DIA JUGA SUAMIKU

DIA JUGA SUAMIKU
Part 143 BERTEMU TEMAN LAMA


__ADS_3

Nadine sedang berada di pusat perbelanjaan terbesar di kota itu. Sudah lama sekali dia tidak memanjakan diri berbelanja dan juga ke salon.


Semenjak dia punya Baby Aurell, dia lebih suka menghabiskan waktu di rumah. Perempuan cantik itu melakukan perawatan tubuh dan wajahnya di rumah dengan memanggil beberapa pegawai profesional salon kecantikan langganannya.


Senyum Nadine mengembang saat dia melihat beberapa baju yang disukainya. Perempuan itu melangkah mendekati cermin, mencoba dengan menempelkan baju itu pada tubuhnya.


Senyumnya makin mengembang.


"Sepertinya ini cocok." Nadine bergumam sendiri.


Padahal dia sendiri punya butik, tetapi dia malah berbelanja baju di tempat lain.


Dalam hati dia menertawakan diri sendiri.


Saat Nadine sedang asyik di depan cermin, seseorang tanpa sengaja menabraknya.


Orang itu tampak tergesa, hingga tidak melihat kalau ada Nadine yang sedang berdiri di sana.


"Maaf! Aku tidak sengaja."


Sosok pria tampan berdiri, tepat di hadapan Nadine.


"Nona tidak apa-apa kan?"


Pria itu membantu Nadine mengambil beberapa baju yang terjatuh karena perbuatannya.


"Maafkan aku, aku benar-benar tidak sengaja," ulang pria itu.


Sementara Nadine masih terdiam. Netranya tak lepas menatap pria tampan di depannya.


"Azka. Kamu Azka bukan?" Nadine memindai wajah tampan di depannya.


Sementara, pria yang sedari tadi fokus membantu membereskan baju yang jatuh ke lantai, menatap Nadine saat perempuan itu menyebut namanya.


"Kau mengenalku?" Aska memperhatikan gadis cantik di depannya.


"Jadi kau melupakan aku?"


"Kamu ... tunggu!" Pria yang dipanggil Azka itu mencoba mengingat-ingat.


"Kamu-"


"Nadine." Nadine menjawab sambil berdecak sebal.


"Nadine? Si manja kuncir kuda?" Pria itu menatap tak percaya. Sementara Nadine mendengus kesal dengan bibir maju berapa centi.


"Heh! Jaga ucapanmu!"


"Jadi benar? Kamu Nadine? Cewek yang begitu tega ninggalin aku pas aku lagi sayang-sayangnya?"


Nadine melongo mendengar ucapan pria itu.


"Kamu ninggalin aku saat aku mengungkapkan perasaanku padamu. Jahat!"


"Lebay!" Nadine bangkit. Perempuan itu memberikan beberapa baju pada pelayan yang sedari tadi berdiri melihat interaksi Nadine dan Azka.


Azka ikut berdiri di samping Nadine. Laki-laki berwajah tampan dan sedikit imut itu memperhatikan Nadine dari atas sampai bawah.


Dia masih tidak percaya kalau perempuan di depannya ini adalah gadis pujaannya semasa SMA.


Nadine terlihat sangat cantik dan sangat berbeda dengan yang dulu.


"Kenapa menatapku seperti itu?"


"Jadi kamu beneran Nadine? Cewek manja sekaligus menyebalkan yang membuatku tergila-gila?"


Nadine berdecak sebal mendengar ucapan pria di depannya itu.

__ADS_1


"Ternyata kamu tidak berubah ya, tetap menyebalkan seperti dulu." Wajah Nadine terlihat cemberut.


"Aku serius nanya, Nona. Apa kau benar-benar Nadine?"


Nadine memutar bola mata malas.


"Jadi benar?" Kedua mata Azka berbinar. Sedari tadi, dia masih belum percaya jika perempuan di depannya itu adalah perempuan yang selama ini dicarinya.


"Jadi benar, kalau kau adalah Nadine?" Azka menatap wajah cantik Nadine kemudian membawa perempuan itu ke dalam pelukannya.


"Akhirnya, aku menemukanmu. Sudah lama sekali aku mencarimu, belahan jiwa."


"Nggak usah lebay!" Nadine melepaskan pelukannya.


Pria di depannya ini masih saja tidak berubah.


"Aku tidak lebay, tapi memang itulah kenyataannya."


"Tapi sekarang sudah beda dong?"


"Beda apanya?" Azka menatap perempuan yang selama bertahun-tahun dicarinya itu.


Dia sungguh tidak menyangka kalau dia justru akan bertemu dengan Nadine di sini.


"Apa kamu sudah menikah?" Pertanyaan Nadine membuat Azka menggeleng pelan.


"Kenapa?" Kedua mata Nadine menatap Azka.


"Karena aku baru menemukan calon pengantin perempuannya sekarang. Sudah bertahun-tahun aku mencarinya, aku tidak menyangka kalau aku akan menemukanmu di sini."


"Apa maksudmu?"


"Kamu adalah calon pengantinku. Calon pengantin yang sudah bertahun-tahun aku tunggu."


Nadine berdecak kesal.


"Aku lebih serius lagi." Azka mengikuti langkah Nadine. Pria itu kemudian menarik tangan Nadine dan mengajaknya ke ruang ganti.


"Apa-apaan kamu, Azka?" Nadine begitu terkejut saat pria yang baru saja ditemuinya itu menarik tangannya dan membawanya masuk ke dalam ruangan sempit itu.


Ada rasa takut dan khawatir terlintas di benaknya.


