DIA JUGA SUAMIKU

DIA JUGA SUAMIKU
Part 31 TES DNA


__ADS_3

"Semua bukti sudah jelas. Bukti yang seperti apa lagi yang kamu perlukan, Galang? Bukankah kamu juga tahu kalau anaknya itu bukan anakmu?" Ningsih menatap tajam putranya.


"Aku perlu tes DNA untuk membuktikan kalau anak itu bukanlah anakku!" tegasnya.


"Setelah kebenaran itu terungkap, barulah aku bisa segera menceraikan Laras!"


Ningsih sedikit terkejut saat mendengar ucapan Galang. Dia tidak menyangka Galang berpikir sejauh itu.


"Ma-maksudmu tes DNA? Untuk membuktikan kalau anak Laras bukanlah anakmu? Memangnya kamu tidak percaya sama Mama sampai mau melakukan tes DNA segala?" Suara Ningsih tiba-tiba meninggi. Dia sangat kesal mendengar ucapan Galang.


"Bukan maksudku tidak percaya sama Mama, hanya saja aku perlu bukti biar saat menggugat cerai Laras nanti aku punya alasan kenapa aku menggugat cerai dirinya," sahut Galang. Dia balas menatap ibunya.


"Alasan apalagi, Galang? Sudah jelas perempuan itu bukan perempuan baik-baik. Kamu tidak perlu tes DNA. Foto-foto Laras bersama laki-laki itu dan juga foto-foto anaknya yang bahkan tidak mirip sama sekali denganmu sudah bisa menjadi bukti, sebagai alasan kenapa kamu menggugat cerai istri pertamamu!"


Kali ini Ningsih benar-benar emosi. Kilat kemarahan itu bahkan jelas terpancar dari kedua bola mata tuanya.


"Galang, Mama hanya ingin mengingatkanmu, jangan sampai perempuan itu menjadi penghalang bagimu untuk menjadi pewaris keluarga Chandra!"


"Ingat Galang, suatu saat Laras bisa saja melakukan sesuatu yang akan membahayakan dirimu. Dia bisa kapan saja membongkar rahasiamu selama dia masih berada di rumah itu."


"Dia bukan perempuan sebaik yang kau kira, Galang. Dia itu penghianat. Dia sudah menghianati semua ketulusanmu."

__ADS_1


"Jangan biarkan dia menjadi benalu dalam hidupmu! Cepat singkirkan perempuan itu. Usir Laras dari rumah mertuamu." Nada bicaranya terdengar begitu menggebu-gebu.


"Mama yakin, kamu pasti lebih tahu apa yang harus kamu lakukan. Kamu bisa menutup mulut perempuan itu dengan uangmu. Lakukan sesuatu, Galang!"


"Mama yakin, kalau kamu terus mengiriminya uang, perempuan itu pasti tidak akan macam-macam."


"Setiap bulan aku mengiriminya uang, Ma. Aku sudah membujuknya agar dia segera keluar dari rumah itu, karena aku sudah mencukupi semua kebutuhannya setiap bulan. Bukan hanya untuk dia, tapi juga untuk seluruh keluarganya di kampung. Tapi Laras tetap bersikeras tinggal di rumah itu. Dia bahkan mengatakan kalau ...."


Galang buru-buru menjeda ucapannya. Hampir saja dia keceplosan soal nomor rekening yang berbeda itu.


Dia mulai merasa aneh dengan sikap ibunya yang tidak biasanya.


"Kenapa Mama menyuruhku mengusir Laras dan mengirimkan uang padanya melalui nomer rekening itu?" Lelaki muda itu memijat kepalanya.


"Ah...!" Laki-laki itu kembali meremas tangannya yang bersembunyi di bawah meja.


*****


Setelah ibunya meninggalkan tempat itu, Galang bangkit dari tempat duduknya. Sudah saatnya dia berangkat ke kantor.


Baru saja tangannya bergerak akan menghidupkan mesin mobil, dia dikejutkan dengan dering ponsel di saku bajunya.

__ADS_1


"Sayang," lirih Galang setelah menempelkan benda pipih berbentuk segi empat panjang itu di telinganya.


"Kamu di mana, Lang?" Suara merdu di seberang sana membelai indera pendengarannya.


"Masih di restoran, Sayang. Kenapa?" tanya Galang.


"Kok masih di restoran sih? Ini sudah jam berapa?" tegur Nadine.


"Tadi ada Mama di sini, Sayang."


"Oh ya?" Tapi pagi ini ada pertemuan dengan para pemegang saham," beri tahu Nadine. "Semua petinggi perusahaan harus hadir."


"Iya, aku tahu," sahut Galang. "Ini aku mau berangkat."


.


.


By: Jannah Zein


Jangan lupa dukung Authornya ya, like, komen, dan votenya 🙏

__ADS_1


Sambil nunggu up, mampir di karya temen aku dulu yuk!



__ADS_2