DIA JUGA SUAMIKU

DIA JUGA SUAMIKU
Part 93 PERGI KE JAKARTA


__ADS_3

Laras melepaskan pelukannya pada sang ibu. Menatap perempuan tua itu dengan perasaan menyesal.


"Maafkan aku."


"Kamu tidak salah, Nak. Semuanya sudah takdir, yang penting sekarang kamu baik-baik saja." Bu Marni mengusap kepala Laras dengan penuh kasih sayang.


"Kamu sudah melewati banyak kesedihan, semoga setelah ini, kamu mendapatkan kebahagiaan yang kamu inginkan."


"Bisa berkumpul dengan kalian adalah kebahagiaan yang paling aku inginkan." Laras kembali memeluk perempuan yang melahirkannya itu.


"Tapi kita tidak tahu apa yang akan kita temui di Jakarta nanti, Bu. Namun, sebisa mungkin aku akan melindungi Mama, Ruby dan Annisa."


'Termasuk gangguan dari Ningsih, sang mantan mertua.' Laras berucap dalam hati.


"Kamu adalah sandaran hidup Ibu sekarang, Nak. Jadilah wanita yang kuat."


"Aku kuat karena Ibu, Ruby dan Annisa."


"Ibu bisa bertahan juga karena kalian bertiga," sambung ibunya.


Kedua perempuan berbeda generasi itu kembali berpelukan, sampai akhirnya Laras menyadari satu hal.


"Bu, kemana Annisa? Laras tidak melihat Annisa di rumah ini?" tanyanya. Dia lupa mengingatkan Anisa untuk bersiap-siap sehubungan dengan keberangkatan mereka nanti sore.


"Maaf, Nak. Ibu lupa memberi tahu kalau Annisa pergi ke sekolahnya yang dulu. Katanya mau menebus ijazah."


"Menebus ijazah? Memang kenapa dengan ijazahnya Annisa, Bu?"

__ADS_1


"Iya, itu." Perempuan tua itu tampak ragu-ragu untuk menjelaskan. Dulu itu Annisa sempat menunggak SPP. Dia memang diperbolehkan untuk mengikuti ujian akhir sekolah, tapi karena dia belum melunasi SPP dan uang untuk ujian, akhirnya ijazahnya ditahan oleh pihak sekolah."


Laras tersentak kaget. "Kok Ibu diam saja? Kenapa tidak bilang sama aku?"


"Ibu nggak enak sama kamu, Nak, merepotkan terus," sahut ibunya. Perempuan itu terdiam menatap wajah Laras yang terlihat menyesal.


Annisa adalah murid yang pintar di sekolahnya. Dia juga bersekolah di sekolah favorit di kotanya. Dulu, sebelum Laras berangkat ke Jakarta, Annisa belum lulus sekolah.


Setelah beberapa bulan Laras Jakarta, Annisa lulus dengan nilai terbaik. Namun, saat dirinya lulus, dia tidak bisa mengambil ijazah, karena uang yang dikirimkan Laras saat itu hanya cukup untuk makan sehari-hari dan membayar tunggakan uang bulanan di sekolahnya.


Annisa yang pendiam tidak berani mengatakan pada Laras kalau dirinya sedang membutuhkan uang, begitupun sang ibu. Mereka berdua tidak mau merepotkan Laras.


Sementara Laras, perempuan itu begitu sibuk sampai melupakan hal ini. Selama ini, Laras hanya mengirimkan separuh gajinya pada sang ibu dan Annisa untuk mencukupi kebutuhan mereka juga Ruby. Bukan karena Laras pelit, Laras hanya berhemat agar kelak dia bisa membiayai kuliah Annisa dan memberikan kehidupan yang layak untuk Ruby.


Annisa, sang adik tercintanya, seharusnya saat ini dia sudah


Annisa juga merasa tidak tega meninggalkan Ruby bersama sang ibu karena keadaan ibu yang sudah tua dan sering sakit-sakitan.


Mereka berdua terdiam cukup lama.


"Lalu kenapa sekarang dia berangkat ke sekolah begitu saja? Dari mana dia dapat uang untuk menebus ijazah itu?" Laras merasa heran. Dia tidak pernah memberi uang dalam jumlah besar kepada Annisa dan Annisa pun tidak meminta uang kepadanya.


"Sepertinya itu adalah ulah atasanmu, Laras. Tapi Annisa tidak bilang apa-apa sama Ibu," terka ibunya.


"Astaga! Nalendra ada-ada saja," gerutu Laras. Namun di hati dia mengucapkan terima kasih kepada laki-laki baik itu.


"Annisa memang pernah bilang sama Ibu kalau dia berniat masuk kuliah. Dia bercita-cita menjadi dokter. Setibanya di Jakarta nanti dia berencana akan bekerja dulu mengumpulkan uang untuk kuliahnya."

__ADS_1


"Dia harus kuliah, Bu. Biar Laras yang cari uang untuk biaya kuliah Annisa. Dia tanggung jawab Laras sekarang. Jangan sampai dia putus pendidikan seperti Laras." Perempuan itu mengingat masa lalunya, yang setamat SMA dia harus menikah dengan Galang.


"Iya, Nak. Nanti kita bicarakan itu lagi dengan Annisa.


***


Matahari bergulir ke tepi barat. Sinarnya tampak tak seterik tadi siang. Namun, masih bisa menghangatkan bumi. Setelah berpamitan dengan tetangga kiri-kanan rumah mereka, akhirnya Laras, ibunya, Annisa dan Ruby masuk ke dalam mobil.


Para tetangga melambaikan tangan, mengucapkan selamat jalan. Laras membalas dengan tatapan agak sedikit pedih. Bagaimanapun, tetangga mereka adalah orang-orang yang baik. Hanya Ningsih dan Rusdi saja yang selalu bersikap jahat. Selebihnya, mereka adalah orang-orang yang tulus dan sangat baik terhadap semua orang.


Mobil meluncur dengan tenang menuju bandara. Tempat di mana pesawat pribadi milik keluarga Chandra yang tengah menunggu kedatangan mereka.


Pesawat itu akan mengantarkan mereka kembali ke ibukota.


Dari balik jendela pesawat, Laras menatap ke bawah. Desa tempat tinggal mereka bagaikan titik-titik yang akhirnya tak lagi kelihatan saat pesawat terbang semakin tinggi.


Laras menghela napas. Dia menggenggam tangan Annisa yang terlihat bahagia dengan harapan dan cita-citanya yang mungkin sebentar lagi akan terwujud.


Sementara Ruby, anak itu duduk di sebelah Nalendra dengan senyum mengembang di wajah cantiknya.


.


By: Jannah Zein


Jangan lupa like, komen, dan votenya 🙏


Baca juga karya temen aku ini yuk!

__ADS_1



__ADS_2