
Nalendra menatap Laras yang baru saja keluar dari ruangan VIP, laki-laki itu tersenyum, beranjak dari duduknya, bermaksud memanggil Laras.
Namun, seketika Nalendra mengurungkan niat saat dia melihat pria yang tak asing keluar dari ruangan yang sama dengan Laras, kemudian pria itu langsung menarik tangan Laras dan menggenggamnya.
Awalnya Laras terlihat menolak. Wajahnya terlihat cemberut, tetapi detik berikutnya, dia tidak menolak saat Galang memegang dan menggandeng tangannya.
'Galang dan Laras ... apa-apaan mereka? Kenapa mereka bergandengan tangan dan terlihat mesra?'
Kedua mata Nalendra menatap mereka berdua dengan tajam. Rahangnya mengeras, kedua tangannya terkepal erat.
'Apa ada yang aku lewatkan selama ini? Mereka berdua ... apa ada sesuatu di antara mereka berdua?'
Nalendra menatap Galang yang tampak tersenyum manis pada Laras. Sementara Laras terlihat cemberut dan hanya fokus menatap ke depan, tidak memperhatikan Galang sama sekali.
Nalendra memalingkan wajahnya saat dia melihat kedua orang itu sudah berada dekat dengan tempat dia duduk sekarang. Pria itu kembali menatap Galang dan Laras yang masih bergandengan tangan, sampai kedua punggung orang itu tidak terlihat lagi.
Galang dan Laras sudah keluar dari restoran. Sementara Nalendra segera meraih ponselnya.
"Baik, Bos!"
Seseorang di seberang sana menjawab dengan tegas, sementara Nalendra masih tidak percaya dengan apa yang dilihatnya. Kedua tangannya kembali mengepal.
'Laras ... ada apa sebenarnya di antara kamu dan Galang?'
Pria itu membayangkan kemungkinan-kemungkinan terburuk yang terjadi di antara mereka berdua. Seandainya benar seperti yang ada dipikirannya saat ini,
"Ya, Tuhan, Laras ...!" Nalendra meremas rambutnya dengan kasar. Dadanya bergemuruh memikirkan kemungkinan-kemungkinan terburuk yang terjadi di antara mereka berdua.
Nalendra menarik napas panjang, mencoba menetralkan perasaannya.
Laras! Entah sejak kapan nama itu tersimpan rapi di dalam hatinya. Perempuan itu, hampir setiap malam selalu hadir dalam tidurnya. Rasanya, Nalendra benar-benar merasakan perasaan yang aneh saat bersama perempuan itu.
Seandainya saja Laras belum menikah, pria itu pasti akan terang-terangan mengejarnya. Tak peduli walaupun perempuan itu hanya seorang asisten rumah tangga atau pun asisten pribadinya.
Namun, apa yang baru saja dia lihat membuat Nalendra berpikiran buruk terhadap Laras.
Nalendra kembali meraih ponselnya.
"Selidiki tentang Laras dan Galang! Cari tahu, kapan dan di mana saja mereka bertemu!"
"Baik, Bos!"
__ADS_1
Nalendra kembali menelepon orang yang tadi disuruhnya untuk mencari tahu tentang Galang.
****
Nalendra menatap Laras yang tampak serius mengerjakan pekerjaannya. Perempuan itu terlihat sangat cantik. Dilihat dari segi manapun, dia tetap saja cantik. Bodohnya pria yang menjadi suaminya, karena membiarkan perempuan secantik Laras harus bekerja untuk mencukupi kebutuhan hidupnya.
'Seandainya laki-laki yang menjadi suamimu itu adalah aku, aku pasti tidak akan membiarkanmu lelah bekerja seperti ini.'
'Aku pasti akan mengurungmu di dalam kamar, dan menikmati wajah cantikmu hanya untuk diriku sendiri.'
Tatapan mata Nalendra jatuh pada bibir Laras yang terlihat seksi. Bibir beroleskan lipstik warna merah jambu itu terlihat begitu menggoda. Rasanya, Nalendra ingin sekali mendekati Laras kemudian meraup bibir itu ke dalam mulutnya.
