
“Jadi kak Vano adalah anak laki-laki itu?” tanya Salwa.
“Iya.” Jawab Papi Budiman mengangguk.
“Lalu kenapa aku tidak bisa mengingat apapun?” tanya Salwa.
“Kami menghapus semua memorimu akan hal itu karena setiap kau mengingat Vina maka kau akan histeris dan menangis maka untuk itulah kami membawamu ke Singapore dan menghapus semua memorimu akan hal itu tapi ternyata takdir mempertemukanmu kembali dengan Vano.” Ucap Papi Budiman.
“Papi jahat! Kenapa kalian menghapus memoriku akan kak Vina? Jadi apa karena ini juga setiap aku menanyakan barang masa kecilku kalian selalu mengatakan bahwa barangku sudah kalian berikan kepada orang lain?” tanya Salwa.
Mami Santi pun hanya mengangguk lalu segera mendekati putrinya dan memeluknya, “Tapi asal kau tahu semua barangmu masih ada kami menyimpannya. Kami tidak memberikan barang milikmu kepada siapapun.” Ucap Papi Budiman.
“Apa kau ingin melihatnya? Tapi kau harus janji kau tidak boleh menangis atau histeris.” Ucap Mami Santi.
Salwa pun segera mengangguk. Mereka pun segera menuju kamar yang menjadi kamar Salwa di waktu kecil. Salwa pun segera masuk dan melihat semua barang-barang miliknya di sana tertata rapi dan bersih. Ya ada pembantu yang selalu membersihkan kamar itu setiap hari tapi Salwa selalu di larang masuk ke sana, pernah dia secara tidak sengaja sewaktu SMA masuk ke kamar itu lalu papi Budiman menghukumnya, mulai saat itu dia tidak pernah masuk ke kamar itu.
Salwa pun melihat semua barang di sana dan memeriksanya tiba-tiba dia menemukan sebuah kalung yang di dalamnya terdapat liontin berisikan fotonya bersama seorang gadis kecil yang kira-kira berumur 4 tahun lebih tua darinya dan seorang bocah laki-laki kecil, “Apa ini kak Vina?” tanya Salwa. Mami Santi dan Papi Budiman pun hanya mengangguk.
Salwa pun menggenggam kalung itu erat, entah kenapa air matanya menetes begitu saja, “Bisakah kalian ceritakan bagaimana aku bersama kak Vina?” Pinta Salwa. Mami Santi pun akhirnya mengangguk.
Flashback on
Ada tiga orang bocah kecil yang berlari-lari kesana kemari saat mereka sudah lelah mereka berbaring, “Jess, jika kamu besar nanti kamu harus menikah dengan Vano yaa. Kakak ingin memiliki adik ipar sepertimu, kau itu sangat lucu.” Pinta Devina kecil.
“Aku gak mau kak menikahinya dia itu selalu menggangguku.”jawab Salwa kecil.
“Siapa juga yang mau menikah denganmu.” Ledek Devano kecil.
“Hey, kalian jangan gitu dong. Kalian itu harus akur kalian kan calon suami istri nanti. Vano kakak ingin kau menjaga Jess selamanya. Dia itu adik kakak, kamu harus janji akan selalu menjaga Jess untuk kakak. Jika tidak maka kakak akan membencimu.”ucap Devina kecil.
“Ah, baiklah aku akan menikahinya nanti tapi kakak jangan ngomong kayak gitu lagi. Aku gak suka.” Ucap Devano kecil.
__ADS_1
Devina pun tersenyum, “Bagaimana denganmu Jess?”tanya Devina menatap Salwa.
“Baiklah aku juga setuju tapi kak Vina harus sembuh yaa.” Jawab Salwa kecil.
Devina pun tersenyum, “Kakak akan berusaha sembuh nanti tapi jika nanti kakak tidak ada lagi kalian tetap harus menepati janji itu. Jika tidak kakak akan menghantui kalian nanti.”ucap Devina kecil.
“Kakak!” peluk Salwa dan Devano bersamaan.
Devina pun memberikan sebuah kalung kepada Salwa dan Devano sore itu. Devina melakukan itu agar mereka mengingat janji mereka. Entah kenapa Devina merasa bahwa umurnya tidak akan lama lagi.
