
Resepsi perkawinan belum sepenuhnya usai tetapi Nalendra sudah tak sabar. Keduanya menyelinap meninggalkan ruangan pesta. Nalendra menggendong Laras menuju kamar pengantin mereka.
Nalendra mendorong daun pintu dengan menggunakan kakinya. Tampak di depan matanya, kamar pengantin yang dihias indah.
Rangkaian bunga-bunga segar tampak menghiasi sudut-sudut ruangan. Taburan mawar merah pun menghiasi pembaringan, menghasilkan bau yang sangat harum. Warna merahnya sangat kontras dengan warna sprei yang putih bersih.
Lelaki itu merebahkan istrinya di pembaringan. Dipandanginya lekat wajah cantik itu, sosok wanita yang kini sudah sah menjadi miliknya. Rasanya hampir tak percaya, kini mereka resmi menjadi suami istri setelah begitu banyak hal yang harus mereka lewati.
Lelaki itu tak pernah menyangka kepulangannya ke Indonesia justru membuatnya menemukan jodoh. Laras Kinanti, wanita cantik yang dulunya adalah istri dari Galang, suami adik kembarnya yang sekarang pun sudah jadi mantan.
Lama dia memandang wajah itu dengan posisi tubuh membungkuk di sisi pembaringan, membuat Laras merasa jengah. Laras meraih tangan suaminya, mengecupnya dengan lembut
"Masih belum puas memandangiku, Tuan?" tegur Laras.
"Laras!" pekik lelaki itu.
Laras tertawa kecil sembari berusaha bangkit dari tempat tidur.
"Kamu mau kemana, Laras?" tanya Nalendra saat perempuan itu duduk dan bermaksud bangkit dari tempat tidurnya.
"Mau menghapus riasan di wajahku dan berganti pakaian. Gaun pengantin ini menyiksaku," gerutu Laras. "Belum lagi di acara tadi, aku harus berdiri begitu lama menerima ucapan selamat dari semua keluarga dan relasimu."
Kini dia sudah sampai di meja rias lantas duduk menghadap cermin besar. Perempuan itu mencoba melepas mahkota yang melekat di kepalanya lalu mulai menghapus semua riasan itu.
"Kamu sangat cantik, meski tanpa make up." Lelaki itu menjawil dagu istrinya. "Aku tunggu di kamar mandi ya."
"Ngapain?" tanya Laras sok polos. Dia berusaha menyembunyikan senyumnya.
"Mandi bersama, Sayang ...." Tawa Nalendra menggelegar.
Lelaki itu melepas jas yang dikenakannya dengan santai. Melucuti celana panjang dan kemejanya, hingga hanya menyisakan boxer dengan tonjolan yang terlihat jelas di selangkangannya.
Laras hanya bisa menelan saliva saat melihat semua itu. Tubuh suaminya sungguh sangat sempurna.
*****
Tak ada acara mandi bersama. Belum selesai Laras menghapus semua riasan di wajahnya, Nalendra sudah lebih dulu keluar dari kamar mandi.
__ADS_1
Perempuan itu melepas gaun pengantinnya dengan malu-malu, kemudian mengambil handuk dan bergegas masuk ke kamar mandi sebelum sang suami menerkamnya.
"Hufft ... selamat," gumam Laras. Masih berbayang di benaknya saat sang suami memandangnya dengan tatapan lapar.
Perempuan itu mulai menyalakan shower, mengguyur tubuhnya yang terasa lengket. Laras memejamkan mata membiarkan butiran air berjatuhan dan menimbulkan sensasi yang sangat menyegarkan.
Saat perempuan itu membuka mata, dia melirik sekilas ke arah bathtub yang penuh dengan air dan lagi-lagi bunga-bunga sengaja ditaburkan memenuhi permukaannya.
Seketika wajahnya merona, membayangkan sebentar lagi dia akan berendam di tempat itu sehabis ....
Laras menggelengkan kepala menanyakan pikiran liar dan kotor yang tiba-tiba saja menguasai otaknya. Dia mengambil jubah mandi, kemudian mengenakannya. Sementara kepalanya bergelung dengan handuk.
Lelaki itu sudah duduk di sisi pembaringan saat Laras keluar dari kamar mandi. Gayanya sungguh mengesankan, dengan mengenakan kaos lengan pendek dan celana pendek.
Tatapan matanya begitu liar, seakan ingin menelanjangi tubuhnya. Laras menghela nafas. Tak ingin membuat berlama-lama lagi, perempuan itu menuju kopernya bermaksud mencari pakaian ganti.
