
Kini Devano dan Salwa sedang ada di sebuah restoran setelah kembali dari perusahaan tuan Smith dan sudah seperti dugaan sebelumnya tuan Smith sangat tertarik bekerja sama dengan perusahaan Aryawiguna dan Stevano. Penandatanganan kontrak akan dilakukan tiga hari lagi dengan Devano sebagai perwakilan dari Alvino.
“Syukur Alhamdulillah. Akhirnya tuan Smith setuju.” Ucap Salwa menghela nafas lega sambil menyeruput teh hijaunya. Salwa memang sangat menyukai teh hijau, itu adalah minuman favoritnya.
Sementara Devano hanya tersenyum melihat gadis di depannya itu jika semakin dilihat maka aura kecantikannya semakin terlihat.
Tiba-tiba ponsel Salwa berdering.
“Halo, Assalamu’alaikum mih.” Salam Salwa.
“Wa’alaikumsalam nak. Kapan kau pulang?” tanya Mami Santi dari seberang.
“Mih aku masih punya urusan disini.” Jawab Salwa.
“Urusan apa lagi nak? Bukankah kata kakakmu pekerjaan kalian bersama tuan Smith adalah urusanmu terakhir disana. Apa kau berusaha menghindari perjodohan yang telah kami atur? Nak sampai kapan kau menghindarinya? Apa kau tidak ingin menikah? Coba lihat kakakmu sebentar lagi dia akan memiliki anak. Mami juga ingin memiliki cucu seperti aunty-mu, apa kau tidak kasihan pada mami? Kamu juga lebih tua 2 tahun dari Freya.” oceh Mami Santi panjang lebar.
“Ahh, Mami. Baiklah aku akan kembali tapi nanti setelah penandatanganan kontrak dengan tuan Smith selesai.” Jawab Salwa akhirnya.
“Baiklah jika begitu mami tunggu. Daa sayang. Silahkan lanjutkan harimu. Mami menyayangimu. Ummachhh” ucap Mami Santi segera menutup sambungan telepon sambil tersenyum.
Tut tut
“Mami!” ucap Salwa kesal karena ditutup begitu saja oleh maminya.
Devano yang daritadi mengamati ekspresi di wajah Salwa sudah menduga pasti dia diperintahkan pulang, “Apa beneran kau akan kembali?” tanya Devano memastikan.
“Hmm,, sepertinya memang begitu. Mungkin memang sudah waktunya aku kembali.” Ucap Salwa tersenyum kecut karena sejujurnya dia masih belum bisa melupakan pria dihadapannya ini.
Devano pun hanya mengangguk mengerti sambil berpikir. Tapi tidak ada yang bisa menebak apa yang ada dalam pikirannya sekarang.
***
“Halo, ayah!” jawab Devano.
“Nak, berapa kau disana?” tanya Arjun Fahrian, ayahnya Devano.
“Sepertinya aku seminggu disini ayah. Ada apa menelponku?” tanya Devano.
“Kau ingat kan, ayah pernah cerita tentang putri teman ayah.” Ucap Arjun.
“Ingat ayah. Emangnya ada apa?” tanya Devano.
“Kamu mau gak ketemu dengannya setelah kau kembali dari pekerjaanmu?” tanya Arjun hati-hati.
“Apa ayah ingin menjodohkanku dengannya? Apa ayah ingin menagih janji yang telah kubuat denganmu?” tanya Devano.
“Hahha,, ayah mana mungkin memanfaatkan janji itu nak. Ayah hanya ingin kau menikah sebelum ayah,,” ucap Arjun.
“Jangan berkata begitu, baiklah siapapun pilihan ayah aku pasti akan menemuinya. Aku pasti akan menepati janji itu karena sepertinya gadis yang ku tunggu memang bukan lagi takdirku.” Ucap Devano.
__ADS_1
“Baiklah jika begitu ayah akan mengatakan ini kepada teman ayah bahwa kau setuju. Terima kasih nak. Jaga dirimu disana.” Ucap Arjun.
“Baiklah, tolong jaga ibu juga ayah.” Ucap Devano.
“Tentu saja.” Jawab Arjun. Sambungan telepon pun segera terputus.
“Sepertinya takdir sekali lagi tidak berpihak kepada kita” gumam Devano sambil melihat sebuah foto di wallpaper ponselnya.
***
Kini Freya dan Alvino pun segera pintah ke kediaman utama keluarga Alvino karena mereka selalu diteror oleh Mami Sinta.
“Sayang, akhirnya kalian pindah juga.” Sambut Mami Sinta kepada anak dan menantunya tapi hanya Freya yang segera didekati dan dibawa kedalam rumah. Alvino yang melihat itu lagi-lagi hanya bisa diam karena selalu seperti itu jika mereka datang ke kediaman utama pasti hanya Freya yang disambut oleh maminya itu seolah-olah dia tidak terlihat lagi dalam pandangan maminya itu.
