DIA JUGA SUAMIKU

DIA JUGA SUAMIKU
Part 26 RAHASIA YANG TERBONGKAR


__ADS_3

Galang menatap perempuan yang sedang tertidur itu dengan penuh minat. Berkali-kali dia menelan salivanya. Pusat gairahnya bahkan sudah menegang hanya dengan melihat perempuan itu tertidur.


"Sial!" Galang mengumpat.


Dalam hati, dia merasa kesal pada dirinya sendiri. Setiap kali melihat Laras, Galang memang selalu merasakan sesuatu yang beda. Sesuatu yang tidak pernah dia rasakan pada Nadine, istri keduanya.


Istri pertamanya ini selalu saja membangkitkan gairahnya meski dia tidak melakukan apapun. Berbeda dengan Nadine. Saat bersama Nadine, Galang menghabiskan beberapa menit agar gairahnya langsung naik dengan sempurna.


Galang mendekati perempuan itu. Menatap dalam-dalam wajah cantik Laras. Pria itu kemudian menepuk tubuh Laras, sengaja membangunkan sang istri pertama.


Laras terlonjak kaget saat membuka mata. Namun, Galang segera membekap mulutnya dan menyuruh Laras diam. Galang melepaskan tangannya, setelah Laras menganggukkan kepalanya.


"Di mana kamu simpan buku tabungan kamu?"


"Hah?"


Laras yang belum sepenuhnya tersadar, menatap pria yang masih menjadi suaminya itu dengan bingung.


Galang menghela napas, kemudian mengulangi kembali pertanyaannya dengan pelan.


"Untuk apa kamu ingin melihat buku tabungan aku, Mas?"


"Tidak usah banyak bertanya. Bukankah kamu bilang kamu tidak pernah menerima uang sepeser pun dariku?" Galang menatap istrinya.


"Aku hanya ingin memastikan, kalau kau tidak sedang membohongiku."


"Aku tidak pernah berbohong, Mas. Aku benar-benar tidak pernah menerima uang darimu sepeser pun!"

__ADS_1


"Kalau begitu, tunjukkan padaku di mana kamu menyimpan buku tabungan itu!"


Laras beranjak dari tidurnya. Perempuan itu kemudian membuka lemari bajunya.


Tak berapa lama kemudian, Laras memberikan sebuah buku tabungan yang diminta Galang. Pria itu mengambil ponselnya, kemudian mencocokkan nomer rekening yang tertera di buku tabungan Laras dengan nomer rekening yang ada di ponselnya.


Kepalanya menggeleng pelan sambil menatap wajah sang istri.


"Kenapa nomer rekeningmu berbeda dengan nomer rekening yang dikasih Paman Rusdi? Kamu sedang tidak berbohong padaku kan, Laras?" Galang menatap tajam ke arah Laras.


"Bohong apalagi sih, Mas? Kamu pasti ingat kan, ini buku tabungan satu-satunya yang aku punya sejak dulu. Kamu bisa teliti baik-baik," sahut Laras kesal. Sudah ada bukti di depan mata, tetapi pria itu masih saja tidak percaya.


"Nomer rekeningmu berbeda dengan nomer yang diberikan paman," ulang Galang.


"Kalau begitu, kau tanyakan saja pada pamanmu itu, kenapa nomernya berbeda."


"Tapi kenapa di nomer ini juga tertulis namamu?"


"Mana aku tahu, Mas. Tanyakan saja pada paman dan seluruh keluargamu!"


"Selama bertahun-tahun aku dan keluargaku kesusahan karena semua aset yang ibu punya sudah terjual habis untuk membiayai kuliahmu, tetapi kamu dan keluargamu tidak pernah sedikitpun peduli padaku. Aku bahkan berkali-kali mendatangi keluargamu untuk menanyakan kabar tentangmu.


Tapi, mereka selalu bilang kalau kamu tidak pernah mengabari mereka. Jangankan uang, kamu ada di mana saja aku tidak tahu."


"Laras ...."


"Pergilah! Aku tidak mau orang lain tahu kamu ada di sini. Kamu tidak mau, kan, mereka mengetahui hubungan kita?" Laras menatap pria itu dengan berkaca-kaca. Entah mengapa, meskipun sudah mencoba untuk kuat, tetap saja rasa sakit saat mengenang masa lalu masih terasa di hatinya.

__ADS_1


"Berarti selama ini kamu benar-benar tidak menerima uang itu, Laras?" Galang menatap Laras penuh selidik. Dia bahkan tidak menghiraukan perintah Laras untuk meninggalkan kamarnya.


Berbagai macam pertanyaan hadir di dalam benaknya. Kalau bukan Laras yang menerima uang itu selama bertahun-tahun, lalu siapa yang menerima uang yang dia kirim selama ini?


"Sebaiknya kamu jangan membohongiku, Laras. Aku yakin kamu pasti menyimpan buku tabungan lain dengan nomer yang paman kirimkan padaku." Galang menatap tajam ke arah Laras.


Dia masih belum mempercayai kalau seluruh keluarga besarnya membohonginya. Termasuk sang paman yang kemarin mengirim foto palsu Ruby, dan sekarang dia baru saja mengungkap kebenaran kalau ternyata rekening yang selama ini dia isi dengan uang dengan jumlah yang tidak sedikit ternyata bukanlah nomor rekening Laras.


"Kalau bukan terkirim sama kamu, lalu uang itu terkirim ke siapa?" Galang menggusar rambutnya kasar.


"Kamu tanyakan saja sama orang yang memberikan nomer rekening itu padamu. Lagipula, memangnya berapa uang yang kamu kirim ke nomer itu?"


Galang menatap wajah Laras yang terlihat datar.


"Lebih dari dua puluh milyar."


"Hah?!"


.


By: Nazwatalita


Jangan lupa ikutin terus cerita ya teman-teman. Dukung Author dengan cara like, komen, dan Votenya ya 🙏🙏


Sambil nunggu up, intip karya temenku yuk!


__ADS_1


__ADS_2