DIA JUGA SUAMIKU

DIA JUGA SUAMIKU
Part 58 SUDAH TAHU TENTANGMU


__ADS_3

Nalendra dan Laras sampai di kantor. Kini, mereka berdua sudah sampai di ruangan Nalendra.


"Laras, sini!" Nalendra melambaikan tangannya. Pria itu duduk kursi kebesarannya, memperhatikan Laras yang sedang bersiap melakukan pekerjaan.


Laras mendongakkan wajah. Dia mengurungkan niatnya untuk membuka laptop dan memulai pekerjaan.


"Ini, kamu pilihlah sarapan yang paling kamu inginkan. Aku yang order untuk kamu." Nalendra menyodorkan ponselnya.


"Kita sudah sarapan di rumah, Tuan," bantah Laras.


"Ini bukan untukku, tetapi untukmu. Karena kamu belum sarapan dengan benar." Pria itu teringat dengan tingkah Laras di meja makan tadi di rumahnya. Tak ada secuil makanan pun masuk kedalam perutnya, kecuali beberapa teguk susu hangat. Itu pun setelah lelaki itu melotot padanya.


Laras mengambil ponsel atasannya kemudian mulai memilih daftar menu.


"Yang ini saja, Tuan. Saya sudah lama tidak memakan bubur ayam," pinta Laras.


Air liurnya hampir menetes menyaksikan kelezatan bubur ayam yang memang sangat jarang ditemuinya. Anggota keluarga Chandra lebih sering sarapan roti dan susu, mau tidak mau, Laras pun akhirnya ikut menyesuaikan.


"Oke." Lelaki itu segera melakukan order.


"Sudah aku pesan, sebentar lagi pesanan kamu pasti datang." Nalendra menatap lekat-lekat wajah cantik di dekatnya itu.


"Ada yang ingin aku bicarakan sama kamu, Laras."


Nalendra meraih tangan perempuan itu. "Aku minta maaf, karena aku ...." Nalendra menghentikan ucapannya. Pria tampan itu menatap wajah Laras yang terlihat penasaran.


"Ada apa, Tuan?"


"Beberapa hari ini aku sudah menyuruh beberapa orang untuk menyelidiki tentang kehidupanmu."


"Menyelidiki saya? Saya tidak pernah melakukan kejahatan apapun," potong Laras. Dia merasa heran sekaligus cemas.


"Sama sekali tidak ada kaitannya dengan urusan pekerjaan, Laras. Kamu adalah pekerja yang loyal terhadap perusahaan. Kinerjamu sudah tidak diragukan lagi." Nalendra segera meluruskan kesalahpahaman perempuan itu.

__ADS_1


"Aku sudah mengetahui semua tentangmu, termasuk hubunganmu dengan Galang."


Laras menatap Nalendra dengan raut wajah terkejut.


"Tuan ...."


"Aku tidak menyangka kalau suami yang kamu bilang kerja di luar negeri itu adalah Galang. Suami dari adikku, Nadine."


Nalendra menatap Laras yang masih terlihat terkejut. Pria itu mengusap tangan Laras yang berada digenggamannya.


"Sekarang tidak ada lagi alasan bagimu untuk berbohong, karena aku sudah tahu semuanya," ujar Nalendra, tanpa melepaskan pandangannya pada perempuan yang sudah mengusik hatinya.


Laras menghembuskan napas panjang.


"Aku sudah menduganya, saat Tuan mengatakan tentang Mas Galang tadi pagi saat di depan rumah." Suara Laras terdengar pasrah.


"Tuan mempunyai kekuasaan dan kemampuan untuk melakukan apa pun, termasuk mencari tahu tentang kehidupan pribadi saya." Perempuan itu tersenyum pahit.


