
Nalendra sejenak terpaku menatap perempuan dalam dekapannya itu.
"Ya Tuhan, betapa seksinya bibir perempuan ini," gumam Nalendra dalam hati. Dadanya bergejolak merasakan hasrat yang tiba-tiba saja membuncah.
"Gimana rasanya bibir itu? Apakah manis? Hmmm ..." Dia meneguk salivanya. Tenggorokannya mendadak terasa kering.
Dia menikmati pemandangan yang tersaji begitu dekat dengan matanya.
Sosok wajah cantik Laras dengan rambut hitam tergerai panjang itu begitu dekat, nyaris tanpa jarak. Aromanya bahkan membius indera penciumannya. Seraut wajah tanpa riasan berlebihan, sangat natural.
Nalendra merasakan sesuatu yang berbeda.
Berapa puluh detik telah berlalu. Laras yang segera menyadari keadaan memutus kontak dengan Nalendra, lalu melepaskan tangannya dari baju pria itu.
"Ayo, kita pulang, Tuan." Suara lirih itu menyadarkan Nalendra. Dia kembali memasang ekspresi wajah dingin.
"Baiklah. Ayo kita pulang!" Laki-laki itu kembali melangkah dengan cepat seolah tak pernah terjadi apa-apa. Laras berlari-lari kecil mengiringi di belakang sembari membawa tas kerjanya dan juga tas kerja Nalendra.
Suasana di mobil jadi terasa canggung. Nalendra dan Laras duduk berdampingan, tetapi dengan posisi yang agak berjauhan. Mereka terdiam. Tak ada percakapan sepanjang perjalanan sore ini. Nalendra masih dengan sikap dingin-nya, sementara Laras memilih bermain ponsel.
"Ruby, putriku," bisik hatinya saat melihat foto sang putri yang dikirim oleh adiknya dari kampung.
"Itu siapa?" Tiba-tiba suara Nalendra kembali terdengar. Pria itu mendekatkan tubuhnya dan mengamati ponsel yang masih berada di genggaman Laras.
Sepasang netranya menangkap sosok anak perempuan yang terlihat sangat manis.
"Ini siapa? Keponakanmu?" Nalendra mengamati penampilan Laras. dia menaksir usia perempuan yang duduk di sampingnya itu sekitar dua puluh satu tahun.
Laras menggelengkan kepala. Nalendra mengerutkan kening. "Lantas siapa, kalau bukan keponakanmu? Adikmu?" tanyanya lagi
Laras kembali menggeleng. "Bukan, Tuan."
"Lantas siapa?" Lelaki itu mendesak. Entah kenapa tiba-tiba ia merasa tertarik untuk menanyakan ini. Padahal sebenarnya tidak penting juga baginya.
"Tuan, ini adalah putri saya," ucap Laras pelan.
"What?" Laki-laki itu langsung mencondongkan badan, mendekatkan telinganya ke arah mulut Laras.
"Iya, benar, Tuan. Ini adalah putri saya. Dia baru berusia 4 tahun."
"Oh, ya? Semuda ini kamu sudah punya anak, Laras?" Nalendra menatap Laras.
__ADS_1
"Aku pikir kamu belum menikah." Ada sedikit rasa tidak rela dalam hati Nalendra saat mendengar kalau perempuan itu sudah menikah.
Sementara Laras tersenyum tipis
"Saya menikah saat umur saya delapan belas tahun, Tuan."
"Hah?!
Laras tersenyum melihat keterkejutan Nalendra.
Pria itu menyandarkan kepalanya pada jok mobil. Dia menangkap perubahan raut wajah Laras yang tampak sangat bahagia.
"Kamu terlihat begitu menyayanginya," komentarnya. Dia kembali mengarahkan pandangannya menatap jalanan di depan mereka.
"Setiap Ibu pasti akan menyayangi putrinya, apalagi dia gadis kecil yang cantik."
Laras segera menarik ponsel dari hadapan laki-laki itu, lantas mematikannya dengan terburu-buru, saat dia teringat wajah Ruby yang begitu mirip dengan Galang. Dia sudah berjanji untuk tidak membuka rahasia ini kepada siapapun. Jangan sampai Nalendra mengenali wajah Ruby dan mulai curiga dengannya.
