DIA JUGA SUAMIKU

DIA JUGA SUAMIKU
Part 21 TERLIHAT LAIN


__ADS_3

Nalendra berjalan beriringan dengan Laras. Perempuan itu terlihat lain, tidak seperti biasanya. Bahkan di ruang kerjanya tadi, Laras hanya berdiam diri mengerjakan pekerjaannya yang belum selesai tanpa mengucapkan sepatah katapun, membuat Nalendra semakin penasaran.


Semenjak semalam, pria ini selalu memikirkan Laras. Entah apa yang terjadi padanya, yang jelas, semalaman dia tidak bisa tidur karena memikirkan perempuan itu.


Mereka kini sudah sampai di dalam ruangan Nalendra. Laras menaruh tas di atas meja kerja laki-laki itu, kemudian ia pun beranjak menuju meja kerjanya sendiri.


"Tunggu, Laras." Nalendra mencekal lengan Laras.


"Iya, Tuan." Langkah Laras tertahan. "Ada apa?"


"Sebentar." Nalendra membalik tubuh bak model itu menghadap kepadanya.


"Aku perhatikan dari tadi kamu terlihat murung dan wajahmu pucat. Kamu ada masalah?"


Laras tersentak kaget. Refleks ia menggeleng.


"Tidak, Tuan. Saya tidak memiliki masalah. Mungkin karena tadi malam saya kurang tidur," jawab Laras berbohong.


"Oh, begitu ya?"


"Tapi kulihat matamu sembab." Nalendra kembali menatap wajah cantik itu. Benar, masih ada sisa-sisa sembab di matanya bekas menangis sepanjang malam dan pagi tadi.


"Tidak apa-apa, Tuan. Saya hanya kangen dengan putri saya." Laras mencoba mengulas sebuah senyuman. "Ya, maklumlah kami memang belum pernah berpisah sebelumnya."


"Oh, begitu ya?" Nalendra manggut-manggut.


"Maaf ya, Laras. Pekerjaan kita di perusahaan sedang banyak-banyaknya dan saya belum bisa memberimu cuti." Ucapan Nalendra bernada prihatin.


"Nanti kalau pekerjaan sudah agak berkurang, mungkin kamu bisa cuti dan pulang kampung," sambungnya lagi.

__ADS_1


"Tidak apa-apa, Tuan." Laras merasa terenyuh dengan kata-kata bosnya itu.


"Saya kesini, kan untuk bekerja dan saya baru beberapa bulan bekerja di sini. Tidak layak kalau minta cuti sekarang." Perempuan itu hanya bisa menatap lantai ruangan, tak berani melawan tatapan sang atasan.


Nalendra menganggukkan kepalanya. Netranya menatap perempuan yang semalaman mengganggu tidurnya ini.


"Apa saja agenda saya hari ini?" tanya Nalendra. Dia sengaja mengalihkan pembicaraan untuk membuat nyaman wanita itu.


"Pagi ini jam sepuluh, Tuan akan melakukan pertemuan dengan para petinggi ID TV dan TV 5," sebut Laras.


"Oke. Kalau begitu, kamu persiapkan semua berkas-berkas yang diperlukan." Laras menganggukkan kepalanya.


"Satu lagi, Laras, mana salinan surat kontrak untuk rumah produksi Citra Media?"


Laras melangkah menuju meja kerjanya, dia membuka laci mejanya dan mengambil sebuah berkas, lalu menyerahkannya kepada Nalendra.


Hari ini Laras benar-benar sibuk. Sejak masuk ke dalam ruangan, dia sudah dihadapkan dengan setumpuk pekerjaan. Kemudian, tepat pukul sepuluh pagi, mereka menghadiri meeting dengan petinggi ID TV dan TV 5.


Meeting yang dihadiri oleh para petinggi stasiun TV swasta itu berlangsung lancar, bahkan Galang pun turut serta hadir. Pria itu menatap dingin Laras yang duduk berdampingan dengan Nalendra.


*****


Andaikan ini bukan di hadapan orang banyak, barangkali Galang akan tersulut emosi. Wajah Laras yang dingin saat mereka saling bersitatap dan tingkah laku Laras yang begitu santun terhadap atasannya, membuat api kecemburuan di hati Galang meluap.


Dia sendiri heran, kenapa dia merasa kesal jika Laras berdekatan dengan pria lain, padahal jelas-jelas dia begitu membenci perempuan itu. Namun, ada perasaan yang masih tersimpan rapi di ujung hatinya yang paling dalam.


"Sabar, Galang! Akan ada saatnya kamu membalas semua perbuatan perempuan itu!" Batinnya menyemangati.


Pertemuan yang berlangsung lebih dari satu jam itu membuat Galang merasa bosan, karena dia sendiri tidak terlalu memahami apa yang mereka bicarakan. Tugasnya hanya sekedar ikut tanda tangan!

__ADS_1


Sementara seluruh pekerjaannya dihandle oleh asisten pribadinya. Bahkan status Galang sendiri sampai saat ini belum berpengaruh terhadap kebijakan perusahaan. Boleh dikatakan, dia hanya sekedar simbol, pengisi jabatan wakil direktur operasional.


Dia memang memiliki otak encer, tetapi bekerja di CNI group, sebuah perusahaan multimedia yang membawahi beberapa stasiun televisi nasional bukan merupakan passionnya. Dia tidak mengerti apa itu broadcasting, penyiaran dan lain sebagainya.


Laki-laki itu mengeluh dalam hati. Dia sudah terlanjur melangkah begitu jauh dan tidak bisa kembali. Bukankah ini juga yang diinginkannya? Menjadi seseorang yang berpengaruh, kaya raya dan menjadi bagian dari keluarga para konglomerat seperti halnya Tuan Naufal Chandra Wibowo?


Akhirnya pertemuan pun usai. Satu persatu orang-orang meninggalkan tempat pertemuan. Sementara Nalendra dan Laras pun juga sudah menghilang dari ruangan itu. Galang bangkit dari tempat duduknya, kemudian beranjak keluar.


Laki-laki itu menyusuri lorong-lorong menuju ruang kerjanya yang letaknya tidak terlalu jauh dari ruang kerja Nalendra.


Galang tersenyum smirk saat melihat perempuan yang sedari tadi menjadi objek penglihatannya. Pria itu mempercepat langkahnya, mengejar Laras yang tengah melangkah menuju pantry.


Dia mengikuti langkah perempuan itu seperti penguntit. Saat Laras sudah masuk ke dalam ruangan, dia pun menerobos masuk. Beruntung, tidak ada seorang pun di ruangan itu. Galang dengan cepat mengunci pintu.


"Kamu?" Laras melotot saat melihat pria yang dibencinya itu tiba-tiba masuk dan mengunci pintu. Mereka kini hanya berdua di dalam ruangan itu.


Galang tersenyum miring sembari mengacungkan kunci.


"Ka-kamu mau apa, Mas?"


.


By: Jannah Zein


Halo teman-teman kesayangan, ikutin terus ceritanya ya, jangan lupa dukung Authornya dengan cara like, komen, dan votenya. Giftnya juga jangan lupa ya ... 🙏🙏


Sambil menunggu up, aku kenalin karya teman aku yang satu ini. Di jamin, nggak kalah keren lho ....


__ADS_1


__ADS_2