DIA JUGA SUAMIKU

DIA JUGA SUAMIKU
Part 44 LUPAKAN


__ADS_3

Laras berusaha mendorong tubuh besar itu, tetapi tak kuasa. Tenaga Nalendra jauh lebih kuat darinya yang hanya seorang wanita.


Bibir mereka masih bertaut, bahkan laki-laki itu ******* bibirnya dengan kasar, menyesapnya, merasakan manis bibir seksi yang sering kali membuatnya menggila saat memandangnya.


Namun, tak disangka suara laknat itu terdengar dari mulut Laras. Tubuhnya merespon cepat setiap sentuhan itu. Entah kenapa sekarang dia tak lagi bisa menolak sentuhan itu. Sentuhan yang demikian memabukkan, sekaligus membuatnya nyaman.


Nalendra terus menyesap bibirnya. Mereka saling menari lidah. Namun, mendadak lift berhenti. Mereka sudah sampai di lantar dasar.


Laki-laki itu melepaskan Laras. Tangannya bergerak menyapu bibir mungil itu yang sekarang terlihat agak membengkak, lalu membuka pintu lift dan bergegas meninggalkan tempat itu.


Laras merasakan persendian tubuhnya serasa copot. Dengan tubuh gemetar, dia tetap berusaha menjinjing dua tas kerja dan keluar dari lift. Dia berusaha melangkah sebaik mungkin, menyusul Nalendra menuju parkir mobil mereka.


"Tuan," ucap Laras setelah wanita itu menempatkan tubuh di jok mobil.


"Iya," sahutnya singkat tanpa menoleh.


"Tuan, kenapa tadi ...?"


"Tidak apa-apa. Lupakan saja!" sahutnya dingin.


'Lupakan?' Laras membuang wajahnya menatap bangunan yang berjejer sepanjang jalan.


Bagaimana mungkin dia bisa melupakan sementara dia tahu lelaki yang duduk di sampingnya itu ******* bibirnya dengan rakus bahkan rasanya masih terasa hingga kini.

__ADS_1


'Jadi apa arti ciuman itu?' Laras memijat dahinya.


Perempuan itu mengibaskan rambut yang membuat Nalendra seketika menoleh. Lengkung bibirnya membentuk sebuah senyuman. Tetapi hanya sesaat. Dia kembali memasang tampang dinginnya.


"Kasihan kamu, Laras. Sebenarnya kamu wanita baik. Tapi kenapa harus terlibat masalah seperti ini?" keluh Nalendra dalam hati.


Mereka melewati sepanjang perjalanan dengan saling diam. Laras yang masih shock dengan kejadian di lift, sementara Nalendra terdiam, dia masih sibuk memikirkan adiknya.


Tiba-tiba sebuah ide cemerlang melintasi kepalanya. Laki-laki itu mengepalkan tangan.


"Tunggu tanggal mainnya, Galang!"


***


Bagas, orang kepercayaannya sudah mengirim seluruh bukti yang menguatkan bahwa Laras sama sekali tidak pernah menerima nafkah dari Galang. Nafkah itu dinikmati oleh paman dan ibunya sendiri.


"Aku sudah memegang kartu as-mu, Galang!" Bibirnya menyunggingkan senyum puas.


***


Keesokan harinya setelah meletakkan tas di meja kerjanya dan menyuruh Laras mengerjakan sesuatu di ruangan, Nalendra pun keluar. Dia melangkah menuju ruang kerja Galang yang tidak terlalu jauh dari ruang kerjanya.


Laki-laki itu segera membuka pintu, kemudian masuk dan mengunci pintunya kembali rapat-rapat. Galang yang tidak menyadari kehadiran Nalendra mendadak kaget saat lelaki bertubuh tinggi besar itu berada di hadapannya

__ADS_1


"Ale." Perhatiannya sontak teralih dari data-data yang tengah dia kerjakan.


"Mau apa kamu kemari? Urusan pekerjaan? Kalau urusan pekerjaan, kamu bisa menghubungi Vina," ucapnya.


"Vina?" Nalendra tertawa. Enak ya, orang lain kerja, kamu cuma tanda tangan. Wakil direktur macam apa kamu?" ejeknya.


Tak tahan dengan ejekan Nalendra, Galang pun berdiri. Laki-laki itu menghadap lelaki bertubuh tinggi besar yang merupakan Kakak kembar istrinya itu.


"Kamu pikir aku suka berada di tempat ini?" balasnya.


"Seandainya saja Nadine mau berada di tempat ini, aku lebih suka berada di restoranku sendiri!" tegas Galang. Dia segera menutup laptopnya, kemudian menaruhnya di dalam tas dengan gerakan tergesa.


"Jadi sekarang kamu berani sama aku ya? Mentang-mentang sekarang kamu sudah menikah dengan Nadine, jadi kamu merasa berkuasa? Iya?" Kata-kata itu penuh penekanan.


"Ale, semua orang di dalam keluargamu tahu, kalau aku ini Galang. Basic-ku adalah kuliner, bukan perusahaan media seperti yang kalian geluti saat ini."


Galang meraih tasnya. Namun, tangan kokoh Nalendra lebih dulu menangkap tangan Galang, sehingga lelaki itu mengurungkan niatnya.


.


By: Jannah Zein


Ikutin terus yuk, kelanjutannya.

__ADS_1


Jangan lupa like, komen, hadiah, dan votenya ya 🙏


__ADS_2