahabat, apakah pernah terbesit rasa iri dalam diri kalian satu sama lain? Dan bertanya khusus untuk nona Freya, seperti apa pendapat anda sebagai seorang sahabat yang ditinggal nikah sahabatnya? Lalu bagaimana pendapat Anda tentang pernikahan? Satu lagi ini pertanyaan paling penting, apa anda sudah punya calon? Maksudnya calon suami? Sekian itu pertanyaan saya dan saya ucapkan terimah kasih.” Ucap tamu itu.
“Baiklah pertanyaannya sangat banyak yaa,, saya usahakan saya akan menjawabnya.” Ucap Freya tersenyum.
“Re, aku dulu yaa!” ucap Hanna meminta mic dari tangan Freya.
“Baiklah saya akan menjawab pertanyaan pertama Anda, Anda menanyakan apa pernah terbesit rasa iri di antara kami, pertanyaan ini sangat cocok untuk saya karena Reya adalah orang pantas untuk membuat saya iri. Dia sangat pintar, dia selalu mendapat beasiswa, bisa dikatakan dia mampu melakukan segala hal. Saya pernah iri padanya akan hal itu tapi ternyata dia yang memiliki banyak kemampuan itu justru hal itu dia gunakan untuk bisa membantu orang dia tidak pernah menyombongkan apa yang dia punya. Jadi saya merasa kesal akan diri saya sendiri karena pernah memiliki perasaan iri itu padanya dan setelah kejadian itu saya tidak pernah iri lagi padanya. Terimah kasih, Re!” ucap Hanna memeluk Freya.
“Lalu bagaimana dengan Nona Freya apa pernah iri dengan Nona Hanna?” tanya para tamu setelah Hanna dan Freya melepas pelukan mereka.
“Iri? Tentu saja saya juga manusia biasa yang bisa saja iri kepada orang lain. Saya pernah iri padanya karena dia bisa dengan mudah bersosialisasi dengan orang lain. Saya iri kepadanya karena dia memiliki banyak teman tapi satu hal yang membuat saya sadar dari semua teman yang dia miliki hanya saya yang dia pilih sebagai sahabatnya. Hal itu yang membuat saya sadar. Tapi sebenarnya Hanna tadi terlalu melebihkan kemampuan saya, saya bukanlah manusia yang bisa melakukan segala hal, Hanna selalu membantu saya. Dia juga sebenernya sangat cerdas dia hanya merendahkan dirinya saja.” Ucap Freya tersenyum.
“Wow, jawaban yang realistis.” Ucap Mami Sinta.
“Apa saya masih harus menjawab pertanyaan lainnya?” tanya Freya yang langsung mendapat persetujuan.
”Baiklah, saya akan berusaha menjawabnya. Untuk pertanyaan pertama yaitu bagaimana perasaan saya ditinggal nikah sahabat, sebenarnya saya sangat sedih yaa karena sahabat saya sudah menikah nanti tidak aka nada teman untuk berbagi cerita tapi disisi lain saya sangat bahagia karena sahabat saya menikah dengan orang yang dia cintai dan juga mencintainya. Bukankah itu impian semua orang yang menikah. Jadi perasaan sedih saya lenyap dengan rasa bahagia. Saya mendoakan untuk Hanna dan juga Kak Lio semoga rumah tangganya sakinah mawaddah warahmah dan semoga cepat diberi momongan” ucap Freya
“Untuk pertanyaan kedua, bagaimana pendapat saya tentang pernikahan. Menurut saya pernikahan itu adalah hal sakral. Pernikahan juga butuh dua orang yang saling mendukung dan mempercayai untuk menjalankannya. Bagi saya menikah itu adalah keputusan paling besar dan butuh pertanggungjawaban yang besar juga maka dari itu harus bisa memutuskannya dengan baik. saya hanya ingin menikah sekali dan untuk selamanya, bukankah itu impian setiap gadis?” Ucap Freya.
“Kok saya seperti merasa sedang menjawab soal ujian yaa,,” gurau Freya yang langsung membuat para tamu undangan tertawa.
“Baiklah untuk pertanyaan terakhir yaitu tentang calon suami saya? Hahah,, ini pertanyaan yang sangat mudah tapi menjebak. Saya sudah punya calon kok,,” ucap Freya yang langsung membuat para tamu terdiam apalagi Alvino.
“Hahahh,, saya bercanda kok kenapa jadi hening? Tapi memang benar saya sudah punya calon dan calon saya itu sudah tertulis di Lauh mahfuz 250 ribu sebelum langit dan bumi ini diciptakan.” Ucap Freya tersenyum.
Alvino dan para tamu undangan pun segera bernafas lega ternyata itu hanya candaan Freya saja.
Pesta pernikahan Hanna dan Adelio pun segera dilanjutkan, Freya segera pamit saat acaranya hampir selesai.
Happy Reading Guys!!😊
Jangan lupa like, koment, vote, beri gift, dan favoritin,,🙏🙏
__ADS_1