Devina memang sejak lahir divonis menderita gagal ginjal, salah satu ginjalnya tidak berfungsi akibatnya dia selalu masuk rumah sakit, bahkan umurnya di prediksi hanya sampai 4 tahun tapi siapa yang tahu dia mampu bertahan hingga usianya tiga belas tahun sebelum menutup matanya seminggu setelah dia memberikan liontin kepada Salwa dan Devano.
Salwa yang saat itu baru berusia Sembilan tahun segera mengunjungi Devina di rumahnya sepulang sekolah tapi saat dia sampai Devina sudah akan segera di makamkan. Salwa pun menangis histeris, dalam pikiran Salwa saat itu dia merasa bahwa Devina akan pergi sangat jauh dan tidak akan menemuinya lagi.
Berhari-hari Salwa selalu histeris dan menangis begitu melihat barang-barangnya yang selalu dia mainkan dengan Devina. Akhirnya Papi Budiman dan Mami Santi memutuskan membawa Salwa pergi ke Singapore.
Sementara Devano juga mengalami hal yang sama, dia juga kadang menangis jika harus mengingat kakaknya. Arjun dan Azana pun pindah dari rumah lama mereka untuk membuat Devano merasa lebih baik dan tidak mengingat Devina. Usaha tekstil Arjun dan Azana pun dijual untuk memenuhi kebutuhan mereka nanti karena semua uang mereka sudah habis untuk biaya pengobatan Devina selama ini.
Sejak saat itu hubungan kedua keluarga yang bersahabat itu terputus. Saat Papi Budiman dan Mami Santi kembali mereka mengunjungi rumah Arjun dan Azana yang saat itu sudah dijual.
Flashback off
***
“Jadi, apa perjodohan ini memang darimu kak?” gumam Salwa yang saat ini sudah di kamarnya sambil menggenggam liontin itu erat.
“Jika memang ini amanah darimu kak, aku akan mewujudkannya. Tapi asal kau tahu kak adikmu itu masih menyebalkan, dia menolakku.” Ucap Salwa.
Tiba-tiba ponsel Salwa berdering dan di sana tertulis siapa yang menelponnya, “Halo, ada apa kak menelponku?” tanya Salwa.
“Wa’alaikumsalam, apa kamu melupakan lagi ajaran kakakmu?” tanya Devano dari seberang.
__ADS_1
“Huh, Assalamu’alaikum. Ee,, ngomong-ngomong ada apa menelponku, tidak seperti biasanya. Kakak menelponku bukan hanya untuk mengajariku salam kan?” tanya Salwa.
“Hahahh, gak kok dek.” Jawab Devano.
“Dek?” tanya Salwa pasalnya baru kali ini Devano memanggilnya seperti itu.
“Iya dek. Apa ada yang salah dengan itu? Apa harus aku panggil calon istri?” goda Devano.
“Kak, jangan menggodaku. Itu terasa lucu, aku tidak terbiasa mendengarnya. Jadilah seperti dirimu yang ku kenal karena aku,,” ucap Salwa terpotong karena hampir saja dia mengungkapkan perasaannya lagi.
“Ah, baiklah. Kau merusak suasana romantis yang sudah kubuat dek, padahal aku sudah menghafalnya dari tadi.” Ucap Devano.
“Hmm,, baiklah cepat katakan kenapa menelponku? Itu sudah larut malam dan aku besok harus menghadiri rapat.” Ucap Salwa.
“Ah, baiklah. Bisakah kita bertemu besok? Ada yang harus kakak katakan padamu.” Ucap Devano.
“Hmm,, kita lihat saja besok.” Jawab Salwa.
“Sudah yaa Wawa tutup.” Ucap Salwa segera menutup sambungan teleponnya.
“Wa’alaikumsalam.” Jawab Devano walau sambungan telepon sudah terputus.
Sejujurnya Salwa masih canggung bertemu dengan Devano karena dia tidak menyangka bahwa laki-laki yang di jodohkan dengannya adalah seseorang yang dia cintai di tambah lagi kenyataan bahwa Devano adalah laki-laki dari masa kecilnya.
*
*
Happy reading guys !!😊
Jangan lupa like, komen, vote, dan favoritin.🙏🏻😊
__ADS_1
Mohon maaf jika ada typo guys.🙏🏻😉
Mohon mampir dong dinovel author yang berjudul “Takdir Hidup Zia”. Author tunggu kedatangannnya, mohon tinggalkan jejak yaa!!🙏🏻😉🥺