DIA JUGA SUAMIKU

DIA JUGA SUAMIKU
Part 51 KEBOHONGAN NINGSIH


__ADS_3

Sementara itu, di ruang kerjanya Galang tengah sibuk mengobati luka-lukanya sendiri. Luka lebam di tubuh terutama wajahnya, di bagian pipi dan keningnya. Memang tidak parah, tetapi kalau sampai ketahuan Nadine pasti akan menimbulkan sebuah kecurigaan.


Galang meringis perih. Laki-laki itu tengah menghadap cermin.


'Nalendra sialan! Berani-beraninya dia memukulku seperti ini. Awas ya, tunggu pembalasanku! Kalau aku tidak ingat kamu adalah kakak iparku, pasti sudah kuhabisi sejak tadi.'


Galang benar-benar kesal. Dia bangkit dari tempat duduknya.


Sejenak dia menatap wajahnya. Lumayan sudah lebih baik dari tadi. Namun, efek dari pukulan itu masih terlihat sisanya.


'Dengan keadaan seperti ini, aku tidak mungkin pulang ke rumah, Nadine pasti akan curiga. Sebaiknya aku pulang ke rumah mama.'


'Sekalian aku cari tahu tentang rekening Laras pada mereka!' Tiba-tiba amarahnya berkobar lagi. Galang baru menyadari kalau keluarganya adalah penyebab utama dan dalang dari semua kekacauan dalam hidupnya.


'Kenapa mama dan seluruh keluargaku tega menguasai uang Laras? Mereka bahkan sampai sengaja membuat rekening palsu atas nama Laras, apa uang yang aku berikan selama ini kepada mereka masih kurang cukup?' Galang benar-benar tak habis pikir.


Laki-laki itu keluar dari ruang kerjanya dengan wajah menunduk, dia berusaha menutupi luka di wajahnya. Dia tak ingin pegawai lain melihat bekas pukulan Nalendra yang masih tersisa di wajahnya.


Setelah menempuh perjalanan dan terjebak macet hingga puluhan menit, akhirnya dia sampai di tempat yang ditujunya.


Mang Agus bergegas membuka pintu gerbang. Galang memarkirkan mobilnya, kemudian turun dari mobil dengan langkah tergesa.


Sementara, dari dalam rumah, Ningsih yang mendengar suara mobil langsung bergegas keluar.


"Galang." Ningsih tersenyum menyambut kedatangan putranya. Perempuan itu kemudian memeluk Galang. Wajahnya berubah khawatir saat melihat keadaan Galang.


"Galang, ada apa? Kenapa muka kamu babak belur begini? Siapa yang melakukan ini padamu, Lang?" pekik Ningsih saat melihat kondisi wajah putranya. Beberapa sudut wajahnya terlihat mulai membiru.


"Nalendra tahu kalau aku dengan Laras itu sebenarnya suami istri."


"Apa?"

__ADS_1


"Bagaimana bisa? Kenapa dia bisa tahu tentang Laras? Apa perempuan itu yang memberitahukan padanya?"


Ningsih begitu emosi saat mendengar nama Laras di sebut.


Galang tak menjawab. Dia terus melangkah menuju sofa, kemudian mendudukkan tubuhnya di sana. Tubuhnya masih terasa sakit. Seharusnya sekarang dia beristirahat. Namun, sang ibu terus mengikutinya.


"Galang!" Ningsih dengan kesal mengikuti langkah Galang.


"Katakan pada Mama, apa benar perempuan itu yang telah memberitahu Nalendra?"


Galang masih tak menjawab, pria itu menyandarkan kepalanya pada sofa.


"Galang!"


"Mama sudah bilang, kan, kamu harusnya menyingkirkan perempuan itu secepatnya, agar rahasiamu aman! Tapi kenapa sampai sekarang kamu belum menyingkirkan perempuan sialan itu?"


"Galang, kalau sampai istrimu tahu tentang Laras, semua rencana kita pasti akan berantakan. Kamu bukan hanya kehilangan Nadine tapi kamu juga-"


"Galang, Mama hanya-"


"Mama!" Galang menatap perempuan yang melahirkannya itu dengan tatapan memohon.


Ningsih menghela napas panjang.


"Maafkan Mama. Mama hanya-"


Ningsih menghentikan ucapannya, saat Galang mengangkat tangannya. Perempuan itu menatap sang putra dengan raut wajah iba sekaligus penasaran.


Mereka berdua terdiam untuk beberapa saat.


"Mama sudah sering mengingatkanmu, kalau Laras itu bukanlah perempuan yang baik, tapi kamu tidak pernah mendengarkan Mama."

__ADS_1


"Kalau aku tidak mendengarkan Mama, mungkin saat ini aku sudah hidup bahagia bersama Laras." Galang menatap Ningsih yang terlihat terkejut.


"Apa maksudmu, Galang?"


"Kenapa Mama tidak pernah menyukai Laras? Bukankah Laras sangat baik pada Mama?"


"Galang, Apa maksud perkataanmu?"


"Mama sangat tahu apa yang aku maksud." Galang menatap perempuan yang sudah melahirkannya itu dengan tajam.


"Selama ini, aku terlalu bodoh karena mempercayai dan menuruti semua ucapan Mama dan Paman Rusdi."


"Galang, Mama benar-benar tidak mengerti apa yang kamu bicarakan." Ningsih menatap putranya. Perempuan paruh baya itu sedikit bingung dengan arah pembicaraan Galang.


"Kedatanganku ke sini hanya ingin menanyakan kepada Mama, apa benar nomor rekening yang diberikan kepadaku itu memang nomor rekening Laras?" tanya Galang menatap tajam ibunya.


"I-iya. Memangnya kenapa? Kamu tidak percaya?" Tiba-tiba perempuan itu gelagapan saat putranya mengungkit-ungkit soal rekening itu.


"Mama tidak berbohong?"


"A-ap-apa maksudmu, Galang? Kau menuduh Mama berbohong?" Wajah Ningsih memerah, emosinya seketika naik.


'Apa-apaan ini? Apa Galang sudah tahu yang sebenarnya? Tapi dari mana Galang tahu tentang rekening itu?'


"Kalau memang itu benar nomor rekening Laras, kenapa Laras tidak pernah menerima uang itu sepeser pun?"


.


By: Jannah Zein


Maaf baru sempat update, Author sibuk banget hari ini. Jangan lupa like komen, hadiah, dan votenya ya, biar lebih semangat nulisnya.

__ADS_1


__ADS_2