DIA JUGA SUAMIKU

DIA JUGA SUAMIKU
Part 80 PERGI


__ADS_3

Keadaan di ruangan itu kembali memanas. Aroma permusuhan jelas kentara diantara keduanya. Galang yang memang sudah kehilangan kepercayaan dengan sang ibu dan Ningsih yang tak mau kehilangan putranya, lebih tepatnya kemewahan yang selama ini didapatkannya melalui Galang.


"Ini adalah rumahmu, Galang dan di rumah ini kamu memiliki kamar sendiri. Mama tidak akan mengganggumu," bujuk Ningsih.


"Aku sudah dewasa, Ma. Aku sudah bisa menentukan apa yang seharusnya aku lakukan. Mama adalah ibuku, wanita yang sudah melahirkanku. Tetapi sekarang ini kita sama. Kita sebagai manusia dewasa yang memiliki hak untuk menentukan keputusannya sendiri. Sudah saatnya aku tegas terhadap mama dan sekarang biarkan aku memilih untuk tinggal sendiri."


"Tetapi kalau kamu pergi dari rumah ini, Mama sama siapa?" Perempuan tua itu mulai berancang-ancang untuk menangis.


"Di sini ada Mbak Mira dan anaknya. Ada pembantu, tukang kebun dan penjaga rumah. Jadi Mama tidak tinggal sendiri." Galang bergeming. Lelaki itu malah meneruskan langkahnya menuju kamarnya.


"Tetapi Mama hanya ingin kamu yang menemani Mama di hari-hari tua Mama ini, Nak," sahut Ningsih mengekor langkah putra kesayangannya.

__ADS_1


"Bukannya kita sudah sering terpisah? Bukankah selama ini aku lebih sering tinggal di apartemen, sebelum menikah dengan Nadine?" Galang mengerutkan kening, setelah itu berdecak sebal dengan drama yang tengah dimainkan oleh ibunya.


"Tidak, Nak. Untuk sekarang ini izinkan Mama yang menemanimu melewati semua cobaan di dalam hidupmu," bujuk Ningsih. Dia sungguh berharap agar Galang tetap tinggal di rumah ini agar dia dengan mudah mengendalikan kan anak laki-lakinya itu.


Manis suara ibunya justru membuat Galang semakin merasa mual. Dia sadar, kalau dia masih tetap tinggal di sini, ibunya pasti akan terus merecokinya dengan hal-hal yang justru akan membuat dia semakin hancur.


Galang tidak mau itu terjadi. Dia harus mulai tegas dari sekarang, meskipun itu kepada ibunya sendiri. Dia mencintai ibunya, tetapi bukan berarti semua perkataan ibunya harus dituruti. Ketaatan kepada orang tua tidak mesti harus mengiyakan semua yang diinginkan, apalagi kalau itu berkaitan dengan urusan pribadinya sendiri. Kalau seorang anak laki-laki menjadi milik mutlak ibunya, untuk apa dia menjadi dewasa? Untuk apa dia menikah dan hidup berumah tangga?


Galang menyambar kunci mobil, kemudian memasukkan dompet serta ponselnya ke dalam saku baju dan celananya.


Lelaki itu merendahkan tubuhnya, terus menunduk, hingga menyentuh kaki sang ibu.

__ADS_1


"Tanpa harus mengurangi rasa cinta dan baktiku kepada Mama, biarkan aku menentukan jalan hidupku sendiri, Ma. Tolong jangan pernah lagi ikut campur dalam masalah pribadiku. Persoalan Laras dan Nadine, biarkan aku menyelesaikannya sendiri. Jangan pernah turut campur, apalagi sampai melibatkan Paman Rusdi!"


"Mama hanya ingin yang terbaik untukmu, Galang. Dia menarik tubuh putranya kembali berdiri. Sekarang posisi mereka sejajar.


"Yang terbaik menurut Mama dan terbaik menurut Galang belum tentu sama. Kita memiliki sudut pandang yang berbeda tentang apa yang menurut kita terbaik. Ya sudah, aku berangkat. Jaga diri Mama baik-baik."


Meskipun hatinya mendongkol, Galang tetap mencium tangan ibunya. Langkah-langkahnya mantap keluar dari kamar, menuju ruang tamu dan berakhir di teras rumah. Perempuan tua itu berusaha mengejar, tetapi langkahnya kalah cepat. Dia hanya sanggup menatap nanar putranya yang membawa mobilnya keluar dari halaman dan akhirnya menghilang di balik pintu pagar.


.


By: Jannah Zein

__ADS_1


Jangan lupa like, komen, hadiah dan votenya ya 🙏


__ADS_2