DIA JUGA SUAMIKU

DIA JUGA SUAMIKU
Part 95 TIDAK AKAN MUDAH


__ADS_3

Nalendra berbaring di atas ranjang yang sudah lama tidak dia tempati. Selama menemani Laras, hanya beberapa kali saja dia pulang ke rumahnya.


Nalendra menarik napas panjang, ucapan Laras tentang Galang dan keinginan perempuan itu untuk fokus pada keluarganya terlebih dahulu sangat mengganggu pikirannya.


Sepertinya tidak akan mudah bagiku untuk mendekatinya.


Pria itu mengacak rambutnya, frustasi. Rasanya, baru sekarang ini pria itu merasa kesulitan mendapatkan perempuan. Jangankan mendapatkan, mendekatinya saja susah.


Selama ini mereka memang sangat dekat, tetapi Laras selalu menghindar saat dirinya ingin mengatakan perasaannya.


Dering ponsel membuyarkan lamunan Nalendra tentang Laras. Pria itu meraih benda pipih itu di atas nakas. Terlihat nama Clara tertera pada layar ponselnya.


Mau apa lagi dia?


Wajah tampan Nalendra berubah cemberut. Clara adalah salah satu teman kencannya saat dirinya masih tinggal di luar negeri. Entah kenapa, beberapa bulan ini perempuan itu selalu saja menghubunginya.


Saat dirinya baru sampai ke Indonesia, Nalendra memang masih sering berhubungan dengan Clara lewat telepon, bukan hanya Clara, wanita yang dulu pernah dikencaninya pun masih seringkali menghubunginya.


Namun, setelah mereka tahu kalau Nalendra pulang ke negaranya, akhirnya mereka pun tidak pernah menghubungi pria itu lagi. Kecuali Clara.


"Halo." Nalendra menjawab panggilan itu dengan malas.


"Halo, Sayang. Aku sudah sampai di Jakarta. bisakah kita bertemu malam ini?" Suara di seberang sana terdengar merdu dan sangat menggoda.


"Aku tidak ingin menemuimu."

__ADS_1


"Sayang-"


"Di antara kita sudah tidak ada apa-apa lagi, Clara. Berhentilah menggangguku!"


"Bagimu mungkin sudah, tetapi tidak bagiku, Sayang. Aku mencin-" Nalendra menutup panggilan teleponnya tanpa memedulikan kalau perbutatannya itu membuat marah perempuan yang meneleponnya.


Nalendra kembali menghempaskan tubuhnya di atas kasur. Bayangan wajah cantik Laras kembali memenuhi otaknya membuat pria itu kembali mengacak rambutnya karena kesal.


S**ialan kamu, Laras! Kenapa kamu belum pergi juga dari sini?


Nalendra mengumpat. Dia kembali meraih ponsel yang tadi sempat dilemparnya di atas ranjang. Membuka daftar telepon, kemudian menelepon seseorang yang sedari tadi membuatnya tidak bisa tidur.


"Halo, Laras."


***


Beberapa bulan ini, pria itu setiap pagi ke rumah mertuanya. Meskipun setiap hari mertuanya itu melarang dia datang. Namun, sepertinya Galang tidak akan menyerah kali ini.


Nadine sang istri tercinta juga tidak mau menemuinya. Perempuan itu masih marah dan kecewa juga sakit hati karena dia sudah membohonginya dan menyembunyikan pernikahannya dengan Laras.


Namun, kali ini Galang tidak akan menyerah. Pria itu tidak mau kehilangan Nadine seperti dia kehilangan Laras. Cukup sudah selama ini dia menyakiti hati Laras juga Ruby, sang putri yang belum pernah dia temui sama sekali.


Saat pulang kampung untuk menemui Laras waktu itu, Galang bermaksud ingin menemui Ruby, tetapi dengan tegas Laras melarangnya. Perempuan itu mengatakan, saatnya tidak tepat untuk menemui Ruby.


Putri kecilnya itu pasti akan merasa bingung ketika tiba-tiba seorang pria datang mengatakan padanya kalau dia adalah ayahnya. Apalagi, saat itu Ruby sangat dekat dengan Nalendra yang sudah dia anggap sebagai ayah.

__ADS_1


Walaupun dalam hati dia merasa berat, tetapi akhirnya Galang mengalah dan menuruti kata-kata Laras.


Pria itu kini merasa lega setelah bertemu dan berbicara dengan Laras. Semua beban dalam hatinya, juga rasa bersalah terhadap perempuan itu sedikit demi sedikit berkurang. Akan tetapi, rasa penyesalan tetap hinggap di hati Galang.


Setelah permasalahannya dengan Laras selesai, kini Galang fokus pada Nadine. Demi kebahagiaan Laras, meski berat Galang akhirnya melepaskan perempuan itu dan bercerai dengannya.


Seharusnya keputusan itu dia ambil semenjak dia memutuskan untuk menikah dengan Nadine. Namun, rasa cinta dan dendamnya Pada Laras saat itu membuat Galang mengulur waktu. Apalagi, ketika dia tahu kalau semua kabar tentang Laras adalah kebohongan yang sudah disusun oleh keluarganya untuk memisahkan dia dengan Laras.


Galang memacu mobilnya menuju rumah besar milik Nadia dan keluarganya. Dalam hati, dia sudah menyiapkan mental untuk mendengar kemarahan Nyonya Aline.


***


Nadine menatap pria tampan yang saat ini baru saja turun dari mobil. Seperti biasanya, pria itu selalu membuat jantungnya berdebar setiap kali melihatnya.


Galang adalah cinta pertamanya. Tak akan mudah baginya untuk melupakan pria itu begitu saja. Namun, luka yang sudah Galang berikan padanya terlalu dalam, hingga membuat Nadine sulit untuk memaafkannya.


Perempuan itu mengusap perutnya yang sudah membuncit. Kini, kehamilannya sudah berusia sekitar empat bulan.


Mama kangen sama papa, Nak, tapi Mama belum bersiap bertemu dengan papamu.


.


By: Nazwatalita


Jangan lupa like, komen, hadiah dan votenya teman-teman reader ... 🙏

__ADS_1


Aku rekomendasi lagi karya punya temenku yang nggak kalah bikin penasaran.



__ADS_2