"Aduuh!" Kepalanya seketika berdenyut melihat isi kopernya. Dialah yang menyiapkan barang-barang untuk keperluan pribadinya selama berada di hotel. Akan tetapi kenapa isi kopernya hanya berisi dengan pakaian kurang bahan seperti ini?
"Kita ini menginap di sini untuk melakukan ritual malam pertama, bukan untuk piknik, Sayang." Entah sejak kapan lelaki itu berada di belakangnya.
Laras memutar kepalanya malas. "Jadi ini pekerjaan kamu?"
"Tentu saja. Memangnya siapa lagi yang tahu kode kopermu kecuali aku?" Tawanya seketika berderai, membuat perempuan itu tak sabar mencubit lengan suaminya.
"Dasar otak mesum!"
"Biar mesum, tapi sudah jadi suamimu, kan?"
Lelaki itu menarik tubuh istrinya, membawanya duduk menghadap meja rias. Dia mulai melepas handuk yang melekat di kepala istrinya, lalu mengambil hair dryer.
*****
Masih dengan mengenakan jubah mandinya Laras berdiri menghadap kaca jendela. Pemandangan sore ini begitu indah. Aktivitas orang-orang yang lalu-lalang di jalanan membuatnya tersenyum. Inilah dinamika sebuah kota yang terus berkembang sebagai kota metropolitan.
Laras membiarkan rambutnya tergerai bebas, melambai lembut bagaikan selendang bidadari.
"Apakah kamu bahagia menikah denganku?" Sebuah tangan kokoh melingkar di pinggangnya.
__ADS_1
Laras memutar tubuhnya. Gesekan antara tangan Nalendra dengan kain tipis pelapis tubuhnya membuat dadanya berdebar. Perempuan itu merasa dirinya bak perawan yang malu-malu saat disentuh untuk yang pertama kali.
"Bisa menikah denganmu adalah kesempatan terindah yang diberikan Tuhan untukku," bisik Laras.
"Aku mencintaimu, Sayang," balas Nalendra.
Wajah keduanya begitu dekat, saling menatap, menyelami kedalaman isi hati masing-masing.
"Terlebih diriku. Hanya saja aku lebih sering diam, karena tak mau perasaan itu akan jadi bumerang karena perbedaan kasta di antara kita bagaikan bumi dengan langit."
"Kasta itu berasal dari paradigma berpikir manusia, sedangkan jodoh berasal dari Tuhan. Sekuat apapun orang-orang ingin memisahkan kita, tak akan pernah bisa jikalau Tuhan sudah berkehendak untuk mempertemukan kita. Terima kasih sudah menerimaku sebagai pendamping hidupmu ...." Nalendra tak melanjutkan ucapannya lantaran jemari Laras bertengger manis di bibirnya.
Lelaki itu tersenyum menyeringai saat sepasang tangan itu melingkar di lehernya. Penerimaan yang indah. Hanya dengan sekali gerakan, Nalendra sudah membuat tubuh indah itu berada di dalam gendongannya.
Tak ada lagi kata-kata terucap, selain ******* dan erangan lirih bak instrumen lagu cinta sepasang insan yang tengah di mabuk hasrat.
Tenggelam matahari seolah menjadi penanda, tenggelamnya semua masa lalu dan cerita yang menyertainya.
Nalendra mengusap keringat di wajah Laras tatkala usai penyatuan cinta mereka untuk yang pertama kali. Wajah polos itu terlihat semakin cantik dan berkilau di bawah cahaya temaram senja. Keduanya saling menatap dengan jarak yang hanya dua jengkal. Semburat merah kembali menghiasi wajah Laras, begitu menggemaskan.
(Tamat)
Bukan benar-benar tamat ya, karena setelah ini masih ada ekstra part-nya.
Terima kasih untuk pembaca setia novel ini. Lope lope sekebon buat kalian..🥰🌷❤️
By: Jannah Zein
Jangan lupa baca karya punya temen aku yuk!
Judul : The Ugly Duckling
Napen : Black Rose
Seorang gadis dengan tubuh yang gendut, jelek, dan hitam sedang berusaha merubah takdirnya menjadi cantik dan menarik.
Saat dia berada di titik terendah dalam hidupnya, masih ada orang baik yang mau mengangkat derajatnya dan menjadikannya seorang putri. Bagaimana kisah selanjutnya? Apakah dia akan menemukan seorang pangeran tampan dan baik hati?
__ADS_1