Freya yang melihat suaminya hanya bisa tersenyum, “Sayang mami senang akhirnya kau pindah juga kesini.” Ucap Mami Sinta membawa Freya duduk di sofa.
“Maaf ya mih Reya baru bisa pindah hari ini.” ucap Freya.
“Gak apa-apa sayang.” Peluk Mami Sinta.
“Nak, kalian sudah tiba?” tanya Papi William.
“Iya pih.” Jawab Freya menyalami tangan ayah mertuanya itu.
“Mih, apa kau melupakan anakmu?” tanya Alvino yang baru saja duduk.
Mami Sinta tetap mengabaikan putranya itu dan tetap serius bicara dengan Freya. Freya yang melihat suaminya yang cemberut karena diabaikan oleh Mami Sinta hanya bisa tersenyum.
“Sayang, kamu sudah makan?” tanya Mami Sinta kepada Freya.
“Sudah kok mih.” Jawab Freya.
“Ya sudah jika begitu kau bisa istirahat.” Ucap Mami Sinta membawa Freya ke kamar.
“Pih, mami sepertinya memang telah melupakanku.” Ucap Alvino yang hanya bisa memandang maminya membawa istrinya pergi. Papi William hanya bisa menertawai putranya itu.
***
“Halo, kakak ipar. Apa kabarmu?” tanya Salwa dari seberang.
“Alhamdulillah baik-baik aja kak. Kalau kakak bagaimana?” tanya Freya.
“Aku baik-baik juga kak.” Jawab Salwa.
“Sepertinya kakak sedang ada masalah. Apa yang terjadi?” tanya Freya.
“Gak ada kok kak. Aku baik-baik aja.” Ucap Salwa.
“Kakak sepertinya sedang membohongiku, apa bibi menyuruhmu pulang?” tebak Freya.
__ADS_1
“Ahh,, sepertinya aku memang harus menghadapi perjodohan itu kakak ipar. Sekarang aku memang merasa tidak laku karena harus menerima perjodohan. Betapa menyedihkannya aku kakak ipar.” Ucap Salwa.
Freya yang mendengarnya hanya tersenyum, “Aku yakin pasti akan ada kebahagiaan yang menantimu kak. Aku doakan semoga kau menemukan kebahagiaanmu.” Ucap Freya.
“Aamiin,, terima kasih kakak ipar. Ohiya, bagaimana kabar keponakanku?” tanya Salwa.
“Dia baik-baik saja kak.” Jawab Freya.
Mereka pun banyak berbagi cerita hingga Alvino masuk kamar mereka tetap belum selesai bercerita. Alvino pun membiarkan istrinya yang tetap masih cerita dengan Salwa. Dia segera ke kamar mandi membersihkan dirinya sebelum menemani istrinya.
“Sudah selesai?” tanya Alvino sambil membersihkan rambutnya yang basah.
“Hmm..” jawab Freya mengangguk sambil berdiri membantu suaminya mengambil pakaiannya.
“Gak usah sayang, hubby bisa mengambilnya sendiri.” Larang Alvino karena dia tidak ingin istrinya kelelahan.
“Gak apa-apa hubby. Ini tugasku melayani suamiku.” Ucap Freya mengambilkan pakaian untuk suaminya.
“Terima kasih sayang.” Ucap Alvino menerima pakaian yang diambilkan istrinya.
“Hubby, maaf yaa karena aku kau diabaikan oleh mami.” ucap Freya.
“Gak apa-apa kok sayang, aku senang mami sangat menyayangimu.” Ucap Alvino mengecup kepala sang istri.
Mereka pun melanjutkan kegiatan malam mereka seperti biasa yaitu membaca ayat suci Al-Qur’an dan satu buah buku mengenai pengetahuan umum untuk calon buah hati mereka.
***
“Terima kasih tuan Smith.” Ucap Devano menyalami tuan Smith.
“Saya sedang bisa bekerja sama dengan dua perusahaan besar kalian. Semoga kerja sama kita ini berkembang dengan baik.” ucap tuan Smith lalu segera pergi dengan disusul oleh asisten dan sekretarisnya dari belakang.
“Ah, akhirnya penandatanganannya selesai juga.” Ucap Devano lega.
“Ohiya ayo kita pergi!” ajak Devano kepada Salwa.
Salwa hanya tersenyum cengesan dan tetap duduk ditempatnya, “Ada apa?” tanya Devano curiga.
“A-aku,,”
*
*
Happy reading guys !!😊
Jangan lupa like, komen, vote, dan favoritin.🙏🏻
Mohon maaf jika ada typo guys,,🙏🏻😉
__ADS_1
Jangan lupa mampir di novel author “Takdir Hidup Zia”. Author tunggu yaa. Mohon tinggalkan jejak juga. Hehehheeh
🙏🏻🥺😁