Di Kala Cinta Menyapa

Di Kala Cinta Menyapa
Season 2 : Episode 88


__ADS_3

Sementara di kamar lain, “Hubby apa menurutmu kak Salwa akan menerima kak Vano?” tanya Freya.


“Kok kamu jadi ragu sih sayang. Bukankah kamu yang paling tahu bahwa mereka saling mencintai hanya saja Devano sangat bodoh menyadari perasaannya hingga harus menyakiti perasaan adikku.” Ucap Alvino.


“Aku hanya takut kak Salwa berubah pikiran.” Ucap Freya.


“Sudahlah kamu jangan pikirkan apapun. Semuanya pasti akan berjalan lancar.” Ucap Alvino memeluk istrinya.


“Aku harap juga begitu.” Ucap Freya.


“Sudah sekarang kamu harus istirahat.” Ucap Alvino.


***


Keesokan paginya, Salwa segera keluar dari kamarnya dengan setelan pakaian kantornya untuk segera bergabung sarapan bersama keluarganya tapi saat dia sampai di meja makan dia melihat Devano ada di sana, “Eehh,, duduk nak.” ucap Mami Sinta.


“Makasih aunty.” Ucap Salwa segera duduk lalu menatap tajam ke arah pria yang ada di hadapannya tapi yang di tatap justru cuek begitu saja.


“Hey, jangan menatap adik iparku seperti itu.” Ucap Alvino.


“Kakak apa’an sih? Eehh,, ingat kau punya janji denganku.” Ucap Salwa.


“Baik nyonya.” Ucap Alvino.


Para tetua pun hanya tersenyum melihat itu. Mereka pun melanjutkan acara sarapan mereka dengan damai.


***


“Wa, kamu gak usah ke kantor hari ini. Biar papi yang akan menggantikanmu memimpin rapat.” Ucap Papi Budiman begitu mereka selesai sarapan.


“Gak bisa gitu dong pih, rapat ini sangat penting.” Tolak Salwa.


“Ini hanya rapat bulanan, jadi kamu jangan mencari alasan. Hari ini kamu papi liburkan dan segera temani Devano.” Ucap Papi Budiman.


“Pih, gak bisa gitu aku ini adalah CEO-nya masa iya tidak hadir untuk rapat.” Ucap Salwa lagi.


“Apa kamu lupa papi siapa?” tanya Papi Budiman.


“Ah, baiklah terserah papi. Eehh,, tapi bukankah kak Vano harus masuk kerja juga?” tanya Salwa.


“Kakak sudah memberinya libur hari ini.” jawab Alvino cuek.


“Kakak aku membencimu.” Ucap Salwa.


“Eehh,, kak tapi kau punya perjanjian denganku. Jadi sebagai permintaan pertama dariku kau harus,,” ucap Salwa.


“No, papi tidak setuju dengan permintaanmu itu.” Potong Papi Budiman.


“Ouh God, padahal aku belum selesai mengatakan apa permintaanku.” Gerutu Salwa.


“Kami sudah tahu nak apa yang ingin kau minta.” Ucap Mami Sinta tertawa.

__ADS_1


“Aunty! Kau juga ikut-ikutan. Apa sekarang kalian nistain aku?” tanya Salwa.


Semuanya hanya diam sambil tersenyum, “Kakak ipar!” panggil Salwa.


“Maaf kak, aku gak bisa membantumu kali ini.” ucap Freya.


“Ouh aku membencimu juga kakak ipar.” Ucap Salwa segera berlalu dan keluar rumahnya.


Devano pun melihat Salwa yang sudah keluar, “Pergilah nak. Kami harap kau bisa meyakinkannya.” Ucap Papi Budiman.


“Terima kasih pih.” Jawab Devano lalu segera berpamitan dan pergi menyusul Salwa.


***


“Kamu mau minum?” tanya Devano memecahkan keheningan karena dari tadi mereka berangkat Salwa diam saja.


Salwa pun menerimanya dan segera meminumnya, “Kemana kita pergi?” tanya Salwa.


“Kau akan tahu nanti.” Jawab Devano misterius.


“Terserahlah.” Jawab Salwa memejamkan matanya.


Devano pun hanya tersenyum melihat itu dan segera membawa Salwa menemui seseorang, tidak terasa Salwa tertidur dalam perjalanan.


“Hmm,, apa kita sudah sampai?” tanya Salwa karena merasa bahwa mobilnya sudah tidak lagi bergerak.


Devano pun mengangguk, “Kita sudah sampai setengah jam yang lalu.” Jawab Devano.


“Saya gak tega membangunkanmu.” Jawab Devano.


Salwa pun hanya mengangguk. Devano pun segera turun dan membukakan pintu mobil untuk Salwa, “Terima kasih.” Ucap Salwa.


“Pemakaman?” tanya Salwa begitu mereka memasuki area pemakaman.