"Tenanglah! Aku tidak akan macam-macam." Azka memindai gadis cantik di depannya itu.


Senyum tidak percaya masih tercetak di wajah tampannya.


"Aku benar-benar tidak menyangka kalau aku akan bertemu denganmu di sini, Cinta."


"Cinta?" Nadine mengerutkan dahi.


"Kau lupa? Itu adalah nama panggilan kesayangan-"


"Tapi aku geli saat kau memanggilku dengan sebutan itu."


Azka tertawa sambil terus menatap wajah cantik di depannya itu.


"Sudah lama sekali aku menantikan hari ini, Calon pengantinku!"


"Azka-"


"Aku serius. Sampai saat ini, aku belum bisa melupakanmu. Aku tidak bisa bersama dengan perempuan lain karena hatiku sampai saat ini hanya dipenuhi oleh namamu."


"Azka ...."


"Az-Azka, apa yang akan kau lakukan?" Nadine terlihat panik saat tiba-tiba saja Azka membuka kaos yang dipakainya.


"Lihatlah! Ini adalah bukti kalau sampai saat ini aku masih menunggumu. Aku tidak mungkin bersama perempuan lain kalau di tubuhku bahkan hanya terukir namamu.

__ADS_1


"Azka ...." Nadine menatap tak percaya melihat pemandangan di depannya.


Pria itu menghias beberapa bagian tubuhnya dengan tatto yang hanya bertuliskan namanya.


"Azka, apa kau sudah gila?"


"Mencintaimu, membuatku gila selama bertahun-tahun ...."


"Kau ...." Nadine menatap tak percaya.


"Cinta, maukah kau menikah denganku?"


.


Si Nadine dilamar sama orang yang baru ditemuinya. Kira-kira, dia mau terima nggak ya?


Jadi penasaran sama Azka? Kalau kalian juga penasaran, kita kepoin ya, kisah mereka. Tapi nggak di sini, karena cerita ini kan udah tamat.


Jangan lupa like, komen, hadiah dan votenya ya 🙏


Masih ada beberapa bab lagi sebelum Tamat beneran. Tetap ikutin ceritanya ya ...


Aku rekomendasiin cerita keren lainnya buat kalian nih!


Judul : After Darkness


Penulis :SkySal


Kisah Cinta Tak biasa antara dua insan yang sama-sama keras kepala.


Di aplikasi sudah 67 bab.


Cuplikan...


"Adikku lah" jawab Elsa ketus "Keluarga ku semuanya cariin aku gara gara hp ku rusak, kamu harus ganti, bocah tengil!" seru Elsa yang tentu saja membuat Robin langsung kesal, entah kenapa ia sangat benci dua kata itu saat keluar dari mulut Elsa.


"Berhenti memanggil ku bocah tengil!" desis Robin dan ia melangkah mendekati Elsa, tatapannya begitu tajam seolah ingin menguliti Elsa detik ini juga.


"Pada kenyataannya memang kamu bocah tengil!" seru Elsa lagi dengan sengit "Kamu merusak hp ku, tapi tidak di ganti," kata Elsa sembari melangkah mundur saat Robin sudah sangat dekat dengannya "Kamu menciderai lengan ku, dan kamu tidak mau tanggung jawab" lanjutnya lagi.


"Kamu juga salah faham sama aku, fikiran kamu terlalu pendek untuk mengerti suatu masalah. Kamu terlalu bodoh untuk melihat suatu hal dari segala sisi" seru Elsa lagi yang membuat Robin semakin marah, Robin menggertakkan giginya dan ia langsung menarik lengan Elsa yang terkena kopi tadi.


"Ah, Robin. Perih!!!" pekik Elsa dan ia berusaha menarik lengannya, namun Robin justru semakin mencengkram lengan Elsa dan bahkan dengan sengaja meremasnya.


"Robin, please!" rengek Elsa dengan mata yang berkaca-kaca.


"Kenapa? Mau aku lepas?" tanya Robin sambil tersenyum sinis.


"Perih, sakit" rengek Elsa berusaha menarik tangannya.


"Dasar manja!" seru Robin dan ia menghempaskan tangan Elsa dengan kasar "Baru itu saja meringis perih sakit, sudah seperti di perawanin saja" tukas Robin dengan enteng nya yang membuat Elsa melongo.


"Jaga omongan kamu ya!" seru Elsa marah.


"Kenapa? Kamu merasa tersinggung? Apa kamu berteriak seperti itu saat di perrwanin?" tanya Robin lagi yang membuat Elsa menggeram marah, hal itu justru membuat Robin merasakan kepuasan tersendiri dalam hatinya.


"Aku jadi penasaran, yang merenggut kesucian kamu siapa? Jimmy atau Papa? Oh atau ada pria lain?" tanya Robin mengejek Elsa, membuat hati Elsa langsung bergemuruh dan tanpa fikir panjang Elsa langsung mengangkat tangannya dan mendaratkan tamparan sempurna di pipi Robin.


Plakkkkk


Kepala Robin terhempas ke samping saking kerasnya tamparan Elsa, sekilas Robin tampak terkejut dan marah namun kemudian ia menampilkan wajah tenangnya, bahkan ia berseringai licik sambil memegang pipinya yang terasa panas dan perih.


"Cuma segitu kekuatan mu, Els?" desis Robin "Kamu mau aku buat teriak sampai terdengar ke kampung halaman mu? Berteriak nikmat, tentunya"


Rekomendasi Novel yang sangat bagus untukmu, After Darkness, di sini dapat lihat: https://share.mangatoon.mobi/contents/detail?id\=1876400&\_language\=id&\_app\_id\=2


__ADS_1


__ADS_2