DIA JUGA SUAMIKU

DIA JUGA SUAMIKU
Part 25 BIMBANG


__ADS_3

"Paman, apakah benar foto yang kemarin Paman kirimkan itu adalah foto Ruby?"


"I-iya, Galang." jawab sang paman gugup.


"Memangnya kenapa? Kamu tidak percaya dengan Paman? Itu kan memang benar fotonya Ruby. Anaknya Laras," lanjutnya.


"Oh, Paman tahu, kamu pasti tidak percaya ya, karena wajah anak itu tidak ada mirip-miripnya sama kamu. Jelas saja dia tidak mirip sama kamu, Lang. Dia kan bukan anak kamu!" Paman mencoba memprofokasi.


"Aku hanya ingin memastikan saja, Paman. Biar aku punya alasan untuk mengusir Laras dari rumah itu," ujar Galang bersemangat. Dia mulai memancing laki-laki tua itu.


"Benar, Galang! Usir saja wanita itu dari rumahmu. Dia hanya akan menjadi penghalang buat kamu!" dengus laki-laki itu.


"Penghalang apa maksud Paman?"


"Galang, Galang, masa kamu tidak mengerti sih? Biar bagaimanapun, Laras itu kan masih istri kamu. Seandainya nanti dia membongkar rahasia tentang pernikahan kalian di depan keluarga barumu gimana?"


"Apalagi sekarang kamu sudah kaya raya. Orang seperti Laras itu hanya menginginkan harta, Galang. Buktinya, walaupun dia sudah mendapat uang bulanan dari kamu, dia tetap saja selingkuh kan?"


Amarah Galang berkobar mengingat hal itu. Namun, dia tetap bersikap tenang.


"Ingat, Galang, jangan sampai dia bersikap macam-macam dan membahayakan posisimu di sana!"


"Tidak, Paman. Laras tidak macam-macam, dia malah bersikeras meminta cerai."


"Benarkah? Bukannya itu bagus? Kalau begitu, apa masalahnya?"


"Masalahnya, Paman. Aku tidak punya bukti untuk menggugat dia ke pengadilan agama."


"Mama, Paman dan semua keluarga memang menceritakan keburukan dan perselingkuhan Laras, tapi mana buktinya? Apa kalian mempunyai bukti kongkritnya?"

__ADS_1


"Tapi bukankah foto Ruby itu bisa menjadi buktinya? Foto yang Paman berikan padamu merupakan bukti bahwa anak Laras itu bukanlah anakmu!" Suara sang paman berapi-api.


"Kalau anak itu bisa menjadi bukti perselingkuhan Laras, berarti aku harus melakukan tes DNA untuk memastikan kalau anak perempuan itu bukanlah anakku, Paman."


"Nanti kalau pekerjaanku tidak menumpuk, aku akan ke sana untuk mencari bukti perselingkuhan Laras. Dengan begitu, aku bisa menggugat cerai wanita itu. Selama aku tidak memiliki bukti yang kuat, aku tidak bisa menceraikan Laras ataupun mengusir dia dari rumah itu."


Galang berucap santai, dia tidak tahu kalau kata-kata yang dia ucapkan itu membuat seseorang di seberang sana hampir saja menjatuhkan ponsel yang menempel di telinganya saking terkejut.


"Ingat, Paman, rumah itu bukan rumahku. Itu rumah Nadine, rumah ayahnya Nadine, Tuan Chandra. Kekayaan yang kumiliki saat ini bukan kekayaanku, aku hanya menumpang. Mereka bisa saja menendangku kapan saja kalau aku ketahuan," ujar Galang.


"Justru karena itu, buruan kamu ceraikan Laras. Jangan sampai kamu ketahuan istri dan mertuamu disana," desak pamannya.


"Kamu tidak perlu pulang kampung. Paman yang akan urus perceraian kamu disini!"


"Tidak bisa, Paman. Aku akan pulang kampung untuk mencari bukti perselingkuhan Laras dan menemui anak itu," tegas Galang membuat sang Paman semakin gusar.


Untuk beberapa saat, mereka berdua terdiam. Sampai akhirnya, suara sang paman kembali terdengar.


"Belum, Paman. Rencananya sepulang dari kantor nanti, aku mau langsung memberikan uang bulanan itu pada Laras."


Semenjak Laras menyangkal tentang uang bulanan yang dia berikan selama ini, Galang memang bermaksud memberikan uang itu langsung pada Laras, agar perempuan itu tahu kalau dia benar-benar tidak pernah berbohong tentang jatah bulanan yang selama bertahun-tahun dia kirim buat Laras.


"Kok begitu, Galang?" Suara laki-laki itu bernada terkejut.


"Memangnya kenapa, Paman?"


"Ti- tidak! Tidak apa-apa. Memangnya kamu yakin, Laras akan mengirimkan uang pemberianmu itu kepada ibunya?"


"Apa maksud, Paman?"

__ADS_1


"Ya, bisa saja dia malah menikmati uang pemberian kamu itu dengan selingkuhannya, bukan?" Sang paman mencoba memprofokasi.


"Selingkuhan yang mana, Paman? Di sini Laras hanya bekerja dan aku melihat kelakuannya setiap hari seperti apa."


"Lagipula, apa bedanya dengan transfer dan memberikannya langsung? Toh uangnya tetap saja Laras yang terima bukan? Masalah dia mau memberikan pada ibunya atau tidak, itu adalah urusan Laras. Tugasku hanya memberi nafkah pada Laras, setelah itu, terserah dia mau memberikan uang itu pada siapa." Galang sedikit kesal mendengar ucapan sang paman.


"Ta-tapi, Lang-"


"Maaf, Paman, aku mau lanjut kerja dulu ya, salam buat bibi."


Galang menutup panggilan begitu saja tanpa menunggu jawaban dari seberang sana. Sekilas dia menangkap kekecewaan dari nada suara sang paman.


"Ah, ada apa ini?" Galang tak habis pikir.


*****


Malam ini Galang kembali mengendap-endap memasuki kamar Laras. Dia seperti maling saja. Sepasang matanya liar menatap sekelilingnya.


Suasana sepi. Tampaknya semua orang sudah tertidur terlelap. Dengan gerakan perlahan, dia mulai membuka pintu kamar itu, kemudian menutupnya rapat-rapat.


Sesosok tubuh molek kini berada di hadapannya. Laras tertidur tanpa menggunakan selimut. Baju tidur tipis tanpa lengan yang dipakainya tersingkap, hingga lekuk tubuhnya yang indah terekspos dengan jelas.


Galang menelan salivanya. Pria itu teringat percintaan panas mereka kemarin malam ....


.


By: Jannah Zein


Jangan lupa dukung author dengan cara like, komen, dan votenya ya teman-teman 🙏🙏

__ADS_1


Sambil nunggu up, kalian boleh mampir ke karya temen aku yang nggak kalah keren.



__ADS_2