
Laras bangkit dari ranjang, perempuan itu meringis, merasakan sakit di bagian tubuh bawahnya.
Nalendra benar-benar keterlaluan. Pria itu mengerjainya habis-habisan sampai dia kehilangan tenaga.
Entah apa yang diminum oleh suaminya, sampai-sampai pria itu tidak mengenal lelah dan begitu kuat meski bertempur semalaman.
Laras kembali meringis. Meskipun dia sudah tidak perawan, tetapi Laras sudah bertahun-tahun tidak melakukannya. Makanya, dia seolah kembali menjadi perawan saat Nalendra mengerjainya habis-habisan di atas ranjang.
Nalendra membuka matanya, merasa terganggu dengan pergerakan Laras.
"Mau kemana, Sayang?"
"Mau ke kamar mandi."
Nalendra menatap wajah sang istri yang terlihat pucat dan meringis kesakitan.
Pria itu bangkit, kemudian mengangkat tubuh sang istri ke dalam kamar mandi.
Sudah dua hari semenjak malam pertama mereka, Nalendra terus saja menyerang Laras. Pria itu berkali-kali menyerang tubuh istrinya tanpa ampun.
Sudah lama tidak berhubungan dengan wanita membuat Nalendra seolah bagai seekor serigala yang kelaparan.
Dua hari dia mengurung istrinya di kamar hotel. Pria itu tidak mengizinkan istrinya pergi kemanapun.
Bahkan saat makan pun, Nalendra dengan telaten menyuapinya.
"Maafkan aku. Aku terlalu bersemangat." Nalendra menatap Laras dengan wajah bersalah.
"Kemarin pagi juga ngomongnya begitu, tapi habis itu kamu melakukannya lagi." Laras menatap Nalendra dengan wajah cemberut.
Sementara Nalendra tersenyum kikuk.
"Kamu terlalu menggoda, Sayang, Aku tidak tahan," ucap Nalendra. Tangannya bergerak masuk ke dalam bathtub, menyentuh tubuh Laras yang sedang berendam air hangat.
"Jangan mulai!" Laras menyingkirkan tangan Nalendra, membuat laki-laki itu tertawa kecil.
"Aku lapar." Laras menatap wajah Nalendra yang terlihat tampan meski baru saja bangun tidur.
"Aku akan memesan makanan untukmu." Nalendra mengecup bibir istrinya sekilas sebelum akhirnya keluar dari kamar mandi.
***
Mereka berdua makan dengan begitu lahap.
"Pelan-pelan, Sayang ...." Nalendra mengusap bibir Laras yang belepotan.
"Aku laper banget." Perempuan itu tersenyum, kemudian kembali menyuapkan makanan ke mulutnya.
Sementara Nalendra tersenyum jahil.
"Baguslah kalau kamu makan banyak. Biar nanti punya tenaga lagi saat bertempur denganku."
"Ale!"
Nalendra tertawa mendengar teriakan istrinya.
__ADS_1
"Punyaku masih sakit, aku tidak sanggup melayanimu lagi."
"Besok juga sembuh."
"Ish!"
Nalendra kembali tertawa. Pria itu menatap Laras dengan perasaan bahagia.
"Terima kasih, karena sudah menerimaku menjadi bagian hidupmu." Nalendra membelai rambut Laras.
"Selesaikan makannya dulu, baru cium-cium!" Laras mendorong wajah Nalendra yang berniat menciumnya.
Sementara Nalendra langsung cemberut.
"Merusak suasana saja."
Laras tertawa.
"Salah sendiri!"
"Aku kan pengen romantis-romantisan sama kamu."
"Dari kemarin kamu sudah sok romantis, sampai aku kenyang denger gombalan kamu."
Mereka berdua tertawa. Mengingat betapa konyolnya mereka selama dua hari ini.
"Aku mencintaimu."
"Aku juga sangat mencintaimu."
***
Pria paruh baya itu sedang membaca buku.
"Opa, kenapa Mama dan Daddy tidak pulang-pulang?" Ruby mendongak ke arah Tuan Chandra dengan wajah sedih.
Tuan Chandra tersenyum melihat gadis kecil itu.
"Besok pagi, Daddy pulang. Sekarang Mama sama Daddy masih ada urusan, jadi belum bisa pulang."
"Yaahh ... Ruby kan kangen. Memangnya Daddy nggak kangen sama Ruby? Mama juga. Kenapa Mama juga nggak pulang-pulang? Sebel deh!" Gadis kecil itu terlihat merajuk, membuat Tuan Chandra gemas.
Lelaki paruh baya yang masih terlihat gagah itu mengangkat tubuh Ruby ke atas pangkuannya.
"Sabar ya, besok pagi Mama dan Daddy pasti pulang."
Nyonya Aline datang mendekati mereka sambil membawa secangkir teh untuk suaminya.
"Ada apa? Kenapa cucu Oma cemberut?"
Ruby semakin memanyunkan bibirnya membuat Nyonya Aline merasa gemas.
"Ada apa, Sayang? Nanti cantiknya ilang lho, kalau cemberut terus!" goda Nyonya Aline lagi.
"Ruby kangen sama Daddynya."
__ADS_1
"Oh ... cucu Oma kangen sama Daddy?" Ruby mengangguk.
"Sama Mama juga?" Gadis kecil itu kembali mengangguk.
"Kalau begitu ayo kita telepon mereka."
"Mom ...," protes Tuan Chandra.
"Biar saja, biar mereka pulang. Mommy yakin, anak nakal itu pasti sekarang sedang mengurung istrinya," ucap Nyonya Aline.
"Namanya juga pengantin baru, Mom."
"Iya. Tapi harusnya mereka ingat sama anak mereka. Daddy nggak kasihan lihat dia?" Nyonya Aline menunjuk ke arah Ruby.
"Ya sudah, terserah Mommy saja. Tapi hati-hati, jangan membuat putramu marah." Tuan Chandra tertawa sambil mengusap rambut Ruby.
Tanpa memedulikan suaminya, Nyonya Aline melakukan panggilan video yang ternyata langsung diangkat oleh Nalendra.
"Halo, Mom, ganggu aja deh! Pake video call segala lagi!" Nalendra terlihat mengusap wajahnya kasar.
Napasnya memburu karena kesal. Sementara, Laras menggulung tubuhnya dengan selimut hingga menutupi sebagian wajahnya.
"Cepat pakai bajumu! Putrimu sedari kemarin merajuk ingin bertemu denganmu!"
Nyonya Aline menahan tawa. Sepertinya dia menelepon di saat yang tidak tepat.
Nalendra segera memakai bajunya. Setelah rapi, dia kemudian mengarahkan ponsel pada wajah tampannya.
"Halo, Sayang ...." Nalendra menatap gadis kecil yang saat ini sedang berada dalam pangkuan Tuan Chandra.
"Daddy!"
.
By: Nazwatalita
Jangan lupa like, komentar dan votenya 🙏
Masih ada beberapa bab lagi sebelum tamat ya teman-teman ....
Baca juga karya temen aku yang satu ini Yuk!
Napen: isti shaburu
Karya: Romansa Dokter Ganteng dan Pelayan Cafe
Niat hati membantu Veronica sang pelayanan cafe cantik dan pendiam yang sedang kesulitan untuk biaya rumah sakit sang ibu dengan cara menikah secara siri.
Agam Arsenio sang dokter ganteng pujaan hati para dokter dan perawat serta pasien wanita malah jatuh cinta kepada Veronica.
Bagaimana kisah cinta mereka?
Apakah mereka akan menikah secara resmi?
Natikan kisah gaje segaje-gajenya.
__ADS_1