"Oh, ya, putrimu sekarang tinggal sama siapa?" tanya Nalendra.
"Dengan ibu dan adik saya, Tuan. Tinggal di kampung," jawabnya sekedarnya.
"Lalu ... suamimu?" Nalendra terlihat sangat berat saat mengatakan kata 'suami' pada Laras. Entahlah! Rasanya dia masih belum percaya kalau perempuan di depannya ini sudah menikah.
"Di mana suamimu? Kenapa dia membiarkanmu bekerja dan meninggalkan anakmu? Bukankah anak seumuran anakmu itu seharusnya masih sangat membutuhkan kasih sayang ibunya?"
"Ma-maaf, Tuan. Bisakah saya tidak menjawab pertanyaan, Tuan?" Laras menatap Nalendra sedikit takut. Demi apa pun, dia tidak ingin menceritakan tentang kehidupan pribadinya kepada siapa pun, termasuk bos tampannya ini.
Nalendra menatap Laras sekilas. Wajah perempuan itu langsung berubah. Seperti ada banyak kesedihan tersimpan di sana.
"Baiklah!"
Nalendra kemudian terdiam. Pandangannya menatap ke arah jalanan, tetapi, ada sesuatu yang berkecamuk dalam hatinya.
"Kamu wanita yang hebat, Laras!" pujinya tanpa sadar.
"Sa-ya hebat, Tuan?" ulang Laras terbata-bata. Baru sekarang ada pria yang memujinya.
"Iya, kamu berani merantau jauh ke Ibu kota untuk menafkahi putrimu dan juga keluargamu," sahutnya masih dengan tanpa menoleh kepada lawan bicaranya.
"Terima kasih, Tuan." Laras tertunduk.
__ADS_1
"Tak apa. Kamu bekerja yang benar ya, biar putrimu memiliki masa depan."
Laras mengangguk sesaat, sebentar kemudian, mobil yang mereka tumpangi telah sampai ke halaman rumah.
Keduanya pun segera keluar lewat pintu yang berbeda. Nalendra yang melangkah di hadapannya dan Laras menyusul di belakang dengan menjinjing tas kerjanya dan juga tas kerja Nalendra.
"Taruh saja tasku di ruang kerja, Laras. Setelah itu kamu boleh beristirahat," perintah Nalendra.
"Baik, Tuan."
Laras memasuki ruang kerja Nalendra dan menaruh tas itu di atas meja kerjanya. Sementara Nalendra masuk ke dalam kamar pribadinya.
Huffhtt!
Akhirnya pekerjaannya selesai. Laras merasa lega. Dia melangkah riang menuju kamarnya.
*****
Tak sampai satu jam, perempuan itu kembali keluar dari kamarnya. Penampilannya terlihat lebih segar sehabis mandi dan berganti pakaian. Dia melangkah menuju dapur.
"Masak apa, Bi?" tegur Laras saat melihat bi Minah sedang sibuk memasak, menyiapkan menu makan malam bagi keluarga itu.
"Lagakmu, Laras. Sudah seperti nona saja di rumah ini! Enak ya, mau makan tinggal makan doang, nggak perlu repot masak!" gerutu Eneng. Perempuan itu kebetulan lewat dan mendengar pertanyaan Laras yang sebenarnya ditujukan untuk bi Minah.
"Eneng!" tegas perempuan berusia setengah abad itu.
"Memasak Itu sudah tugas Bi Minah, bukan tugas Laras. Laras itu punya tugas sendiri," ucapnya.
"Iya, sih, tapi nggak segitunya juga kali? Masa iya setelah jadi asisten Tuan Nalendra, Laras tidak mau lagi bantu kita memasak?" rajuk Eneng.
"Eneng, kita ini sebenarnya sama saja," jelas Laras.
"Menjadi asisten pribadi Tuan Nalendra itu juga tidak mudah. Aku sendiri pun masih banyak belajar dari Beliau."
"Nggak ada pekerjaan yang mudah, Eneng."
"Iya, memang nggak ada pekerjaan yang mudah, tapi kamu beruntung karena bisa dekat dengan Tuan Nalendra. Untung banget sih kamu!"
.
By: Jannah Zein
__ADS_1
Jangan lupa dukung Authornya dengan cara like, komen, dan votenya ya, mau kasih gift juga boleh 🙏🙏🙏