Di Kala Cinta Menyapa

Di Kala Cinta Menyapa
Season 2 : Episode 90


__ADS_3

Dua minggu berlalu, hubungan Salwa dan Devano pun sudah semakin dekat. Devano selalu menyempatkan waktunya menghubungi Salwa walau dia sibuk dengan asisten yang akan menggantinya. Devano masih harus mengajarinya semuanya dari awal seperti saat Adelio mengajarinya.


“Apa semuanya sudah selesai Van?” tanya Alvino.


“Iya tuan. Fajar sangat cepat belajar.” Puji Devano kepada Fajar asisten baru yang akan menggantikannya.


“Hmm,, aku mempercayai pilihanmu.” Ucap Alvino.


“Terima kasih tuan.” Jawab Devano.


***


“Kakak kok selalu datang ke sini sih?” tanya Freya yang kini sudah pindah kembali ke apartemennya.


“Kakak ipar gak senang yaa aku sering datang?” tanya Salwa sedih.


“Kak maksudku bukan seperti itu tapi kau selalu datang ke sini, apa pekerjaanmu tidak terganggu?” jelas Freya.


“Hahahah,, kakak ipar, santai! Aku tahu kok, kau tenang aja pekerjaanku gak akan terganggu sedikit pun demi si tampan ini.” ucap Salwa sambil memangku Anand dipangkuannya.


“Makanya segera menikah dan segera punya anak kak.” Ucap Freya.


Tiba-tiba Alvino yang Devano masuk dari pintu, “Kamu salah mengatakan itu padaku kakak ipar, aku sih mau-mau aja segera menikah tapi sayang calon suamiku gak peka.” ucap Salwa memandang Devano yang baru masuk.


Freya dan Alvino pun hanya tersenyum, “Kode tuh Van.” Ucap Alvino lalu segera mendekati istrinya dan mengecup kening Freya. Freya pun menyalami tangan suaminya.


“Ouh kakak! Kakak ipar! Jangan bermesraan dihadapanku.” Ucap Salwa malas.


“Hahahh, maka segera menikah.” Ucap Alvino meledek Salwa. Alvino pun segera masuk ke kamar untuk membersihkan diri dan diikuti oleh Freya dari belakang untuk menyiapkan pakaian ganti untuk suaminya.


“Ah, kalian menyebalkan.” Ucap Salwa berteriak.


“Dek, jangan teriak. Kasihan Anand.” Ucap Devano mengingatkan bahwa ada Anand dalam gendongan Salwa.


“Ouh God, maaf sayang.” Ucap Salwa sambil menatap bayi yang sudah berumur sebulan lebih itu intens.


“Dek, boleh kakak menggendongnya?” izin Devano.


Salwa pun mengangguk dan segera menyerahkan Anand untuk di gendong oleh Devano.


Tidak lama kemudian, “Wow, kalian seperti keluarga yang bahagia.” Goda Alvino yang keluar bersama istrinya.


Salwa pun hanya memandang kakaknya itu sinis, “Sini mana anakku kembalikan.” Ucap Alvino.


“Kakak! Kamu tidak lihat dia sedang bahagia berada dalam gendongan kak Vano.” Ucap Salwa.


“Jadi apa menurutmu jika ayahnya yang menggendongnya dia tidak bahagia?” tanya Alvino.


“Mana ku tahu.” Balas Salwa sambil mengangkat bahu.


“Sayang, coba kamu lihat Salwa.” Ucap Alvino mengadu kepada Freya.


“Hubby, bisa gak jangan bertengkar.” Ucap Freya.


Alvino pun segera mengangguk dan duduk di samping Devano dan tetap meminta putranya dari Devano untuk di gendong. Devano pun segera memberikannya.


“Kapan kalian akan menikah?” tanya Alvino.


“Kakak pertanyaan macam apa itu?” tanya Salwa balik.


“Hey apa pertanyaan kakak aneh? Bukankah kalian sudah dekat? Aku yakin kalian sudah yakin dengan perasaan kalian.” Ucap Alvino.


“Iya kak, aku setuju dengan suamiku.” Goda Freya.

