DIA JUGA SUAMIKU

DIA JUGA SUAMIKU
Part 70 PULANG KAMPUNG


__ADS_3

"Ada apa, Pa?" tegur istrinya saat laki-laki itu tengah berganti pakaian.


"Kamu kelihatan terburu-buru sekali. Memangnya mau kemana?"


"Mau ke kampung, Ma. Ada hal penting yang harus aku selesaikan," jawabnya tanpa menoleh kepada perempuan itu. Laki-laki itu mengambil tas kecil, kemudian memasukkan beberapa barang penting ke dalamnya.


"Gawat? Perempuan itu mengerutkan kening, terus menatap gerak-gerik suaminya yang terlihat gelisah.


"Iya. Si Galang sudah diusir dari rumah istrinya. Mertuanya bahkan menghajarnya hingga babak belur. Mereka sudah tahu rahasia terbesar kita selama ini," jelas Rusdi.


"Soal Laras?" teriak perempuan itu. Matanya melotot.


"Diamlah! Jangan sok kaget begitu, Ma! Jangan membuat kepala Papa makin pusing," sergahnya buru-buru. Dia tidak memiliki waktu lagi untuk berbicara panjang lebar dengan istrinya.


"Sudah ya, sekarang Papa berangkat!" Laki-laki itu membuka pintu kamar, kemudian melangkah keluar dengan diiringi oleh istrinya.


"Kamu baik-baik di sini sama anak-anak. Papa tidak akan lama. Setelah mengambil berkas itu, aku akan segera pulang," pesannya.


Rusdi masuk ke dalam mobil setelah melambaikan tangan. Dia menghidupkan mesin, kemudian meninggalkan rumah itu.


Rusdi melirik arloji di pergelangan tangannya. Hari masih pagi. Perjalanan menuju kampung sekitar tiga jam, kalau jalanan tidak macet.

__ADS_1


Dia mulai menghitung-hitung jarak dari Jakarta ke kampung Laras. Setidaknya Nalendra dan Laras akan menempuh perjalanan dengan mobil kurang lebih enam jam. Lelaki itu menghela napas.


"Aku harus bisa sampai ke kampung secepat mungkin untuk mengambil berkas itu, sebelum Nalendra dan Laras lebih dulu sampai ke sana." Lelaki itu berkata pada dirinya sendiri.


"Tapi kurasa, aku akan sampai lebih cepat dari mereka. Mereka dari Jakarta, sedangkan aku berada di kota yang lebih dekat dengan kampung. Aku pasti akan sampai lebih cepat." Lelaki itu mengulas senyumnya.


"Aku hanya perlu memaksa perempuan tua itu untuk memberikan berkas-berkas yang aku inginkan." Sekilas ia membayangkan wajah Ibu Laras yang tua dan sudah sakit-sakitan itu.


***


Rusdi terus memacu kendaraannya. Kali ini dia sangat beruntung, tidak menemui kendala yang berarti. Tak ada jalan yang macet. Dia sampai di kampung tepat waktu. Mobilnya mulai menyusuri jalan di kampung kelahirannya itu.


jam dari Jakarta ke kampung ini, itupun kalau tidak terjebak dengan kemacetan.


Dia begitu menikmati pemandangan di sekelilingnya. Pohon-pohon besar yang tumbuh di tepi jalan menambah asri suasana. Kampung ini begitu indah dan tidak terlalu banyak perubahan sejak ia meninggalkannya beberapa tahun yang lalu.


Rusdi menghela napas. Mendadak ia merasa gugup saat mobilnya mulai melaju menuju rumah Laras. Ada perasaan aneh yang tak bisa ia definisikan.


Akhirnya laki-laki itu sampai di halaman rumah Laras. Rumah Laras terlihat sepi, meskipun pintu rumah terbuka. Dari balik kaca mobilnya, dia melihat sosok perempuan yang tengah menata gelas-gelas di ruang tamu.


"Seperti ada tamu rupanya!" Tiba-tiba Rusdi merasakan jantungnya berdetak lebih cepat.

__ADS_1


"Apakah Laras dan Nalendra sudah sampai di rumah ini?" Laki-laki itu menggelengkan kepala. "Tidak mungkin! Tidak mungkin mereka sampai lebih dulu."


Lelaki itu segera turun dari mobil, kemudian melangkah mendekat. Sosok perempuan tua itu terlihat semakin jelas.


"Rusdi!" Tiba-tiba perempuan itu menoleh. Pandangannya langsung menatap Rusdi yang berdiri terpaku di depan pintu. "Kamu ...?" tunjuknya.


"Ya, aku datang, Bu," sahutnya dingin. Dia melangkah mendekat, berusaha mengintimidasi perempuan tua yang lemah itu.


"Mau apa kamu datang kesini?"


Tatapan Rusdi pada perempuan tua itu beralih ke arah suara. Kedua matanya terbuka lebar, merasa kaget dengan apa yang dilihatnya sekarang.


.


By: Jannah Zein


Jangan lupa like, komen, hadiah dan votenya ya🙏


Kepoin juga karya keren milik temen aku yang satu ini yuk! Judulnya sama, tapi dengan cerita yang berbeda tentunya.


__ADS_1


__ADS_2