
"Bisakah kau sedikit saja menjaga harga dirimu sebagai seorang istri?"
Galang mencengkeram rahang Laras. Kedua matanya menatap perempuan itu dengan sorot mata tajam, penuh amarah!
Pria itu melepaskan cengkeramannya, kemudian meraih lengan Laras, menarik perempuan itu dan membawanya ke dalam toilet yang kebetulan terlihat sepi.
Galang menatap perempuan itu dengan penuh amarah dan kecemburuan yang tampak di wajah tampannya.
Dia mengingat kejadian tadi pagi saat masih di rumah. Perempuan itu dengan patuh melayani Nalendra di depan matanya. Tatapan Nalendra pada perempuan yang masih sah menjadi istrinya itu membuat hati Galang terbakar cemburu.
"Apa maksudmu, Mas?"
"Kau sangat tahu apa maksudku, Laras!" Pria itu masih menatap Laras dengan penuh intimidasi.
Sementara, Laras semakin tidak mengerti dengan arah pembicaraan Galang.
"Aku benar-benar tidak mengerti apa yang kau katakan, Mas ...." Laras menatap pria itu.
Pria yang sampai kini masih bertahta di hatinya. Meskipun pria itu kini menikah lagi, tetapi tetap saja, tidak mudah bagi dirinya untuk melupakan pria itu.
"Dengar, Laras! Kau jangan berpikir, karena pria itu mendekatimu kemudian kau mengira kalau pria itu menyukaimu!"
"Pria siapa yang kau maksud? Aku tidak pernah dekat dengan pria manapun semenjak menikah denganmu, Mas. Tidak pernah! Selama ini, aku selalu menjaga diriku sebagai istrimu!"
"Selama bertahun-tahun aku selalu setia menunggumu, berharap suatu hari kau pulang, agar kita bisa bersama lagi. Apa kamu tahu? Ruby, anak kita, selalu berharap kau pulang, agar dia bisa seperti anak-anak lain, mempunyai seseorang yang bisa dia panggil ayah!"
"Jangan menyebut anak itu sebagai anakku, Laras! Karena dia bukan anakku!" Ucapan Galang seketika membuat Laras membeku.
__ADS_1
"Aku tahu semua perbuatanmu di kampung, Kau mengkhianatiku bukan? Anak itu bukanlah anakku, tetapi anakmu dengan pria lain!"
Deg!
Laras memundurkan langkahnya. Perempuan itu menatap Galang tak percaya. Luka yang belum juga mengering, kini kembali terbuka. Kata-kata pria itu bagai belati yang langsung menghujam jantungnya.
Kedua matanya berkaca-kaca, meskipun Laras sekuat tenaga menahannya, agar air mata itu tidak tumpah, tetap saja, kata-kata Galang seperti air garam yang menetes di atas lukanya yang masih terbuka.
Pria itu bukan lagi pria yang Laras kenal dulu. Pria yang sangat mencintainya dengan setulus hati. Pria yang berjanji padanya akan memberi kebahagiaan setelah lulus kuliah dan bekerja nanti.
Kini, pria itu sudah berubah. Bukan hanya wajahnya yang berubah lebih tampan, ternyata sikapnya pun berubah seratus delapan puluh derajat. Galang berubah kasar dan pemarah.
Laras menatap pria itu dengan air mata yang sudah membasahi kedua pipinya.
"Kamu bilang, aku mengkhianatimu? Atas dasar apa sampai kau mengatakan kalau aku sudah mengkhianatimu, Mas? Atas dasar apa sampai kau mencurigai kalau Ruby itu bukan anakmu?!" Laras berteriak sambil menangis.
Galang yang sedikit khawatir kalau ada orang yang mendengar teriakan Laras, langsung membekap mulut perempuan itu dengan telapak tangannya.
Galang menarik perempuan itu ke salah satu bilik toilet. Pria itu merapatkan tubuh Laras ke tubuhnya, tangan kirinya melingkar di perut Laras.
Sejenak Galang terpaku. Dadanya berdebar, jantungnya berdetak cepat. Entah apa yang sedang dirasakannya kini. Kebencian yang selama ini tertanam di hatinya seolah sirna
saat melihat perempuan ini di depannya.
Galang melepaskan bekapan tangannya, saat Laras meronta. Perempuan itu menghirup napas dalam-dalam. Sementara, Galang tanpa sadar mendekap perempuan itu dari belakang.
Laras menutup mulutnya, agar isak tangisnya tak keluar.
__ADS_1
"Kenapa kau tak menunggu pulang? Kenapa kamu harus mengkhianatiku, hingga akhirnya kau melahirkan anak pria lain?"
Air mata Laras semakin mengalir deras saat suara Galang menyapu pendengarannya. Hangat napas pria itu menyentuh telinganya.
"Ruby anak kita. Dia darah dagingmu, buah cinta kita, Mas ...." Laras berucap lirih. Namun, masih terdengar di telinga Galang.
"Jangan pernah mengatakan kebohongan di depanku, Laras." Pria itu mengeratkan pelukannya pada Laras.
Amarahnya kembali naik seketika, saat Laras kembali membahas tentang anak itu. Semua ucapan keluarganya tentang perbuatan Laras selama di kampung kembali terngiang di telinganya.
"Jangan sebut anak orang lain sebagai anakku!" Galang kembali berbisik di telinga Laras penuh penekanan.
"Dia anakmu, Mas, aku tidak pernah mengkhianatimu, aku berani bersumpah ...." Laras memberanikan diri menatap pria itu. Pandangannya kabur, karena air mata yang sedari tadi tak berhenti mengalir.
Bibirnya bergetar seiring rasa sakit, ketika pria itu tetap bersikeras menyangkal kalau Ruby bukanlah putrinya.
"Kau bohong!" Galang mencengkeram dagu Laras. Kedua matanya menatap perempuan itu dengan penuh amarah.
Laras menggeleng pelan. Wajah cantiknya terlihat sedikit meringis karena cengkraman tangan pria itu.
"Ruby adalah anak kita, darah da-"
Laras tak melanjutkan ucapannya, ketika bibir Galang bergerak kasar membungkam mulutnya.
.
By: Nazwatalita
__ADS_1
Jangan lupa dukung terus Authornya ya, dengan cara like, komen dan kasih hadiah gift atau vote.
Terima kasih sudah membaca ....