__ADS_1


“Tanyakan tuh padanya!” tunjuk Salwa kepada Devano.


“Kamu beneran ingin segera menikah? Kalau iya, ayo kita ke KUA.” Ajak Devano tersenyum.


“Wa, tuh di ajakin.” Goda Alvino.


“Tau ah malas ngomong sama kalian.” Ucap Salwa segera pergi ke dapur meninggalkan mereka di ruang tamu.


“Semuanya sudah siap Van?” tanya Alvino.


“Sudah tuan.” Jawab Devano.


“Aku harap semuanya berjalan lancar. Semangat untukmu! Aku yakin dia akan menerimamu.” Ucap Alvino.


“Tapi tuan aku butuh bantuan kalian.” Ucap Devano.


“Tenang kak Vano, kami pasti akan memastikan dia ada di sana.” Ucap Freya dan diangguki oleh Alvino.


“Apa yang kalian bicarakan? Kalian gak membicarakanku kan?” tanya Salwa dengan jus di tangannya.


“Siapa sih yang membicarakanmu. Jangan kegeeran dek.” Ucap Alvino.


“Uh,, kakak!” ucap Salwa kesal.


Akhirnya mereka pun bercengkrama di sana sampai Devano dan Salwa pulang.


***


Malam harinya, “Kakak ipar, kok kau di sini?” tanya Salwa melihat Freya dan Alvino ada di rumahnya.


“Gak boleh yaa aku datang kesini?” tanya Freya pura-pura sedih.


“Ouh ayolah kakak ipar, aku hanya penasaran kenapa kalian datang kesini dan juga tidak membawa Anand.” Ucap Salwa melihat bahwa Alvino dan Freya hanya datang berdua.


“Kalau mau kencan kenapa datang kesini? Mau pamer?” tanya Salwa balik.


“Justru karena itu kami datang. Kami tahu kau kesepian makanya kami akan mengajakmu jalan-jalan.” Jawab Alvino.


“Ah, malas. Nanti aku akan jadi obat nyamuk lagi di antara kalian.” Ucap Salwa malas.


“Ayolah kak ikut. Kami sudah di sini bukan untuk menerima penolakanmu.” Ucap Freya.


“Huh, kakak ipar! Apa kau tertular sikap kakak yang suka memaksa?” tanya Salwa.


“Hey, dia itu istriku jadi bisa saja sifat kami sama.” Ucap Alvino tidak mau mengalah.


“Jangan bertengkar, lebih baik sekarang kak Salwa dandan yang cantik dan kita segera pergi karena aku tidak ingin melewatkan apapun.” Ucap Freya.


“Ah, baiklah. Tapi papi dan mami gak ada di sini. Aku harus izin pada mereka.” Ucap Salwa.


“Kami sudah minta izinin kepada paman dan bibi. Tuh lihat!” ucap Alvino sambil memperlihatkan chatnya.


“Baiklah. Aku akan mengganti pakaianku.” Ucap Salwa segera masuk ke kamarnya. Freya pun mengikutinya.


***


“Kita mau kemana sih sebenarnya?” tanya Salwa yang kini sudah ada di dalam mobil bersama Alvino dan Freya.


“Kakak akan tahu nanti.” Jawab Freya misterius.


“Huh, terserahlah.” Ucap Salwa pasrah karena percuma dia bertanya tidak akan ada yang menjawabnya.


Tidak lama kemudian mereka tiba di sebuah taman hiburan, “Kak, kakak ipar! Kalian yakin mau kencan di tempat seperti ini? Ini gelap kak.” Ucap Salwa karena memang benar taman hiburan itu gelap hanya ada beberapa lampu kecil yang menyala.

__ADS_1


“Sudah kamu jangan banyak bertanya lebih baik kita masuk.” Ucap Alvino.


“Gak, aku takut!” tolak Salwa.


“Jangan takut kak, kan ada kami di sini.” Bujuk Freya.


“Huh, baiklah aku ikut tapi jangan tinggalin aku. Aku takut gelap kak.” Ucap Salwa.


