
Sementara di sisi Alvino, dia segera menuju ruang CCTV untuk mengamati keadaan gadis yang dicintainya itu. Ternyata dia adalah pemegang saham tertinggi di rumah sakit itu. Berkatnya sebagai pemegang saham tertinggi di rumah sakit itu, dia meminta kepada pihak rumah sakit untuk memberikan pelayanan terbaik kepada Fraya dan jika perlu pindahkan Freya ke ruangan VVIP dan semua tagihan rumah sakitnya akan dia bayar.
“Kenapa kau sampai melupakannya? Bukankah dia gadis yang perfect?” pikir Alvino sambil mengamati CCTV di hadapannya.
Dia pun segera menelpon Adelio.
Tuut tuut tuut
“Halo, Assalamu’alaikum tuan muda!” ucap Adelio
“Wa’alaikumsalam! Aku ingin kau menyelidiki masalah yang dihadapinya akhir-akhir ini maupun kegiatan apa yang dia lakukan akhir-akhir ini. Aku tidak ingin ada yang terlewati.” Ucap Alvino to the point.
“Baik tuan muda.” Ucap Adelio.
“Ohiya, kau sekarang keluar dari sana, ada yang ingin ku katakan padamu!” ucap Alvino.
“Baik.” Ucap Alvino sambil memandang CCTV yang ada diruangan Freya.
Telepon pun berakhir.
“Ada apa kak?” tanya Hanna.
“Gak, hanya saja tuan muda memanggilku. Om, Tante saya pamit dulu. Assalamu’alaikum!” ycap Adelio.
“Baiklah, nak. Silahkan!” ucap kedua orang tua Freya bersamaan.
“Aku ikut kak” ucap Hanna berdiri.
Adelio langsung memandang Freya.
“Ah, kak Lio kenapa memandangku seperti itu. Gak apa-apa kok jika Hanna ikut kakak. Mungkin masih ada yang ingin kalian bicarakan.” Ucap Freya.
“Aku akan kembali lagi. Okay!” ucap Hanna memeluk sahabatnya itu.
“Iya, sudah sana pergi. Kasihan pengeranmu masih menunggu.” Ucap Freya menggoda Hanna.
“Reya! Ah, kau. Aku kan jadi malu di liatin om sama tante lagi.” Ucap Hanna sambil menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya.
“Hahahah.. gak apa-apa kok Nak.” Ucap Mama Najwa.
“Baiklah. Aku pergi dulu. Kamu juga istirahat.” Ucap Hanna.
“Iya-iya. Kamu tambah cerewet ya.” Ucap Freya.
Hanna dan Adelio pun segera pergi setelah berpamitan dengan Freya dan juga kedua orang tuanya.
“Itu, pacarnya Hanna?” tanya Mama Najwa.
“Mereka gak pacaran hanya saling menjaga perasaan satu sama lain. Mereka mengikat komitmen untuk bersama.” Ucap Freya.
“Mereka cocok!” ucap Mama Najwa.
“Kalau kamu?” tanya Papa Khabir.
__ADS_1
“Ah, papa. Reya masih ingin membahagiakan Mama dan juga Papa. Reya belum kepikiran untuk menikah. Lagian juga Reya baru saja sidang skripsi masih ada juga pendidikan profesi.” Ucap Freya.
“Yaa,, yang suruh kamu menikah siapa? Papah kan hanya nanya? Siapa tau aja ada yang dekat denganmu!” ucap Papa Khabir menggoda putrinya itu.
“Papah! Papah kan tahu yang dekat dengan Reya hanya Hanna.” Ucap Freya.
“Masa sih?” ucap Papa Khabir
“Mama!” ucap Freya merengek kepada Mamanya.
“Hahahahh,, sudah mau 24 tahun masih saja cengeng. Padahal kalau diluar dingin kaya es batu.” Ucap Papa Khabir.
“Sudah-sudah. Pah jangan goda putri kita. Sayang sekarang kamu istirahat ya.” Ucap Mama Najwa.
“Baik Mah!” ucap Freya.
Freya pun segera beristirahat.
Di sisi lain
“Tuan muda! Apa yang ingin tuan muda bicarakan?” tanya Adelio begitu dia sampai kepada tuannya yang berada di ruang tunggu.
“Apa dia nyaman?” Tanya Alvino balik.
“Dia baik-baik saja tuan. Nona juga sudah terlihat ceria.” Ucap Adelio.
“Aku juga tahu itu. Maksudku apa ruangan yang dia tempati nyaman?” Ucap Alvino.
“Maaf tuan saya menyela! Reya baik-baik saja kok dan ruangan yang dia tempati juga nyaman” ucap Hanna.
“Eee,, tentu saja tuan. Jika itu untuk kebaikan Reya, saya pasti akan membantu dengan semampu saya.” Ucap Hanna yakin.
“Terimah kasih nona Hanna. Saya janji akan menjaga sahabat nona dengan baik.” Ucap Alvino.
“Saya percaya! Baiklah apa yang bisa saya bantu?” ucap Hanna.
“Saya ingin memindahkannya ke ruangan yang lebih nyaman tapi saya yakin dia pasti akan menolaknya. Jadi saya minta bantuannya untuk itu.” Ucap Alvino.