"Cepat atau lambat, semua ini pasti akan terbongkar. Aku tidak pernah menceritakannya pada siapa pun. Aku minta maaf karena sudah membuat kekacauan dalam keluarga, Tuan. Meskipun tanpa aku sengaja. Aku tidak tahu kalau takdir justru mempertemukan aku dan Mas Galang di rumah besar keluarga Tuan Chandra." Laras menundukkan kepalanya.


Mau mengelak apapun juga percuma. Keluarga Chandra bukanlah tandingannya, apalagi Nalendra. Namun, Laras patut bersyukur. Sejauh ini dia berada dalam keadaan baik-baik saja.


"Aku akan membantumu untuk lepas dari laki-laki itu." Kata-kata Nalendra terdengar, setelah beberapa menit Laras mengakui semuanya.


"Tapi bagaimana dengan Nona Nadine, Tuan?"


"Urusan Nadine akan kita pikirkan belakangan. Oh, ya, kamu masih ingat, kan harus memanggilku apa saat kita hanya berdua?"


"Ale." Laras tersenyum.


"Gadis yang pintar." Nalendra bermaksud mencubit hidung bangir milik wanita itu, tetapi tangan Laras bergerak lebih cepat menangkap tangan besar itu sehingga mereka sekarang saling berpegangan tangan.


"Jangan menyentuhku seenaknya, Nalendra," bisik Laras penuh penekanan.

__ADS_1


Nalendra melengos saat melihat seorang OB masuk ke dalam ruangan tempat mereka berada. Laras melepaskan cekalan tangannya dan menerima bungkusan yang disodorkan oleh lelaki muda itu.


"Sekarang makan dulu, setelah itu baru kerja. Aku tidak mau ada pegawaiku yang tidak fokus mengerjakan sesuatu karena kelaparan."


***


"Dari mana saja kamu, Galang?" tegur nyonya Aline dengan muka masam. Dia sengaja menghadang laki-laki itu saat akan memasuki kamar putrinya.


"Pergi tidak memberi kabar, pulang dalam keadaan lusuh seperti ini," cibirnya. Nyonya Aline memperhatikan penampilan menantunya. Raut wajah Galang yang sedikit pucat membuat perempuan setengah baya itu mengerutkan kening.


Sebenarnya perempuan setengah tua itu merasa sedikit kasihan, tetapi ia tidak mau menampakan rasa itu di hadapan menantunya.


"Aku baik-baik saja, Mom, tidak perlu khawatir," sahutnya. Dia berdiri tegak di depan pintu.


"Muka kamu pucat. Habis dari mana?" selidik Nyonya Aline.


"Semalam aku menginap di rumah Mama, Mom. Maaf, aku tidak memberi kabar karena tiba-tiba saja Mama meminta untuk ditemani," dusta Galang meskipun tidak sepenuhnya.


"Oh, begitu? Tapi kenapa kamu sama sekali tidak memberi kabar pada Nadine?" Nyonya Aline masih saja mempermasalahkan soal Galang yang tidak memberi kabar itu.


"Sudahlah, Mom. Yang penting Mas Galang sudah pulang. Lagipula kasihan lihat mukanya begitu pucat," bela Nadine. Perempuan itu sangat heran melihat penampakan suaminya pagi ini.


"Kamu kenapa, Sayang?" Nadine melambaikan tangan menyuruh suaminya mendekat, sementara dia berusaha untuk duduk.


"Tidak apa-apa. Tadi pagi setelah bangun tidur, entah mengapa kepalaku tiba-tiba pusing, perut mual bahkan di rumah Mama tadi sudah muntah dua kali," jawab Galang sembari tersenyum paksa.


"Ya ampun, Mas. Harusnya tadi kamu istirahat dulu di rumah mama," ucap Nadine.


"Ya, seharusnya kamu istirahat dulu di rumah ibumu, asal jangan lupa memberi kabar!" sindir Nyonya Aline. Dia masih kesal dengan ulah menantunya semalam.


"Mom, sudahlah!" Nadine berusaha menengahi.


.

__ADS_1


By: Jannah Zein


__ADS_2