
"Tu-Tuan ...."
Laras sangat terkejut, perempuan itu meringis kesakitan saat tubuhnya menyentuh lantai. Beruntung tangan besar Nalendra melindungi kepalanya, sehingga Laras tidak merasakan sakit di bagian kepalanya. Namun, seluruh tubuhnya terasa sakit karena tertimpa tubuh besar Nalendra.
Melihat Laras yang meringis kesakitan, membuat Nalendra langsung bangun dari tubuh Laras. Pria itu kemudian mengangkat tubuh Laras dan membaringkannya di atas ranjang.
"Kau tidak apa-apa?" Nalendra dengan panik menyentuh tubuh Laras.
"Jangan menyentuhku!"
Laras memegangi pinggangnya yang terasa sakit. Sementara kedua netranya menatap tajam ke arah Nalendra.
'Kenapa tubuhnya berat sekali?'
Sementara Nalendra sangat terkejut saat mendengar bentakan Laras. Perempuan itu terlihat sangat marah.
Kedua tangan Nalendra kembali ingin menyentuh bagian tubuh Laras yang menyentuh lantai dengan keras saat terjatuh tadi. Gara-gara pergerakan Laras, tubuhnya kehilangan keseimbangan dan akhirnya, tubuh Laras terlepas dari gendongannya.
Perempuan itu terjatuh dengan posisi tertimpa oleh tubuhnya.
'Pasti rasanya sakit sekali.'
"Jangan sentuh aku! Laras menepis tangan Nalendra. perempuan itu kembali menatap bosnya dengan kesal.
"Bagian tubuh mana yang sakit biar aku lihat!"
"Kau? Apa maksudmu ingin melihat? Laras dengan cepat menyilangkan tangannya di depan dada.
"Jangan macam-macam, Tuan!"
"Aku hanya ingin tahu mana yang sakit. lagipula, siapa yang mau macam-macam?"
"Tidak usah basa-basi! Tuan merasa senang bukan, melihat saya kesakitan?"
__ADS_1
"Memangnya kamu pikir aku sejahat itu, sampai-sampai merasa senang melihatmu kesakitan? Lagian suruh siapa kamu tidak berhenti bergerak? Kalau tadi kau diam saja kita tidak akan terjatuh!"
Mendengar ucapan Nalendra, membuat Laras naik darah.
"Kalau kau tidak menggendongku, aku tidak akan jatuh! dasar bos mesum!
"Apa? Mesum kau bilang?"
"Iya. Memangnya apa lagi? Kau sengaja menggendongku kemudian membawaku ke sini, ke ranjang ini. Apalagi coba kalau bukan mesum?" teriak Laras melampiaskan kekesalannya.
"Aku ingin memindahkanmu ke sini karena kau tadi tertidur. aku tidak punya maksud apapun selain itu!"
"Jangan bohong! Kalau tadi aku tidak terbangun, kau pasti sudah macam-macam!"
"Laras!"
Nalendra berteriak kesal. Bisa-bisanya perempuan ini menuduhnya mesum, padahal dia tidak ada niatan sama sekali untuk berbuat mesum pada Laras. Nalendra hanya ingin memindahkan Laras yang sedang tertidur ke atas ranjang, agar perempuan itu bisa tidur dengan nyaman.
"Maafkan aku, aku tidak bermaksud membangunkanmu tadi. Aku hanya ingin memindahkan kamu ke sini, biar tidurmu lebih nyaman." Ucapan Nalendra berubah lembut, tetapi, karena Laras terlanjur kesal, dia tidak peduli sama sekali.
"Aku tidak tidur. Aku hanya ingin istirahat sebentar sambil menunggu makan siang. Aku lapar!"
"Tidak tidur tapi memejamkan mata."
"Memangnya kenapa kalau aku memejamkan mata?"
"Itu tandanya kamu tertidur, Laras!"
Nalendra semakin kesal. Lagipula kenapa dia harus berdebat hanya karena masalah seperti ini? Dasar bodoh!
Nalendra kembali ingin menyentuh Laras.
"Jangan menyentuhku!" Laras kembali menepis tangan Nalendra.
__ADS_1
"Sebaiknya Tuan jangan seenaknya menyentuhku! Apa karena kemarin aku diam saja saat Tuan cium, karena itu sekarang Tuan ingin menyentuh aku lagi?"
"Tuan, kemarin saya hilang kendali, saya tidak sadar dengan apa yang sudah saya lakukan, makanya aku diam saja saat Tuan melakukan hal yang seharusnya tidak Tuan lakukan. Mungkin, bagi Tuan sebuah ciuman bukanlah hal yang penting, tapi bagi saya ... seharusnya saya tidak melewati batas, karena biar bagaimanapun, saya adalah perempuan bersuami!" Laras menjelaskan panjang lebar, bahkan dengan bahasa formal seperti saat dia sedang bekerja dengan Nalendra.
"Jangan karena ciuman itu, kemudian Tuan berpikir, kalau saya adalah perempuan murahan, yang dengan seenaknya bisa Tuan sentuh!" Laras bangkit dari tidurnya.
Sementara Nalendra menatap perempuan itu dengan marah. Kedua tangannya bahkan sudah terkepal erat.
'Apa-apaan perempuan ini?'
Laras turun dari ranjang, kemudian segera meninggalkan ruang pribadi Nalendra. Perempuan itu berjalan sambil terus memegangi pinggangnya yang terasa sakit.
Sementara Nalendra berusaha menenangkan emosinya.
'Jadi, gara-gara ciuman kemarin, dia berprasangka buruk padaku?'
'Apa dia tahu, kalau aku pun tidak sengaja menciumnya? Aku kehilangan kendali saat melihat bibirnya yang begitu menggoda.'
'Ah sial!'
Laras baru saja ingin keluar dari ruangan kerja Nalendra. Namun, suara Nalendra menghentikan langkahnya.
"Kalau kau berani keluar dari sini, saat ini juga, aku akan memecatmu!"
Laras berbalik, menatap pria itu dengan kesal. Kedua tangannya mengepal. Rasanya, dia ingin sekali memaki pria itu.
"Tuan, kenapa Tuan begitu menyebalkan?"
By: Nazwatalita
Yang suka ceritanya, jangan lupa dukung Authornya dengan cara like, komen, hadiah dan votenya 🙏
__ADS_1