“Oh, saya mengerti. Saya pasti akan membantu, walaupun Reya susah untuk dikelabui tapi saya akan mencoba untuk menyakinkannya.” Ucap Hanna.
“Selain itu juga, saya yang akan membayar biaya rumah sakitnya. Jadi saya juga mohon bantuannya.” Ucap Alvino.
“Baiklah saya akan membantu.” Ucap Hanna tersenyum.
“Baiklah jika begitu, aku akan mengandalkan kalian berdua! Aku juga sudah mengatakan itu kepada dokter, dia akan dipindahkan hari ini.” ucap Alvino.
“Baik, Terimah kasih tuan muda!” ucap Adelio dan Hanna bersamaan.
“Baik, Lio. Kita ke perusahaan. Kau ikut aku!” ucap Alvino.
Adelio pun melihat ke arah Hanna.
“Pergilah kak, aku akan di sini untuk menjaga sahabatku!” ucap Hanna.
__ADS_1
Alvino dan Adelio pun segera keluar dan Hanna segera kembali ke ruangan Freya mempersiapkan Freya ke ruangan yang telah disediakan oleh Alvino.
#####
Singkat cerita, kini Alvino dan juga Adelio sudah ada di ruangan kerjanya.
“Apa Hanna mengatakan sesuatu tentang apa yang dilakukannya akhir-akhir ini?” tanya Alvino.
“Nona Freya akhir-akhir ini hanya sibuk dengan ujian sidangnya. Ah,, tadi sebelum kau datang, Hanna mengatakan bahwa Nona Freya mendapatkan undangan dari laki-laki yang membuat komitmen dengannya saat SMA pas setelah mereka selesai ujian sidang skripsi.” Ucap Adelio dalam mode teman.
“Undangan? Laki-laki? Apa ini ada hubungannya dengan dia jatuh sakit?” Tanya Alvino.
“Aku juga kurang tahu, tapi Hanna mengatakan bahwa itu tidak mungkin karena Nona Freya sudah melupakan pria itu.” Ucap Adelio.
“Gak, kau harus menyelidiki di mana tempat pernikahan laki-laki itu berlangsung. Karena gak biasanya gadis yang selalu perfect akan segala hal, tiba-tiba melupakan hal-hal yang biasa dia siapkan. Dan jikalau pun dia sudah melupakan pria itu tapi tetap saja aku ingin mengetahui pria itu.” Ucap Alvino.
“Baik. Aku akan menyelidikinya.” Ucap Adelio.
Sementara di sisi Freya.
“Han, kok aku dipindahkan ke sini?” Tanya Freya saat dia sudah berada di ruangan perawatan VVIP.
“Sudahlah, jangan pikirkan itu. Bukankah tadi dokter sudah menjelaskan bahwa ini mereka lakukan untuk menjaga calon perawat masa depan, apalagi kau kan calon perawat dengan nilai terbaik.” Ucap Hanna mencoba meyakinkan sahabatnya.
“Tapi, kenapa ini terasa gak masuk akal. Bahkan dengan kamu mengatakan itu semakin gak masuk akal. Ini seperti telah direncanakan.” Ucap Freya.
“Sudahlah. Seharusnya kamu bersyukur dong diberi tempat perawatan seperti ini.” Ucap Hanna.
“Gak, Han. Ini terasa aneh. Jangan-jangan ada yang memanfaatkan aku.” Ucap Freya.
“Itu memang benar, tapi ini dimanfaatkan oleh orang yang mencintaimu” batin Hanna.
“Lebih baik kau pikirkan agar kau cepat keluar dari rumah sakit. Emang kau gak suka bermain dengan hujanmu itu.” Ucap Hanna berusaha mengalihkan Freya.
“Emang kamu gak akan marah jika aku main hujan? Kau kan gak suka aku yang menyukai hujan!” ucap Freya teralihkan.
“Sebenarnya aku gak suka tapi demimu aku akan melakukan itu.” Ucap Hanna.
“Ahhh,, aku meleleh.” Ucap Freya.
“Sudah, sekarang istirahat. Bukankah kamu tadi ingin istirahat tapi terganggu dengan pemindahan ruangan. Ayo istirahat. Aku ingin berjalan-jalan lagi denganmu.” Ucap Hanna sambil menyelimuti Freya.
“Tapi ini aneh. Kamu gak merasa aneh Han?” ucap Freya.
Hanna hanya bisa menepuk jidatnya karena lagi-lagi Freya mengungkit pemindahan ruangan perawatannya. Memang susah mengelabui gadis cerdas seperti Freya.
“Sudah, ayo istirahat jangan pikirkan itu. Ayo tutup matamu!” ucap Hanna seperti seorang ibu yang membujuk anaknya untuk tidur.
Freya pun tak lagi bicara dia pun segeraa menuruti perkataan sahabatnya itu, walaupun dia masih memikirkan tentang pemindahan ruangannya.
Hannapun ikutan tertidur menjaga sahabatnya, karena kedua orang tua Freya sedang keluar setelah pemindahan Freya. Jadi, Hannalah yang menjaga Freya.
Happy Reading readers😊
__ADS_1
Jangan Lupa Like, Vote dan Komen yaa Guys..🙏🙏
Maaf jika banyak typo guys😊😉