
"Jadi sampai sekarang Mama dan Paman masih mengganggu Laras?"
Perkataan itu sontak membuat Ningsih kaget. Wajahnya bertambah merah saat menatap Galang, putranya yang balas menatapnya. Lelaki itu mengepalkan tangannya.
"Jadi ini yang Mama lakukan di belakangku? Memangnya apa kekuranganku di keluarga ini, Ma? Aku kurang apa?" teriak Galang. Dia memukul-mukul dinding untuk meluapkan kekesalannya.
"Galang-" Suara Ningsih langsung terhenti saat Galang memotong ucapannya.
"Aku tidak meminta apapun kepada kalian semua! Aku tidak pernah meminta Paman dan Mama untuk mengembalikan semua aset yang dibeli dengan uangku! Tapi hanya satu hal yang aku minta pada kalian, jangan pernah mengganggu Laras dan Ruby!"
"Itu pamanmu, Galang! Pamanmu yang bodoh. Dia yang menculik putrimu!" hasut Ningsih. Dia bersikeras tak mau disalahkan dalam hal ini.
"Justru Mama berniat baik, ingin menyelamatkan pernikahanmu dengan Laras. Mama yang menyuruh Paman untuk mengambil berkas pernikahanmu agar kamu batal bercerai dengan Laras. Mama masih memikirkan perasaanmu, Nak," ujarnya.
"Kenapa tidak dari dulu saja Mama menyelamatkan pernikahanku? Kenapa Mama harus berbuat jahat terhadap Laras? Kenapa Mama tega mengambil uang dan memfitnah Laras?"
Perkataan yang sontak membuat Ningsih terdiam.
__ADS_1
"Terus, apa mau Mama setelah ini?" sambungnya.
"Sekarang Mama sudah sadar, Nak. Mama tahu kamu masih mencintai Laras, karena itu Mama berinisiatif untuk menyuruh pamanmu mengambil berkas pernikahan kalian, agar perceraian itu tidak terjadi. Mama tidak menyangka pamanmu akan bertindak sejauh ini," jelas Ningsih.
"Aku tidak bisa berpikir apapun Ma. Sekarang, aku hanya ingin menenangkan diri. Kalau memang Laras harus terlepas dariku, ya sudahlah! Aku tidak akan lagi memaksa Laras untuk bersamaku." Laki-laki itu memejamkan matanya seolah pasrah, meskipun jauh di lubuk hatinya tidak pernah bisa merelakan.
Kini keduanya sudah duduk di sofa. Ningsih yang duduk sembari menyilangkan kakinya menatap putranya, sementara Galang memasang ekspresi dingin di wajahnya.
"Mama minta maaf ya, Nak. Tapi kamu percayalah, seorang ibu tidak akan pernah menginginkan keburukan pada anaknya. Mama hanya ingin menyelamatkan pernikahanmu dengan Laras sebagai bentuk penyesalan Mama karena selama lima tahun terakhir ini sudah mengabaikan perasaanmu, sudah melukai hati anak mama ini." Wanita tua itu meraih tangan putranya.
"Mama ingin mengembalikan Laras padamu, walaupun mungkin sudah agak terlambat." Ningsih terus berusaha membujuk Galang agar tak lagi marah kepadanya.
"Kamu harus lawan dia! Pertahankan istrimu. Jangan sampai Laras jatuh ke tangan Nalendra. Belum lagi kalau seandainya nanti Nadine pun meminta cerai. Kamu akan kehilangan segalanya, Nak."
"Aku tidak tahu, Ma. Tapi yang jelas sekarang hubunganku dengan Nadine juga sedang di ujung tanduk."
"Bagaimana kalau kamu mencoba membujuk Nadine untuk kembali kepadamu?" usul Ningsih.
__ADS_1
"Akan sulit semua itu, Ma, tapi nanti pelan-pelan akan Galang lakukan. Membujuk Nadine bukan perkara mudah, apalagi Daddy dan mommynya sudah membenciku, karena menganggap aku pengkhianat," keluh Galang.
Ningsih meremas tangannya. sekarang dia harus lebih berhati-hati. Bagaimanapun ia tidak mau posisi anaknya akan semakin terancam. Galang harus tetap berada di sana dan menjadi bagian dari keluarga Chandra.
Galang adalah tambang emasnya selama ini. Dia tidak mau Galang hancur. Kalau Galang hancur, sia-sia saja usaha kerasnya selama ini. Apalagi kini hidupnya sepenuhnya bergantung kepada putranya itu. Dia tidak mau kehidupan mewahnya selama ini terusik. Dia tidak ingin hidup miskin seperti masa lalunya.
Lelaki itu mengacak rambutnya sejenak, kemudian bangkit dari tempat duduk. Baru saja ia akan melangkah, suara ibunya membuat langkah laki-laki itu terhenti.
"Kamu mau kemana, Galang?"
"Sebaiknya aku menenangkan diri di apartemen, Ma. Aku ingin benar-benar sendiri."
.
By: Jannah Zein
Jangan lupa like, komen, hadiah dan votenya ya 🙏
__ADS_1
Sambil nunggu update, kepoin karya temen aku ini yuk!