
Waktu sudah menunjukkan pukul tujuh malam saat Nalendra tiba di rumahnya, setelah ia mengantar Laras ke rumahnya seperti biasa. Lelaki bertubuh tinggi besar itu melangkah masuk. Seorang asisten rumah tangga membukakan pintu untuknya.
"Dari mana saja kamu?" tanya Nyonya Aline.
Lelaki itu menghentikan langkahnya lantaran kaget, tak menyangka ternyata mommynya berada di ruang tamu.
"Dari kantor, Mom," jawabnya.
"Dari kantor, apa dari rumah wanita itu? Kamu pikir Mommy tidak tahu jam berapa pulang kantor?" sentak wanita setengah tua itu.
Nalendra menghela napas. "Tolong jangan mengajakku berdebat lagi ya, Mom. Aku lelah sekali hari ini. Aku mau istirahat."
"Ale, duduk sini, Nak," ucap mommynya yang memaksa Nalendra menurut.
"Mom mau ngomong apa?" tanya Nalendra malas. Dia meletakkan tas kerjanya di samping sofa tempatnya duduk.
"Tolonglah, untuk kali ini kamu nurut sama Mom, Ale. Oke, kamu boleh bergaul dengan Laras, tapi tolong jangan menjalin hubungan terlalu jauh. Ingat, dia adalah mantan istri dari mantan suami adikmu!" Nyonya Aline mengingatkan.
"Aku tahu itu, Mom," sahut Nalendra serius. "Jangan pernah Mom pikir aku tidak mempertimbangkan perasaan Nadine. Sama sekali tidak."
"Terus, kenapa kamu masih mau menjalin hubungan dengan wanita itu?"
"Itu urusan pribadiku dan tak ada siapa pun yang bisa menghalangi, karena cinta itu tak bisa dipaksakan. Cinta juga tak bisa memilih ke mana ia berlabuh. Kebetulan saja aku mencintai Laras dan Laras itu adalah mantan istri Galang, mantan suami adik kembarku."
Nyonya Aline terdiam sejenak.
"Tapi sepertinya akan sulit itu, Nak. Mommy hanya ingin menjaga kondisi psikologis adikmu. Kamu tahu, adikmu merasa ditipu mentah-mentah oleh suaminya," ujar mommynya.
__ADS_1
"Bukan cuma Nadine, Mom, Nalendra juga merasa ditipu. Selama ini Galang terlihat baik dan sangat peduli dengan keluarga kita, tapi nyatanya ...." Nalendra tidak melanjutkan ucapannya.
"Nah, itu kamu tahu! Kamu bisa bayangkan kalau seandainya kamu menikah dengan Laras dan membawa Laras ke rumah ini, bagaimana perasaan adikmu? Apalagi, katanya wajah putri Laras itu mirip dengan Galang." Nyonya Aline menggelengkan kepala. Dia sangat ingin agar pikiran anak laki-lakinya itu terbuka.
"Mom, masalah itu dihadapi, bukannya dihindari. Walaupun aku tidak menikah dengan Laras sekalipun, tetap saja ada kemungkinan Galang akan menemui Nadine dan itu akan tetap mengingatkan dia pada suaminya."
"Lagi pula Nadine sedang mengandung. Mama mikir nggak, itu anak siapa? Anak Galang, Mom. Setiap saat, Nadine pasti akan teringat dengan Galang. Nadine itu tidak butuh untuk melupakan Galang, tetapi yang dia butuhkan adalah cara melupakan sakit hatinya. Itu yang paling penting harus Mom lakukan, bukannya malah menantang hubunganku dengan Laras!"
Nalendra berbicara panjang lebar.Tiba-tiba sebuah pemikiran terlintas di otaknya.
"Berhubung Mommy membahas tentang Laras, sekalian saja aku ingin meminta izin pada Mommy dan Daddy, kalau aku berencana untuk menikahi Laras.
Nyonya Aline semakin terkejut.
"Apa? Menikah? Nalendra, kau-"
"Rasanya aku sudah tidak bisa menunggu lebih lama lagi, Mom." Lelaki itu teringat dengan kemesraannya bersama Laras di apartemen.
"Kalau kamu menikah dengan Laras, bagaimana dengan Nadine? Mommy tidak bisa membayangkan seandainya dia punya kakak ipar mantan istri dari suaminya," ujar nyonya Aline. Mukanya terlihat sedih.
"Aku bisa menjauhkan Laras dari Nadine untuk sementara waktu, Mom. Percayalah! Kekhawatiran Mommy sama sekali tidak beralasan."
"Tapi mau sampai kapan? Cepat atau lambat, Laras harus bisa masuk ke dalam keluarga kita nantinya. Bukan cuma soal Nadine, tapi bagaimana seandainya orang-orang tahu siapa sebenarnya istrimu? Ingat, istrimu adalah mantan istri pertama suami adikmu. Orang-orang akan berpikir kamu adalah perebut istri orang, Nalendra. Ini memalukan!" Suara perempuan setengah baya itu kembali meninggi.
Lelaki itu tertawa keras.
"Kenapa Mommy berpikir sampai sejauh itu? Padahal semua itu hanya alasan Mommy saja, kan, agar aku tidak berhubungan dengan Laras?"
__ADS_1
"Bisakah Mommy tidak bersikap egois kali ini?"
"Nalendra, Mommy-"
"Terus saja memikirkan perasaan Nadine, Mom, apa Mommy lupa, kalau Mommy juga punya aku? Aku juga ingin bahagia Mom!"
"Ale ...."
Nalendra beranjak pergi meninggalkan sang Mommy dengan perasaan kesal.
Sementara di ujung tangga, Nadine terpaku, mendengar perdebatan antara Nalendra dan Mommynya.
.
By: Jannah Zein
Jangan lupa like, komen, hadiah dan juga votenya ya teman-teman 🙏
Baca juga karya temen author yang satu ini ya teman-teman,
Alice pernah mengalami kecelakaan, hingga membuat sebagian Wajahnya terluka.
Semenjak itu, dia harus menerima cacian dan hinaan dari semua orang. Bahkan sang kekasih pun akhirnya memutuskan hubungan secara sepihak karena wajah buruknya.
Namun, diam-diam ada pria yang selalu membantu Alice.
Bagaimanakah percintaan Alice selanjutnya? Apakah pria itu akan menampakkan diri dan membantu Alice mengubah takdirnya?
__ADS_1
Terima kasih.