Alvino dan Freya pun mengangguk lalu mereka segera masuk ke taman hiburan itu bersama tapi saat sudah sampai di dalamnya tiba-tiba Salwa melihat ke belakangnya sudah tidak ada lagi Alvino dan Freya, “Kakak, kakak ipar! Jangan bercanda begini, kalian dimana? Aku takut kak! Kenapa kalian meninggalkanku? Kakak, kakak ipar! Aku akan teriak nanti.” Ucap Salwa takut.


“Kakak! Kakak ipar! Ini gak lucu! Kalian dimana?” panggil Salwa berteriak takut hampir saja dia menangis.


Tiba-tiba lampu mulai menyala dari arah belakangnya dan ada sebuah layar dengan foto masa kecilnya dan bertuliskan “Will you marry me?”. Lampu terus menyala berurutan hingga terlihatlah pria dengan memakai setelan jas lengkap dengan bunga di tangannya.


Salwa pun yang tadinya ingin menangis ketakutan kini bingung dengan apa yang terjadi, “Jesy, Will you marry me?” tanya Devano berlutut di hadapan Salwa sambil membawa sebuah cincin dan bunga di tangannya.


“Kak, kau disini?” tanya Salwa balik justru mengabaikan pertanyaan dari Devano.


“Kak kau beneran di sini kan? Aku takut ini adalah khayalanku karena ketakutan.” Lanjut Salwa.


Devano pun akhirnya tertawa karena dia tidak menyangka bahwa gadis di hadapannya ini masih saja takut, “Apa menurutmu masih mimpi?” tanya Devano memegang lengan Salwa.


Salwa pun akhirnya percaya bahwa ini nyata dan dia saat ini ada di taman hiburan dengan seorang pria yang saat ini masih menunggu jawaban lamarannya, “Apa kamu sudah percaya?” tanya Devano dan Salwa pun hanya mengangguk.


“Baiklah karena kau sudah percaya. Jadi maukah kau menikah denganku?” tanya Devano menatap Salwa penuh cinta.


“Jesy, Will you mary me?” ulang Devano.


Salwa pun tersenyum lalu mengangguk, “Yes, I will.” Jawab Salwa.


Tiba-tiba kembang api menyala memenuhi langit malam dengan indahnya. Seluruh keluarga pun segera berkumpul mengelilingi Salwa dan Devano, “Kak, pakaikan cincinnya dong.” Goda Freya.


“Kakak ipar! Kalian jahat meninggalkanku.” Ucap Salwa tidak terima ditinggalkan sendiri.


“Tapi kamu senang kan? Cie,, cie,, cie,, yang sudah di lamar.” Goda Alvino.


“Kak, ingat kau masih punya hutang janji padaku.” Ucap Salwa.


“Yaya,, aku ingat. Ya sudah katakan kau ingin apa?” tanya Alvino.


“Aku ingin hadiah pernikahan yang bagus darimu.” Ucap Salwa.


“Cie,, cie,, cie,, yang mentang-mentang sudah di lamar sudah memikirkan pernikahan aja.” Goda Alvino.


“Papi! Mami!” ucap Salwa berlari kepada kedua orang tuanya mengadu.


Semua orang pun tertawa melihat itu. Di sana ada orang tua dari Devano dan Salwa serta Alvino dan Freya tentunya. Orang tua Alvino gak datang karena mereka menjaga cucu kesayangan mereka.


Akhirnya Salwa pun dipakaikan cincin oleh Azana, “Terima kasih bu!” ucap Salwa. Azana pun tersenyum lalu memeluk calon menantunya itu. Dia sangat bahagia bisa bertemu dengan gadis yang sudah direstui oleh putrinya sejak kecil untuk menjadi adik iparnya.


Para anak muda pun melanjutkan kencan mereka di taman hiburan itu dan para orang tua membahas langkah selanjutnya untuk pernikahan kedua anak mereka.


*


*


Happy reading guys !!😊


Jangan lupa like, komen, vote, dan favoritin.🙏🏻😊


Mohon maaf jika ada typo guys.🙏🏻😉


Mohon mampir dong dinovel author yang berjudul “Takdir Hidup Zia”. Author tunggu kedatangannnya, mohon tinggalkan jejak yaa!!🙏🏻😉🥺

__ADS_1


__ADS_2