
Galang kembali ke apartemen dengan hati dongkol. Pria itu benar-benar tidak mengerti dengan kelakuan ibunya. Bahkan meski sudah dijelaskan berulang kali, perempuan yang telah melahirkannya itu tetap saja tidak mau mengerti dan tidak merasa bersalah sama sekali.
"Dikira itu restoran sama kayak warteg kali, bisa ambil uang hasil penjualan sesuka hati! Emang susah menjelaskan sama orang tua yang nggak ngerti bisnis," keluh Galang. Pria itu benar-benar tidak habis pikir.
Galang membaringkan tubuhnya ke atas kasur. Dia sungguh merasa lelah. Lelah hati dan pikiran. Luka di hatinya akibat kehilangan Laras belum sembuh, kini sudah ditambah lagi dengan luka akibat kemarahan Nadine. Wanita kedua yang juga sama-sama dicintainya.
Aku tidak berpikir kalau hidupku akan kacau seperti ini setelah kehilangan kamu, *Laras*.
Galang meratapi nasibnya. Dia bahkan sekarang merasa sebagai orang yang paling malang di dunia ini.
Mungkin ini adalah hukuman buatku karena sudah menyakiti kamu juga Ruby ....
Galang menarik napas panjang. Pikirannya menerawang mengingat masa-masa indahnya bersama Laras saat masih di kampung dulu.
Harusnya aku lebih mempercayaimu. Aku yakin, seandainya saat itu aku tidak terhasut oleh ucapan Mama, saat ini kita pasti sudah bahagia
***
Nalendra berjalan beriringan bersama Laras pagi itu. Senyum sumringah tercetak di wajah tampannya. Bisa berdekatan dengan orang yang sangat dicintai membuat Nalendra merasa bersemangat dan diliputi oleh beribu-ribu kebahagiaan.
Pria itu saat ini sudah seperti ABG yang sedang jatuh cinta. Nalendra melirik ke arah Laras yang sesekali menampilkan senyum pada beberapa orang pegawai lainnya. Melihat itu, wajah Nalendra berubah kesal.
Jatuh cinta itu memang aneh. Bahkan orang seperti Nalendra yang begitu dingin pun bisa berubah seperti anak kecil.
"Laras, bisakah kau tidak tersenyum saat berpapasan dengan mereka? Kenapa senyuman kamu itu murahan sekali?"
"Hah? Apa?" Laras menghentikan langkahnya.
__ADS_1
"Apa maksud Tuan dengan menyebutku murah sekali?" Laras menatap Nalendra dengan kesal.
"Bukan kamu yang murahan, tetapi senyum kamu. Kenapa kamu harus tersenyum pada setiap orang yang kau temui?" Nalendra menatap Laras dengan tidak suka.
"Maksud Tuan, senyuman saya murah karena hampir semua orang yang saya temui saya senyumin gitu?"
Nalendra mengangguk membenarkan. Raut wajahnya berubah kesal, apalagi saat melihat Laras justru tertawa.
"Tuan Bos ini ada-ada saja. Masa iya, orang tersenyum tidak boleh." Laras kembali menggerutu.
Nalendra berdecak sebal mendengar ucapan Laras. Pria itu kemudian kembali melangkah dengan bergegas meninggalkan perempuan itu.
Benar-benar menyebalkan!
Laras menggeleng pelan. Akhir-akhir ini, Nalendra memang terkadang bersikap aneh. Kadang baik, kadang menyebalkan dan membuatnya kesal.
Laras mempercepat langkahnya, menyusul Nalendra yang sudah terlebih dahulu sampai di ruangannya.
Sesampainya di dalam ruangan, seperti biasa, Laras kemudian mempersiapkan semua kebutuhan Nalendra. Setelah semua selesai, mereka berdua kemudian larut dalam pekerjaannya masing-masing.
Laras dan Nalendra menoleh bersamaan saat terdengar suara pintu terbuka tanpa diketuk terlebih dahulu. Nalendra melepaskan kacamatanya. Wajah tampannya yang tadi tampak serius berubah kesal.
Raut wajahnya tampak terkejut saat dia melihat siapa yang muncul di balik pintu.
Seorang perempuan cantik dengan tubuh dan berpakaian seksi masuk ke ruangan itu dengan senyum yang begitu menggoda.
Laras saja sampai terpesona saat melihat perempuan itu. Apalagi Nalendra yang masih menatap tak berkedip.
__ADS_1
Clara tersenyum genit. Wajah cantiknya terlihat berseri saat melihat Nalendra. Perempuan itu bergegas melangkah mendekati Nalendra.
"Halo, Sayang, aku merindukanmu." Clara memeluk Nalendra yang masih terdiam menatapnya. Laki-laki seolah terbius oleh kecantikan Clara, sang mantan kekasih saat dirinya masih di luar negeri.
Setelah memeluk Nalendra, perempuan itu kemudian mencium kedua pipi Nalendra dan bermaksud mengecup bibir pria itu. Namun, Nalendra segera sadar dan segera menghindar. Netranya melirik ke arah Laras yang sedang memperhatikannya.
"Sayang ...."
"Duduklah!" tegas pria itu.
"Sayang-"
"Duduk, Clara!" Lagi-lagi Nalendra memotong ucapan Clara.
Perempuan cantik itu menghela napas. Meskipun kesal dengan sikap Nalendra, tetapi dia akhirnya mengalah. Dia tidak mau kalau pria itu sampai marah, padahal mereka baru saja bertemu.
"Sayang, sudah lama kita tidak bertemu. Apa kamu tidak merindukanku?" Clara mencoba kembali merayu Nalendra. Wajah cantiknya terlihat manja.
Namun, Nalendra tetap terdiam. Kedua matanya justru fokus menatap Laras. Sementara Clara, wanita itu sepertinya belum menyadari kalau ada orang lain di ruangan itu selain dirinya dan Nalendra.
.
By: Nazwatalita
Jangan lupa like, komen, hadiah dan votenya 🙏
Baca juga karya temen aku yang satu ini
__ADS_1