
"Aku tahu, Ale. Aku tahu kamu mencintaiku. Tanpa harus kau katakan sekalipun, aku tahu itu."
Kata-kata lirih Laras sontak membuat lelaki itu merentangkan tangan, memeluk perempuan itu.
"Aku pun merasakan kalau kamu juga mencintaiku, Laras."
"Aku tidak tahu," bisik Laras. Aku tidak fokus dengan perasaanku sekarang. Aku hanya berpikir untuk membahagiakan keluargaku."
"Kita akan membahagiakan keluargamu sama-sama. Kamu mau, kan menjadi kekasihku?" harapnya.
Laras menggeleng. "Aku tidak tahu, Ale. Keadaan kita seperti bumi dengan langit, tak bisa kujangkau. Demikian juga dengan dirimu. Kamu terlalu tinggi dan aku terlalu rendah."
"Tapi bumi dan langit itu saling membutuhkan. Manusia diciptakan untuk berpasang-pasangan, demikian juga hal lainnya di alam ini. Bumi dengan langit, atas dengan bawah. Bukankah itu sebuah keserasian?" bantah Nalendra.
"Tetap saja itu menjadi keraguan untukku. Ingatlah, kita hidup bukan untuk diri kita sendiri, tetapi juga keluarga kita. Lebih baik kita fokus dengan keluarga masing-masing." Laras menghembuskan nafas, teringat keluarganya dan juga keluarga Nalendra. Belum tentu Nyonya Aline dan Tuan Chandra akan merestui mereka jikalau mereka menjadi sepasang kekasih apalagi suami istri. Laras tak bisa membayangkan hal seperti itu terlalu jauh dari bayangannya.
"Aku mengerti kegalauanmu, Laras." Lelaki itu membawa tubuh wanitanya berpindah ke sofa di salah satu sudut ruangan.
"Nah, tuh kan kamu mengerti."
__ADS_1
"Ya aku mengerti, tetapi tidak selayaknya kita pesimis. Orang tuaku tidak seperti orang-orang kaya pada umumnya yang memandang kekayaan sebagai segala-galanya. Kita hanya perlu sedikit lebih bersabar untuk menjelaskan kepada mereka dan tentu saja waktu yang lebih banyak." Lelaki itu membawa kepala Laras bersandar di dadanya.
"Aku hanya ragu, Ale. Aku rasa memang tidak sepantasnya kita bersama. Ya sudahlah, kita jalani saja kehidupan kita seperti ini," ujar Laras.
"Seperti apa maksudmu?" kejar Nalendra.
"Sebagai teman," ucap Laras cepat.
"Dan sebagai atasan dan bawahan," imbuhnya kemudian.
"Aku tidak bisa, Laras." Lelaki itu menatap mata wanitanya dalam-dalam. "Aku sudah terlanjur terjebak dalam pesonamu, aku mencintaimu."
"Jadilah kekasihku dan berjuanglah bersama," pintanya.
Laras terdiam. Nalendra yang sudah tidak bisa lagi menahan luapan perasaannya memeluk perempuan itu erat-erat.
"Aku mencintaimu dan hanya menginginkanmu ...." Nalendra mendekatkan wajahnya menatap manik-manik kejora dari jarak yang begitu dekat wajah cantik itu terlihat pasrah. Tanpa ragu, lelaki itu segera melabuhkan bibirnya, menyentuh benda kenyal dan tipis yang selama beberapa waktu tak pernah lagi bisa disentuhnya.
Laras memejamkan mata. Pikirannya mendadak kosong. Sentuhan ini begitu memabukkan. Dia ingin mendorong tubuh besar itu, tetapi tubuhnya merespon dengan baik setiap sentuhan yang terasa bagaikan aliran listrik yang menghangatkan tubuhnya yang seolah membeku oleh rasa sakit yang pernah diciptakan oleh mantan suaminya.
__ADS_1
*****
Nalendra dan Laras tengah berada di dalam mobil. Kali ini Nalendra mengendarai sendiri mobilnya tanpa seorang sopir seperti biasanya. Lelaki itu hanya ingin menghabiskan waktu bersama wanitanya tanpa diganggu oleh siapapun.
Jalanan ibukota yang langganan macet menjadi berkah buat nalendra. Berkali-kali dia melirik wanita cantik yang duduk tenang dihadapannya. Ingin rasanya ia menyentuhnya kembali, tetapi ia tahan. Mereka tengah berada di perjalanan dan dia harus fokus dengan kendaraannya.
Dua puluh menit waktu berlalu. Akhirnya mereka sampai di depan sebuah rumah mungil. Dari balik kaca mobil, Laras melihat sosok mungil putrinya yang berlari kecil menyambut kedatangannya.
"Daddy!" Lelaki bertubuh tinggi besar itu sontak mencondongkan badan. Dia menangkap tubuh mungil itu membawanya di dalam gendongan.
"Ruby kangen Daddy!" celoteh Ruby riang.
"Terlebih Daddy, Sayangku," ujar Nalendra tak mau kalah. Dia mengekor langkah Laras masuk ke dalam rumah.
.
By: Jannah Zein
Jangan lupa like, komen, hadiah dan votenya 🙏
__ADS_1