'Sial!'
Hanya dengan melihat bibir perempuan itu saja membuat bagian tubuh bawahnya menegang.
'Perempuan ini benar-benar!'
Entah apa yang terjadi pada Nalendra. Dulu, sebelum pulang ke negaranya, dia termasuk pria yang sering memuaskan hasratnya dengan beberapa perempuan yang menjadi partnernya di atas ranjang. Setelah lelah dengan pekerjaannya, pria itu pasti akan berkumpul dengan teman-temannya di tempat hiburan malam.
Tempat di mana dia biasa minum minuman beralkohol dan bercinta sepuasnya dengan perempuan yang diinginkannya.
Hidup Nalendra sekarang hanya seputar kantor dan rumah saja. Kalau pun keluar, pria itu hanya keluar bersama sang asisten pribadi, Laras!
Nalendra tersenyum, masih menatap Laras yang belum menyadari kalau dirinya sedang diperhatikan.
'Sekarang aku tahu, kenapa aku tidak lagi berselera menghabiskan waktu di tempat hiburan malam dan mencari perempuan untuk menjadi pemuas gairahku.'
Nalendra tersenyum menatap perempuan cantik di depannya.
'Itu karena kamu, Laras. Semenjak bertemu denganmu, aku merasa sangat nyaman saat berada di kantor, juga saat aku berada di rumah.'
"Tuan ... Tuan Nalendra!"
Nalendra tersentak mendengar teriakan Laras.
"Kenapa Tuan senyum-senyum sendiri? Apa Tuan sedang melamun?"
"Kepo!"
"Dih! Kan saya cuma nanya, Tuan. Memangnya tidak boleh?"
__ADS_1
Melihat wajah Nalendra yang memerah, membuat Laras ingin menggoda pria itu. Rasanya, sudah lama sekali dia tidak berdebat dengan bosnya itu.
"Tuan pasti melamun jorok, ya? Makanya Tuan senyum-senyum sendiri."
Mendengar ucapan Laras, membuat wajah putih bersih Nalendra memerah. Dalam hati dia merutuki Laras, karena apa yang diucapkan Laras itu memang benar.
Saat ini dirinya memang sedang membayangkan, seandainya Laras saat ini berada dalam kungkungannya.
Laras tertawa melihat Nalendra yang terlihat salah tingkah.
"Jadi benar? Tuan sedang membayangkan-" Ucapan Laras terhenti saat tiba-tiba Nalendra bangun dari tempat duduknya kemudian membungkam mulut Laras dengan telapak tangannya.
"Bisa diam tidak?"
Laras menahan tawa. Sejenak perempuan itu seperti terhipnotis saat melihat wajah Nalendra yang begitu dekat dengan wajahnya.
Nalendra melepaskan telapak tangannya dari mulut Laras. Tak jauh berbeda dengan Laras, pria itu pun tak berkedip menatap wajah cantik di depannya.
Wajah mereka hanya berjarak beberapa centi saja. Pandangan mata Nalendra berhenti pada bibir seksi Laras yang seolah sedang menggodanya. Bibir itu seolah melambai ingin segera dikulumnya sampai puas.
Tanpa mereka sadari, wajah mereka semakin mendekat. Namun, suara dering ponsel Nalendra membuat mereka tersadar.
"Halo!"
Nalendra menjawab telepon itu dengan nada kesal. Namun, sedetik kemudian, wajah kesalnya berubah terkejut saat mendengar ucapan seseorang di seberang sana.
Nalendra menatap Laras dengan tatapan tak percaya. Panggilan telepon itu dari seseorang yang kemarin Nalendra suruh untuk mencari tahu dan menyelidiki Galang dan Laras.
'Tidak mungkin!'
.
By: Nazwatalita
Maaf telat updatenya ya, teman-teman ....
Jangan lupa like, komen, hadiah dan votenya ya 🙏
Sambil menunggu up, kalian boleh mampir ke karya temen aku yuk!
__ADS_1