
"Gugurkan bayi itu, Laras! Galang masih terlalu muda untuk menjadi seorang ayah." Laras menatap tak percaya mendengar ucapan ibu mertuanya.
"Tidak! Aku tidak akan membuang darah dagingku sendiri, karena aku yakin suatu saat Mas Galang pasti akan kembali. Lagipula apa hak Mama menyuruhku menggugurkan anak ini? Bukankah anak ini adalah cucu Mama?" Laras tak habis pikir dengan mertuanya yang begitu tega menyuruh dia menyingkirkan cucunya sendiri.
'Aku harus kuat dan bertahan demi anak ini!'
****
Beberapa bulan kemudian, Laras melahirkan seorang bayi perempuan. Ruby Aulia Pratama, putri yang lahir tanpa kehadiran seorang ayah di sampingnya.
Ruby putrinya tumbuh menjadi putri kecil yang cantik. Sesekali mulut cadelnya menanyakan di mana ayahnya. Laras hanya tersenyum. Dia selalu bilang kalau ayahnya sedang bekerja di kota dan belum sempat pulang.
Lima tahun dia menunggu dan itu bukan waktu sebentar. Akhirnya dia memutuskan untuk pergi ke kota. Bukan sekedar untuk mencari keberadaan Galang, tetapi untuk menyambung hidupnya. Dia tidak mungkin terus-menerus mengandalkan ibunya yang sudah tua. Dia harus bekerja demi menyambung hidup dan masa depan Ruby putrinya.
"Ah ....!" Laras merintih pilu.
Dia berusaha mengibaskan pikiran tentang masa lalunya dan Galang yang tiba-tiba saja memenuhi otaknya. Perempuan itu bangkit dari tempat tidur dan melangkah menuju kamar mandi. Hari masih pagi dan dia harus siap sedia untuk melayani Nalendra menjadi asisten pribadinya.
Nalendra sudah memberinya list tentang tugas-tugas yang harus dilakukannya. Dia yang hanya sekolah rendahan, tidak pernah menikmati bangku perguruan tinggi, sebenarnya belum terlalu mengerti.
Namun, Laras berusaha menjalani pekerjaan ini dengan baik, demi Ruby, putrinya.
Terbayang kembali wajah gadis kecil itu. Wajah mungil nan cantik dan polos di sela-sela guyuran air yang membasahi tubuhnya.
Laras tak ingin lagi menangis hari ini. Dia harus kuat demi putrinya, satu hal yang membuat dia bertahan, meski jelas-jelas suaminya sudah menikah dengan wanita lain.
*****
"Tugas-tugas kamu di antaranya adalah time management, mengatur pertemuan bisnis, rapat, menyusun agenda pertemuan, mempersiapkan perjalanan dinas ...." Nalendra sengaja menjeda kalimat demi memberi kesempatan kepada Laras untuk bisa memahami apa yang sudah dia sampaikan.
Laras mendengarkan pemaparan Nalendra dengan malas. Belum apa-apa dia sudah pusing sendiri. Cara Nalendra menjelaskan terlalu formal, meskipun terlihat jelas laki-laki itu berusaha menjelaskan dengan bahasa yang sesederhana mungkin.
__ADS_1
"Nanti kamu juga yang membuat naskah pidato, sambutan, bahan presentasi, mengurus surat-menyurat, mengorganisir event, jamuan makan, peresmian-peresmian hingga menjalin komunikasi dengan humas dan keprotokolan," sambungnya.
"Istilah kasarnya, kamulah yang mengendalikan seluruh kegiatanku di kantor."
Pagi ini raut muka laki-laki itu terlihat cukup tenang, meski terlihat dingin dan cuek. Akhir-akhir ini, Nalendra memang terlihat berbeda. Tidak lagi menyebalkan seperti biasanya.
Saat ini mereka tengah dalam perjalanan ke kantor, mereka berdua duduk berdampingan, sementara sang sopir melirik heran, saat melihat dua orang yang biasanya bertengkar seperti kucing dan anjing itu kini terlihat akrab.
"Baik, Pak. Semoga saya bisa mengerjakan semua tugas yang Bapak berikan." Laras tersenyum manis.
Melihat pria itu bersikap baik, membuat dirinya pun ikut bersikap baik.
"Menjadi asisten rumah tangga atau asisten pribadi sama saja, sama-sama pembantu," ucap Laras dalam hati.
'Hanya saja, penyebutannya berbeda dan tugasnya pun berbeda. Apa pun pekerjaannya, yang penting aku dapat uang untuk membiayai putriku.'
*****
Keduanya keluar dari mobil dari pintu yang berbeda. Nalendra berjalan di depan sementara Laras mengiringi di belakang dengan menenteng tas kerja milik Nalendra. Mereka mulai memasuki rumah.
"Nadine!" teriak Nalendra saat melihat saudari kembarnya itu duduk santai di sofa.
"Ale!" teriak Nadine tak kalah keras.
Nalendra menghampiri saudara kembarnya, kemudian duduk di sisinya.
"Hai, wajahmu terlihat pucat!" Nalendra menatap saudari kembarnya. Dia memperhatikan penampilan Nadine yang hanya mengenakan pakaian santai, dress lengan pendek sebatas lutut.
Sepasang mata Nalendra yang jeli menangkap ada stempel merah yang samar di leher sang adik kembar.
"Gimana bulan madunya? Seru nggak? Wajahmu terlihat pucat. Memangnya kurang tidur, kamu?" Tangannya terulur mengacak rambut saudari kembarnya.
__ADS_1
"Rahasia dong!" jawab Nadine singkat. Pipinya merona merah.
"Lah, kok gitu? Ayo dong, cerita sama aku. Secara, kan pengalaman pertama kamu!" sindir saudara kembarnya.
Nalendra selalu mengejek cara berpikir Nadine yang dianggapnya terlalu primitif karena ingin mempertahankan kegadisannya sampai menikah.
Sikap Nadine yang menganggap malam pertama sebagai batas untuk mempertahankan keperawanan seorang perempuan, berbanding terbalik dengan saudara kembarnya yang terbiasa melakukan hal itu kapan pun ia mau.
"Maaf, Tuan. Apa masih ada yang Tuan butuhkan?" Laras masih memegangi tas kerja Nalendra.
"Tidak ada. Kamu boleh istirahat sekarang."
"Baik, Tuan. Terima kasih."
Kedua saudara kembar itu mengangguk. "Terima kasih, Laras," ucap Nadine.
"Iya, Nona. Sekarang saya permisi ke kamar dulu."
Nadine mengangguk. Laras pun segera melenggang pergi dari tempat itu. Perempuan itu menuju ke ruang kerja Nalendra, meletakkan tas kerjanya di sana.
Setelah itu, dia melangkah menuju kamarnya.
Laras buru-buru pergi karena dia tidak ingin mendengar cerita Nadine tentang bulan madunya bersama Galang.
Ah! menyebut nama itu membuat sudut hatinya terasa perih. Lebih baik dia menghindar saja dan berdiam diri di kamarnya.
By: Jannah Zein
Jangan lupa dukung Authornya dengan cara like, komen, dan votenya ya, teman-teman 🙏🙏🙏
Sambil nunggu update, kepoin karya aku yang lain yuk!
__ADS_1