
Rusdi melempar gelas yang dipegangnya.
'Sialan!'
"Ada apa, Pa?"
Santi, sang istri terlihat kaget, kemudian mendekati suaminya.
"Si Galang, Ma. Bulan ini dia tidak mengirimkan jatah Laras ke rekening kita."
"Apa? Kok bisa?"
"Dia bilang, dia ingin memberikan uang itu sendiri pada Laras."
"Ya ampun, Pa. Nanti kalau Galang curiga gimana?"
"Ini juga Papa lagi bingung, Ma."
Rusdi mengepalkan tangannya.
Seorang pelayan membersihkan pecahan gelas yang berserakan.
Sepasang suami itu istri terdiam. Mereka sedang berpikir bagaimana caranya agar mereka bisa mendapatkan uang itu lagi dari Galang.
Suara dering ponsel membuyarkan lamunan mereka.
Terlihat nama Ningsih pada layar ponselnya.
"Kak Ningsih."
"Ya, sudah. Angkat saja."
"Papa saja yang angkat. Mama yakin, dia pasti mau menanyakan soal uang dari Galang."
"Mama jawab saja kalau Galang belum mengirimkan uang pada kita."
"Kak Ningsih mana percaya, Pa? Papa saja yang bicara sama dia. Mama malas berdebat dengannya." Santi memberikan ponsel itu pada Rusdi.
__ADS_1
Sementara Rusdi berdecak kesal.
Apa yang dikatakan istrinya memang benar. Kakaknya itu pasti tidak akan percaya kalau Galang tidak mengirimkan uang lagi ke rekeningnya.
"Mengangkat telepon saja lama banget sih! Memangnya kamu lagi ngapain?" Belum apa-apa, suara Ningsih menggelegar di ujung sana.
"Rusdi!"
"I, iya, Mbak. Aku dengar kok. Nggak usah teriak-teriak juga kali." Rusdi menggerutu kesal.
"Kenapa kamu belum mengirimkan uangnya?"
"Uang apa, Mbak?"
"Heh! Tidak usah pura-pura kamu, Rusdi. Uang dari Galang lah, memangnya uang apa lagi?"
"Gimana aku mau ngirim, wong si Galang saja belum transfer." Rusdi menjawab dengan kesal.
Pria berusia empat puluh tahun itu sangat kesal, saat mengingat Kalau Galang tidak akan mentransfer uang lagi pada rekening atas nama Laras.
"Apa maksudmu Galang belum transfer? Kamu jangan berbohong Rusdi, ini bahkan sudah lewat dari tanggal biasanya."
"Jangan bohong!"
"Aku tidak berbohong, Mbak. Sumpah!"
"Lagipula untuk apa aku berbohong? Toh selama ini Mbak Ningsih tahu kan, kalau aku selalu tepat waktu mengirimkan uang jika Galang sudah transfer."
"Iya, tapi kenapa sekarang kamu belum kirim uangnya?"
"Karena Galang belum mengirimnya, Mbak ...," kesal Rusdi.
"Iya, maksudku, apa alasan Galang belum mengirimkan uang itu. Bukankah biasanya dia tepat waktu?"
"Galang ingin langsung memberikan uangnya pada Laras."
"Apa?!" Ningsih berteriak kaget.
__ADS_1
"Pelan-pelan, Mbak, sakit kuping aku!"
"Kenapa Galang ingin memberikan uang itu pada Laras langsung?"
Mendengar pertanyaan Ningsih, Rusdi kemudian menceritakan semua yang dikatakan oleh Galang kemarin.
Ningsih sangat kesal, ia mengepalkan tangannya di ujung sana.
"Kenapa tiba-tiba Galang berubah pikiran?"
"Mana aku tahu, Mbak. Padahal selama ini aman-aman saja walaupun Laras sudah bekerja di rumah besar itu. Galang juga tidak pernah mempermasalahkan uang yang ditransfer nya selama ini. Apalagi nomor rekening itu kan atas nama Laras, jadi dia tidak curiga sama sekali."
"Atau jangan-jangan, sekarang Galang sudah mencurigai kita? Mungkin saja di sana Galang sering berinteraksi dengan Laras, karena itu dia mulai curiga. Bisa saja kan, Laras menceritakan semuanya pada Galang? Perempuan itu pasti mengatakan pada Galang tentang uang itu!" jelas Rusdi panjang lebar. Laki-laki itu bermaksud menghasut Ningsih, kakaknya.
"Kalau itu memang benar, berarti semua ini tidak bisa dibiarkan. Aku sudah terbiasa menerima uang banyak dari Galang. Kalau dia tidak mengirimkannya lagi, bagaimana kehidupan aku nantinya?" ucap Ningsih dengan nada kesal.
"Tapi kan, Mbak Ningsih tetap dapat duit dari Galang, walaupun Galang tidak mentransfer uang lagi ke rekening Laras. Lah, aku?"
"Memang benar, Rus, tetapi uang dari kamu itu kan lumayan buat nambah-nambah beli perhiasan aku. Kamu tahu kan, siapa aku sekarang?"
"Iya , Mbak, aku tahu. Jangankan Mbak Ningsih, aku aja sekarang lagi pusing. Kan Mbak tahu, kalau aku ini pengangguran."
"Makanya kamu cari kerja Rusdi, kamunya saja yang pemalas. giliran sekarang, kamu bingung sendiri, kan?"
"Kalau benar Galang tidak mau mengirimkan uang lagi, aku akan datang ke rumah besar itu untuk bertemu dengannya."
"Ide bagus, Mbak. Bila perlu, Mbak Ningsih temui Laras dan ancam perempuan itu biar dia tidak macam-macam sama Galang."
Panggilan telepon berakhir. Rusdi tersenyum puas.
"Gimana, Pa?"
.
By: Nazwatalita
Jangan lupa dukung Authornya dengan cara like, komen, dan votenya ya 🙏🙏
__ADS_1
Sambil nunggu up, mampir dulu yuk, ke karya temen aku.