Devano pun hanya terus berjalan lalu berhenti di sebuah makam, “Kak, apa kabarmu? Kau lihat siapa yang aku bawa. Apa kau tidak mengenalinya? Sama aku pun tidak mengenalinya saat pertama kali. Sekarang dia sangat cantik kak.” Ucap Devano bicara dengan makam kakaknya.


“Apa kau tidak ingin menyapanya?” tanya Devano melihat Salwa yang masih saja berdiri dari tadi memandang makam itu.


Salwa pun yang dari tadi hanya memandang kosong ke arah makan yang bertuliskan Devina Darinda Fahrian sambil air matanya menetes, “Kak!” panggil Salwa bersimpuh di atas makam itu.


“Maaf aku baru menemuimu. Aku adik yang jahat kan? Aku juga baru saja mengingatmu. Maaf atas semuanya.” Ucap Salwa menangis.


Mereka pun mencurahkan segala keluh kesah mereka di sana, “Dek, ayo kita pulang?” ajak Devano karena mereka sudah sekitar setengah jam ada di makam itu.


“Aku masih ingin di sini kak.” Tolak Salwa.


“Kita bisa kesini lagi tapi sekarang kita pulang karena sebentar lagi akan hujan.” Ucap Devano.


Salwa pun melihat sekitar dan ternyata benar sebentar lagi sepertinya akan turun hujan, “Kak, aku merindukanmu. Apa kau bahagia disana? Aku janji kak mulai saat ini aku akan rajin mengunjungimu. Tapi sekarang aku harus pulang. Kak aku mau mengadu juga padamu, asal kau tahu saja Kak Vano masih saja menyebalkan dia bahkan menolakku. Kak nanti marahi dia.” Ucap Salwa.


Devano yang mendengar itu hanya bisa tersenyum, “Kak, aku akui aku memang menolaknya tapi itu semua karena foto yang kau tinggalkan. Aku mencari gadis itu untuk ku nikahi karena seolah-olah kau menyuruhku menikahi gadis itu nanti maka aku memutuskan akan menikahinya jadi aku menolaknya kak. Jadi ini bukan salahku sepenuhnya kan kak? Aku yakin kau mengerti aku.” Ucap Devano juga.

__ADS_1


Salwa pun menatap sini ke arah Devano, “Kak, kau dengar kan, dia menyalahkanmu.” Ucap Salwa.


“Ah, baiklah. Itu salahku. Apa sekarang kita sudah bisa pulang?” tanya Devano.


“Baiklah, ayo. Kak kami pamit yaa tapi aku akan mengunjungimu lagi segera.” Ucap Salwa.


Mereka pun segera meninggalkan pemakaman itu.


***


Kini mereka sedang berteduh di sebuah restoran karena hujannya sangat lebat.


“Ini, minumlah. Kau pasti kedinginan.” Ucap Devano memberi segelas teh hangat untuk Salwa.


Salwa pun segera meminumnya karena dia memang kedinginan.


Mereka pun makan di restoran itu sambil menunggu hujan reda, “Dek, kakak mau bicara?” ucap Devano.


“Bicaralah.” Ucap Salwa.


“Mari kita menikah?” ajak Devano.


Salwa hanya tertawa mendengarnya, “Apa kau melamarku di tempat seperti ini kak? Kak Vina lihatlah adikmu ini tidak ada romantis-romantisnya.” Ucap Salwa masih saja tertawa.


“Jangan tertawa dek, kakak serius.” Ucap Devano.


Salwa pun menghentikan tawanya dan kembali serius, “Kak, kita masih punya waktu 29 hari lagi untuk meyakinkan perasaan kita masing-masing. Jangan terburu-buru mengambil keputusan, aku tidak ingin kita menyesalinya nanti.” Ucap Salwa.


“Kakak yakin akan perasaan kakak.” Jawab Devano.


Salwa hanya tersenyum, “Jika kakak memang memiliki perasaan padaku lalu kenapa kakak menolakku berkali-kali?” tanya Salwa,


“Maaf, kakak lama mengenalimu padahal ingatan kakak tidak dihapus seperti memorimu tapi entah kenapa sulit mengenalimu.” Ucap Devano.


“Maka dari itu kak, mari yakinkan perasaan kita. Jangan terburu-buru.” Ucap Salwa.


Devano pun mengerti karena percuma dia meyakinkan Salwa jika Salwa sendiri masih meragukan perasaannya.


“Maaf kak, aku harus melakukan ini karena aku hanya ingin kita menikah karena saling mencintai. Aku tidak ingin kau terpaksa menikahiku.” Batin Salwa.


“Aku akan meyakinkanmu bahwa hanya kaulah satu-satunya gadis yang aku cintai baik dulu maupun sekarang.” Batin Devano.


*


*


Happy reading guys !!😊


Jangan lupa like, komen, vote, dan favoritin.🙏🏻😊


Mohon maaf jika ada typo guys.🙏🏻😉

__ADS_1


Mohon mampir dong dinovel author yang berjudul “Takdir Hidup Zia”. Author tunggu kedatangannnya, mohon tinggalkan jejak yaa!!🙏🏻😉🥺


__ADS_2